<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760</id><updated>2011-04-21T19:54:01.627-07:00</updated><title type='text'>Wisdom of Life</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-5707497678129595418</id><published>2009-01-17T09:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T09:20:23.603-08:00</updated><title type='text'>Renungan Akhir Tahun</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Waktu adalah sesuatu yang tak terbendung, ia akan terus bergerak sekalipun kita telah lelah untuk beranjak dari tempat kita berdiri, ia akan terus melangkah ke depan sekalipun kita telah kehilangan semangat dalam mengarungi kehidupan ini.&lt;br /&gt;Tapi inilah realitas dari kehidupan, ketika kita merasa telah berjuang begitu keras, ternyata masih banyak kerikil tajam yang masih mengganjar di setiap langkah kita, ketika kita telah berupaya, masih ada kegagalan yang menghampiri kita, masih ada tangis yang mengiringi jalan kita, masih banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kita, apalagi ketika kita memasuki tahun-tahun penuh tantangan seperti ini.&lt;br /&gt;Di keluarga, ketika kita didudukan sebagai anak, kita merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua, dan sebaliknya sebagai orang tua, kita merasa anak zaman sekarang sangat sulit dididik, walaupun kita telah berupaya melakukan terbaik untuknya, lalu ketika usia kita beranjak senja, sebagai opa dan oma, kita merasa ditinggali dan terabaikan, kita kesepian.&lt;br /&gt;Di pekerjaan, ketika kita didudukan sebagai karyawan, kita merasa tenaga kita telah diperas habis oleh perusahaan dan sebaliknya sebagai pemilik perusahaan, kita merasa karyawan kita kurang berdedikasi dan tidak bertanggungjawab, dan hanya pintar menuntut.&lt;br /&gt;Dan ketika hal itu terjadi pada diri kita, ketika kita dibenturkan dengan masalah-masalah tersebut, kita merasa sebagai makhluk yang paling malang, sebagai insan yang paling menderita di dunia.&lt;br /&gt;Kita pun segera bertanya-tanya, mengapa alam begitu tidak adil, mengapa kita harus terlahir menanggung derita-derita yang berkepanjangan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika rentetan peristiwa datang bertubi-tubi dan pertanyaan itu tak terjawabkan, kita dilanda rasa frustasi yang teramat sangat, kita merasa begitu lelah, kita merasa terabaikan, tubuh kita seakan mati rasa, denyut nadi kita berhenti sesaat, kita segera terjebak dalam ruang gelap yang tidak pernah kita tahu kapan berakhirnya.&lt;br /&gt;Lalu, sebelum semuanya semakin kelam, mari kita katup mata kita dan buka hati kita, mari kita manfaatkan waktu ini untuk merenung, menelaah dan mencari pencerahan dari cerita kecil ini, sang tukang kayu dalam kisah ini  mungkin akan membangunkan hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, seorang tukang kayu yang telah kelelahan berkarya ingin segera menjalani kehidupan pensiunnya, sejak awal dia adalah tukang kayu yang berbakat, tukang kayu yang berdedikasi tinggi atas pekerjaannya, tukang kayu yang bertanggung jawab penuh.&lt;br /&gt;Ketika ia menyampaikan keinginannya kepada Sang Tuan, ia malah diberi tugas terakhir sebelum pensiun, sang Tuan ingin ia membuat sebuah rumah megah untuknya.&lt;br /&gt;Tukang kayu yang berbakat itu tiba-tiba berubah, ia menjadi tukang kayu yang sembrono, tukang kayu yang asal-asalan. Pukulan palu yang harus ia ayunkan tiga kali, hanya ia ayunkan satu kali, itu pun ia lakukan dengan tidak sepenuh hati. Dengan terpaksa ia menyelesaikan tugas terakhirnya, ia merasa Sang Tuan tidak lagi berpihak padanya, ia sungguh kecewa. Dan kekecewaannya ia lampiaskan pada pekerjaanya.  Sebuah “Rumah Mewah” yang jauh dari arti “Mewah ”  akhirnya selesai tepat waktu.&lt;br /&gt;Ketika hari pensiun tiba, sang tukang kayu akhirnya mendapat sebuah amplop yang berisi sejumlah uang pensiun dan sebuah “KUNCI” rumah.  Ketika ia menerimanya segera ia tersadar, ternyata kunci yang digenggamnya adalah kunci dari “Rumah Mewah” yang baru selesai dibangunnya. &lt;br /&gt;“Hadiah special ini dipersembahkan padamu, karena kerjamu yang luar biasa dan berdedikasi selama bekerja di sini.” Kata Sang Tuan.&lt;br /&gt;Lalu, sang  tukang kayu hanya mampu melihat kunci rumah itu dengan “PENYESALAN”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita seperti tukang kayu ini, kita kadang-kadang lupa bahwa kita adalah pembuat rumah untuk diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Ketika kita membangun rumah masa depan kita dengan sembrono, kita akan mendapatkan rumah yang mungkin kita tidak sukai, tapi itulah rumah yang harus kita tempati, rumah yang kita bangun dengan ayunan tangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita boleh merasa kecewa ketika kita mendapati kenyataan bahwa rumah kita tidak seindah yang kita impikan, bahkan reok.  Kita boleh merasa kecewa ketika kita harus melalui kehidupan yang tidak menyenangkan, tapi inilah realitas hidup, sedih yang berkepanjangan tidak akan mengubah rumah yang telah kita bangun dengan tangan kita sendiri, oleh karma yang telah kita tanamkan.&lt;br /&gt;Lalu, mari kita kembali pada kehidupan kita yang keras, yang penuh tantangan, ketika segalanya berubah menjadi kacau dan tidak terkendali, ketika kita begitu frustasi.&lt;br /&gt;Ingatlah, ketika kegelapan itu datang, Buddha Dharma masih memberikan telau harapan bagi kita, memberikan cahaya dalam langkah panjang kita dalam kehidupan ini, karena tidak ada yang abadi, demikian juga dengan masalah, semuanya pasti akan berlalu.&lt;br /&gt;Saat ini, kita masih diberi waktu untuk mengubah rumah masa depan kita, kita masih diberi waktu untuk memperindah setiap sudut ruangan hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kembali renungkan apa yang telah kita perbuat selama ini, bagaimana kita membangun rumah kita, seberapa baik kita telah membangun masa depan kita?&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, kita dapat membangun rumah kecil kita melalui hal-hal sederhana, kita dapat membangunnya melalui pelukan kita pada mama, melalui secangkir kopi yang kita suguhkan pada papa, melalui kecupan selamat pagi untuk pasangan kita, atau melalui aluran tangan kita untuk menuntun bocah-bocah kecil kita.&lt;br /&gt;Ketika damai dalam rumah kecil itu tercipta, kita akan mampu memancarkan cahaya kasih yang terbentuk dari rumah ini melalui uluran tangan kita bagi mereka yang membutuhkannya, kita juga akan mampu membangun kesempatan untuk tumbuh dan berkembang, kesempatan untuk membangun rumah yang jauh lebih besar dan megah,  yang dapat memberikan kehangatan kasih bagi insan-insan yang mendiaminya. Ketika hal itu tercipta, semua akan terasa indah, masalah yang datang bertubi-tubi akan menjadi batu asah dalam memperindah kualitas hidup kita.  Beban berat yang kita pikul akan menjadi lebih ringan, karena tangan-tangan kasih dari ayah bunda, saudara, kerabat dan teman akan membantu kita melaluinya. Dan kita pun akan menjadi kokoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kesempatan ini, ketika kita  masih ada waktu, selama kita masih diberi kesempatan untuk berbagi kasih, mari kita lakukan hal-hal sederhana itu sekali lagi.  Mari peluk Mama yang di samping kita dan nyatakanlah cinta kita, mari kita kecup kening bocah kecil kita, mari kita genggam tangan pasangan kita dengan mesra, mari kita jabati teman kita dan katakan betapa kita menghargai persahabatan itu dan mari kita maafkan mereka yang pernah menyakiti kita.&lt;br /&gt;Yakinlah, bahwa rumah kita akan semakin ceria dan penuh kasih, rumah kita akan semakin indah di tahun baru ini.&lt;br /&gt;Ketika kita telah mampu membangun rumah kecil kita dengan indah, kita juga akan dapat membangun keindahan dunia ini, kita akan mampu menghadirkan surga untuk kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabbe satta bhavanthu sukhi tatha.&lt;br /&gt;Semoga semua makhluk hidup berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam pencerahan&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-5707497678129595418?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/5707497678129595418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=5707497678129595418&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/5707497678129595418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/5707497678129595418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2009/01/renungan-akhir-tahun.html' title='Renungan Akhir Tahun'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-2247224817422437255</id><published>2009-01-17T09:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T09:19:23.010-08:00</updated><title type='text'>Seni Berucap</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa yang kita rindukan dari setiap lantunan kata-kata yang terdengar oleh telinga kita?&lt;br /&gt;Kita semua mungkin setuju jika kata-kata yang kita rindukan itu adalah kata-kata yang indah pada awalnya, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya, yang selanjutnya mendatangkan rasa kebahagiaan dalam diri kita. (Karena keindahan selalu memberikan rasa sejuk dan kenyaman bagi yang menikmatinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita setuju bahwa kerinduan akan kata-kata indah adalah kerinduan kita semua, maka langkah berikutnya adalah kita harus sering mendengarkan kata-kata indah itu, terutama dari mulut kita sendiri, dari ucapan kita sendiri (bukan malah memaksa orang lain untuk mengeluarkan kata-kata indah itu untuk kita)&lt;br /&gt;Ada dua alasan mengapa harus dimulai dari mulut kita sendiri.&lt;br /&gt;Pertama, karena mulut yang paling dekat dengan pendengaran kita dan selalu mengikuti kemana kita berada adalah mulut kita sendiri.&lt;br /&gt;Kedua, karena keindahan kata-kata kita akan mengundangkan kehadiran kata-kata indah dari mulut orang lain, bahkan dari musuh kita sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah kitab kuno berbahasa pali disebutkan bahwa dalam Seni Berucap setiap kata-kata yang terlantun harus melewati  4 (empat) saringan Utama.&lt;br /&gt;Saringan pertama adalah &lt;strong&gt;saringan KEBOHONGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika kata-kata melewati saringan ini, maka yang keluar hanyalah Kejujuran, yang menjadi dasar dari KEPERCAYAAN.&lt;br /&gt;Saringan kedua adalah &lt;strong&gt;saringan FITNAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika kata-kata melewati saringan ini, maka racun-racun perselisihan dan hasutan akan tersaring, dan kita akan mendengar PENGHIBURAN.&lt;br /&gt;Saringan ketiga adalah &lt;strong&gt;saringan KATA KASAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika kata-kata melewati saringan ini, maka yang keluar hanyalah kata-kata halus yang menyejukan, tidak ada kata yang terasa pahit dan menyakitkan hati.&lt;br /&gt;Saringan keempat adalah &lt;strong&gt;saringan OMONG KOSONG (tak bermanfaat)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika kata-kata melewati saringan ini, gosip dan ngerumpi akan tersaring, kita akan mendengar kata-kata yang bermanfaat, yang membangkitkan semangat, yang me-MOTIVASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati 4 saringan besar ini, kata-kata kembali harus melewati saringan halus.&lt;br /&gt;Saringan halus pertama adalah &lt;strong&gt;Saringan SASARAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata harus ditujukan pada pendengar yang tepat, sebagai contoh ketika bahasa tingkat Kuliah diberikan kepada anak TK maka kata-kata itu menjadi tiada arti, atau sebaliknya.&lt;br /&gt;Saringan halus kedua adalah &lt;strong&gt;Saringan WAKTU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata harus diucapkan pada saat dan moment yang tepat, sebagai contoh ketika meminta sesuatu kepada seseorang yang sedang emosi, cenderung permintaan kita akan sulit dikabulkan.&lt;br /&gt;Saringan halus ketiga adalah&lt;strong&gt; Saringan TEMPAT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata harus diucapkan pada tempat yang tepat, sebagai contoh mari kita bayangkan jika masalah keluarga kita ucapan di forum meeting perusahaan, hal ini tentu saja akan menjadi tertawaan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saringan berikutnynya adalah Saringan tambahan, yang membuat Kata-kata semakin Indah terdengar dan lebih bermakna.&lt;br /&gt;Saringan tambahan pertama adalah &lt;strong&gt;Saringan BAHASA TUBUH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bahasa tubuh menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pendengar (kecuali pendengarnya adalah buta), sikap tubuh kita ketika sedang meminta tidak akan sama dengan sikap tubuh kita ketika hendak memberikan sesuatu. (ketika hal itu dilakukan, cenderung permintaan kita tidak akan terkabulkan)&lt;br /&gt;Saringan tambahan kedua adalah &lt;strong&gt;Saringan INTONASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nada pengucapan juga memegang peranan tak kalah pentingnya, seperti contoh di atas,  ketika dalam posisi meminta intonasi kita cenderung lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati 4 Saringan Utama,  3 Saringan Halus dan 2 Saringan Tambahan, kata-kata akan mengalir dengan Indah, inilah letak seni Berucap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-2247224817422437255?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/2247224817422437255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=2247224817422437255&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/2247224817422437255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/2247224817422437255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2009/01/seni-berucap.html' title='Seni Berucap'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-3886223517769061510</id><published>2009-01-17T09:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T09:18:00.246-08:00</updated><title type='text'>Transformasi ke Alam Bawah Sadar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam berbagai kesempatan saya sering mendengar bahwa kita hanya menggunakan 10 % dari seluruh kekuatan kita, 90% lainnya tertidur di alam bawah sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pertanyaan muncul, bagaimana kita memanfaatkan 90% lagi kekuatan kita yang berada di alam bawah sadar? Kadang-kadang kekuatan itu muncul dipicu oleh daya yang super kuat dari luar, sering kali kekuatan itu menstimulasi organ-organ tubuh kita menjadi perkasa dan dalam banyak kasus pemicu itu berasal dari  Dorongan PRIMITIF,  yaitu “Insting untuk mempertahankan Hidup”&lt;br /&gt;Seorang nenek tiba-tiba saja mampu mengangkat TV tinggi-tinggi dan menyelamatkannya dari  kobaran api  dalam bencana kebakaran atau seorang bocah yang tiba-tiba mampu melewati pagar setinggi 2 meter ketika dikejar oleh segerombolan anjing galak adalah bentuk contoh Pengaktifan kekuatan bawah sadar oleh insting primitif kita, insting untuk mempertahankan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik, sering kali hal tersebut mampu memancing bangkitnya kekuatan dari alam bawah sadar kita,  insting ini segera mengaktifkan tombol-tombol dalam system pertahanan diri ketika merasa terancam, yang segera mengumpulkan energinya dan menjadikan diri kita menjadi kuat.&lt;br /&gt;Sebenarnya kita juga dapat mengaktifkan tombol-tombol itu secara sadar melalui tahapan pembelajaran, kita dapat memindahkan informasi-informasi yang ada ke alam bawah sadar, dan dijalankan di sana sehingga energi Alam SADAR kita masih bisa kita manfaatakan untuk hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transformasi Data Base ke dalam alam bawah sadar&lt;br /&gt;Pada proses ini kita mengenal 4 tahapan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan pertama kita sebut sebagai tahap Belenggu Kebodohan, yaitu tahapan KETIDAKSADARAN atas ketidaktahuan.  Sering kali pada tahapan ini kita merasa serba tahu, kita merasa hebat, kita tak menyadari ketidaktahuan kita, kita tak menyadari kebodohan kita,  sering kali pada tahapan ini kita tidak mau bersinggungan dengan apa yang kita sebut BELAJAR, kita enggan mencari tahu hal-hal di luar dari pengetahuan kita, sampai akhirnya kita menemukan tahapan kedua.&lt;br /&gt;Seperti  pada saat kita pertama kali mengenal mobil, kita merasa telah mampu mengendarainya, ketika kita telah mencoba dan ternyata  tidak mampu, kita akhirnya memasuki tahap kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan ini merupakan tahap Awal Pembelajaran yaitu tahapan SADAR atas ketidaktahuan. Pada saat ini kita sudah mengetahui bahwa banyak hal yang kita tidak tahu, dan kita mulai mencari informasi dan mau mencoba terjun dalam proses BELAJAR. &lt;br /&gt;Seperti pada saat kita tahu kita mesti belajar mengendarai mobil, kita segera mencari guru untuk mengajari kita, kita segera melakukan serangkaian latihan sampai kita mampu menjalankannya dan memasuki tahap ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan berikutnya adalah tahap Pengisian Kecerdasan yaitu tahapan SADAR memiliki pengetahuan. Pada saat ini kita telah menyadari bahwa kita telah mengetahui pembelajaran tersebut, kita mampu memanfaatkan secara sadar pengetahuan kita dalam setiap langkah yang kita ambil.&lt;br /&gt;Seperti pada saat kita telah mampu mengendarai mobil untuk pertama kali, perhatian kita segera tersita untuk mengkoordinasi gerakan untuk mengeram, untuk menginjak pedal gas, untuk memindahkan gigi, melihat kaca spion, dan semua ini lakukan dengan kesadaran untuk memastikan mobil tersebut berjalan benar.  Lalu pada saat itu semua terasa kaku, kita harus berpeluh ketika memindahkan gerakan menginjak pedal gas, ke pedal pengereman.  Ketegangan hampir menyelimuti kita dimulai pada saat mobil itu bergerak sampai mobil itu dihentikan, sampai kita memasuki tahapan terakhir dari pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan terakhir dari proses ini adalah tahap Transformasi alam bawah sadar, yaitu SADAR atas ketidaksadaran memiliki pengetahuan kita.  Kita tidak lagi menghabiskan banyak energy dan perhatian dalam mengolah data-data yang terekam, secara otomatis semua berjalan dengan begitu saja, alam bawah sadar kita telah mengambil peranan dalam proses ini.  Data-data segera ditransformasi setelah mengalami PEMATANGAN melalui serangkai aktivitas yang dilakukan berulang-ulang, rutinitas ini membentuk suatu Kebiasaan yang dicatat dalam alam bawah sadar, yang selanjutnya dipergunakan mengikuti kode pencatatan, mengikuti program yang telah tersusun, tanpa harus menguras terlalu banyak energy dari kesadaran kita. &lt;br /&gt;Seperti pada saat kita telah mahir mengendarai mobil, kita tidak lagi memperhatikan gerakan menginjak pedal gas dan rem, kita tidak lagi memperhatikan gerakan menyalakan lampu tangan, semua dilakukan secara alami, kita sadar kapan harus melakukan gerakan pemindahan gigi, tapi kita perlu lagi memperhatikan gerakan itu seperti pada saat kita belajar pertama kali, semuanya telah diambil alih oleh Alam bawah sadar kita.  (Dan kita tetap hidup berKESADARAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, betapa banyak energi yang dapat kita hemat, jika kita mampu memindahkan sedikit demi sedikit date base kita ke alam bawah sadar kita, seperti halnya saat kita mengetik, ketika tahapan itu telah tercapai, tangan kita secara otomatis menekan tombol huruf yang ada, menerjemahkannya dalam kata-kata tertulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada kalanya, data-data tersebut dapat dirusak oleh virus ketakutan, ketika kita terancam secara mental, virus ini akan menyebar dalam tubuh kita, acap kali hal ini bukan hanya membuat kita tak mampu memunculkan kekuatan dalam alam bawah sadar, tapi juga sering mengagalkan penggunaan akal sehat kita, dan membuat kita tidak sadar. Sebagai contoh, lihatlah seorang ibu yang terperangkap dalam lautan api, ia mengalami kesulitan ketika  hendak membuka pintu rumah yang sudah ia lakukan ratusan bahkan ribuan kali,  tangannya gementaran, dan ia bahkan tak mampu mengontrol organ-organ tubuhnya.  Atau  saat kita kehilangan suara ketika melihat api sedang menjalar dengan ganasnya di depan batang hidung kita.&lt;br /&gt;Sebelum saat itu menghampiri kita, maka pembelajaran harus kita lanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu menuju kesadaran tertinggi yaitu &lt;strong&gt;PENCERAHAN.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini kita akan tampil lebih elegan, tahapan ini membuat kita mampu menghadapi masalah lebih tenang, kita dapat menggunakan kekuatan alam bawah sadar dan tidak kehilangan kendali atas alam sadarnya.  Dan tahapan ini akan tercapai saat kita telah mampu menjalankan moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan (Sila, Samadhi dan Panna) secara berkesinambungan dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Saat itu, kita telah menjadi Pengemudi yang mahir, yang mampu memberdayakan kekuatan alam bawah sadar kita, yang mampu mengemudikan diri kita dalam jalan raya kehidupan ini, menuju  ke dalam Kesadaran tertinggi yaitu PENCERAHAN, menuju sukses dunia dan Akhirat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-3886223517769061510?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/3886223517769061510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=3886223517769061510&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3886223517769061510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3886223517769061510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2009/01/transformasi-ke-alam-bawah-sadar.html' title='Transformasi ke Alam Bawah Sadar'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-1879384139066513491</id><published>2009-01-17T09:16:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T09:17:07.846-08:00</updated><title type='text'>Suatu Hari di Kelas Hynotherapy</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ini adalah kali pertama saya mengikuti seminar hypnotherapy , ada rasa penasaran yang luar biasa untuk mengetahui  bagaimana rasanya terjun ke masa lalu, kembali menjadi muda bahkan menjadi sang janin yang berdiam di kandungan sang bunda.   Lalu dengan melewati terowongan waktu, saya dapat menikmati kehidupan masa lalu, mencari alasan keberadaanku saat ini. (Setidaknya itu yang terbayang olehku ketika diajak untuk menghadiri sebuah seminar hypnotherapy di Medan, kita akan dibawa menerusuri jejak masa lalu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pun dimulai, kebetulan saya duduk di barisan terdepan, ada harapan untuk terpanggil sebagai salah satu peserta yang mengalami fenomena tersebut, tapi kelihatannya saya harus cukup puas sebagai penonton saja, karena melalui dua kali test ternyata saya tidak cocok untuk terpilih sebagai salah satu peserta yang akan menjalani perjalanan waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya terpilih lima orang untuk mengikuti ritual penelusuran lorong waktu itu, yang menarik adalah ketika mereka mulai ditidurkan dalam keadaan sadar dan memasuki dunia kanak-kanak mereka. Salah satu peserta seperti tertawa sendiri, lalu kemudian ia menangis karena melihat bayangan bunda, terutama ketika ia memasuki dunia janin, ia merasa begitu terlindungi oleh bunda tapi ia merasa belum cukup memberikan cintanya pada beliau (Aku sungguh sudah melupakan kata-kata yang keluar dari peserta itu, karena pada saat itu aku malah lebih fokus dengan bayangan Bundaku sendiri, ada air mata yang juga ikut turun dari sudut-sudut mataku, aku tiba-tiba merindukan  pelukan Bunda, rasanya menyusup jauh ke dalam sum-sum tulangku, mungkin aku juga terlibat secara emosional memasuki lorong waktu itu, bertemu dengan bayangan Bunda)&lt;br /&gt;Dan untuk penelusuran lebih jauh melewati masa janin, saya tidak mau ambil bagian untuk membahasnya, karena selalu ada saja opini-opini kontroversial yang akan bermain di sana, saya biarkan saja tetap seperti kata guru ku. Setelah mengikuti seminar ini, saya menjadi “TAHU” kalau saya “TIDAK TAHU” dari mana saya berasal dan saya juga “TIDAK TAHU” hendak kemana nantinya.  Biarlah waktu yang akan memberitahukan aku nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi selalu ada pembelajaran di dalamnya, terutama seperti saat ini, saat menerima input baru, ada persepsi-persepsi baru yang akan segera mengisi pundi pikiran ini.&lt;br /&gt;Dari kelas itu kita dapat belajar me-reframe  persepsi lama yang merugikan, catatan yang sudah terlanjur tertanam di dalam alam bawah sadar kita dibawa keluar dan diberi bingkai baru yang positip sehingga pundi pikiran kita segera terisi dan bersinar oleh energi positip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari percaya atau tidaknya dengan perjalanan lorong waktu itu, saya selalu setuju dengan ritual hypnotist ini  pada saat dilakukan untuk penyembuhan batin,  karena selalu menarik untuk diikuti, karena selalu ada pencerahan dalam setiap penelusurannya, sehingga hati dapat menerima keadaan, memaklumi dan memaafkan.  Walau dalam perjalanannya kadang ada tangis yang memilukan,  tapi pelepasan itu merupakan ritual dari penyembuhan yang melegakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika kita hanya sebagai penonton saja, saya melihat sejumlah mata tampak berkaca-kaca ketika para penjelajah lorong waktu kembali ke masa muda bertemu dengan bunda, saya sendiri menikmati moment tersebut, kerinduan akan bunda yang penyayang membuat kita terharu, tapi ingatan semacam itu justru lebih mengingatkan kita untuk memberikan kasih kita selama masih sempat kita berikan.  Pelajaran ini seharusnya tidak membuat kita berandai-andai lagi, kita tak seharusnya lagi berkata “Andai aku diberi kekayaan, tentu aku akan membahagiakan bundaku”, “Andai aku ada waktu, aku tentu akan menemani ibuku” atau “Andai mamaku masih ada, tentu aku akan menyayanginya sepenuh hati, memberikan pelayanan yang terbaik, menjaganya dan merawatnya dengan kasih sayang.”&lt;br /&gt;Pelajaran ini seharusnya mengingatkan kita tentang HIDUP HARI INI, ketika kita ada saat ini, ketika Bunda ada di samping kita saat ini.  Mengapa kita tak memberikan cinta kita saat ini juga?  Mengapa kita tidak segera bersujud di bawah kaki bunda, menciumnya dan lalu mengatakan “Aku mencintaimu Mama” (Jangan sampai kita hanya bisa mengucapkannya KEMUDIAN, di saat Bunda yang pengasih tidak ada di samping kita, di saat kita hanya mampu mengucapkannya melalui mimpi, dalam tidur yang sadar seperti di kelas ini atau melalui DOA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saat ini Anda seperti saya, kesempatan untuk mengatakannya memang harus melalui alternatif dunia bawah sadar, mengali persepsi tentang Bunda yang welas asih dari catatan-catatan masa lalu kita, tapi setidaknya kita masih memiliki ayah, saudara, atau orang-orang terkasih lainnya yang merupakan ladang bagi kita menanamkan bibit kasih.  Sehingga kelak kita tak lagi berandai-andai dengan tindakan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin mama di atas sana setuju dan akan tersenyum untuk kita semua.&lt;br /&gt;Saya juga yakin kalau mama menemaniku tadi, saat mengikuti kelas hypnotherapy itu.&lt;br /&gt;“ I Love You Mom “&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-1879384139066513491?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/1879384139066513491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=1879384139066513491&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/1879384139066513491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/1879384139066513491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2009/01/suatu-hari-di-kelas-hynotherapy.html' title='Suatu Hari di Kelas Hynotherapy'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-7663798628237510369</id><published>2009-01-17T09:14:00.001-08:00</published><updated>2009-01-17T09:15:53.761-08:00</updated><title type='text'>Six Direction of Honour</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Memang baik menjadi orang terhormat, tapi lebih terhormat menjadi orang yang baik.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cerita ini dimulai dari sebuah buku pelajaran hidup yang telah berumur ratusan tahun lamanya.&lt;br /&gt;Konon, hiduplah seorang pemuda yang bernama Sigala, pagi-pagi sekali pemuda desa ini telah berangkat dari rumahnya menuju sebuah tempat persembahan, sesampainya di sana ia segera merapatkan kedua tangannya dan melakukan penghormatan ke setiap penjuru mata angin utama, ke Timur, Selatan, Barat dan Utara serta ke atas dan ke bawah.&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang sama, Sang Guru melewati kawasan tersebut dan melihat aktivitas menarik yang dilakukan pemuda Sigala itu, lalu Sang Guru bertanya pada Sigala mengapa ia melakukan aktivitas itu?&lt;br /&gt;Si Pemuda lalu berkata bahwa itu adalah pesan dari orang tuanya sebelum meninggal, “Sebagai anak yang baik, engkau harus menyembah berbagai arah bumi dan langit!”  Karena menghormati kata-kata ayahnya, mengindahkannya, menjunjungnya dan menganggap suci, maka si Pemuda melaksanakan petuah tersebut.&lt;br /&gt;Sambil tersenyum, sang guru berkata bahwa ke-enam arah itu tidak seharusnya dihormati dengan cara demikian, ada pesan yang moral yang disampaikan sang ayah kepadanya melalui perumpamaan dari ke-enam arah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timur selalu dilambangkan sebagai “Pendahulu”, seperti hari yang dimulai dengan terbitnya matahari dari timur, ayah dan ibu dipandang sebagai awal dari kehidupan. Dari kasih sayang mereka maka kita dilahirkan di dunia ini, selanjutnya dirawat dan dibimbing sampai mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti arah pergerakan matahari, arah Barat berada di belakang dari Timur.  Setelah matahari mencapai tengah hari, ia akan kembali ke peraduannya di Barat, demikian juga anak dan istri yang mengikuti dari belakang, pada akhirnya mereka akan menemani kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menghadap ke arah timur, maka arah Selatan adalah berada di tangan kanan kita, dengan tangan inilah kita dituntun, dibimbing oleh guru-guru kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah Utara melambangkan Sahabat dan sanak keluarga yang siap membantu kita mengatasi kesulitan yang ada dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas (Arah Zenith) melambangkan guru-guru spiritual (rohaniawan) yang kita junjung tinggi, yang memberikan pencerahan spiritual dalam kehidupan ini dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah bawah (Nadir) melambangkan pelayan dan karyawan yang juga harus dihargai, karena telah membantu kita dalam usaha dan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Guru kemudian mengatakan bahwa inilah ke-enam arah penghormatan yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sudahkan kita melakukan penghormatan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita menghormati orang tua kita? Atau malah kita menganggapnya sebagai beban dari hidup kita?  Cerita lama di bawah ini mungkin dapat mengingatkan kita kembali akan arti sebuah penghormatan kepada orang tua kita.&lt;br /&gt;Cerita ini mengenai seorang kakek yang tinggal bersama sang anak dan menantunya. Karena sudah tua dan sakit-sakitan, kakek ini dianggap hanya menambah beban keluarga ini saja, maka setelah melalui diskusi panjang, suami istri ini akhirnya berencana melenyapkan kakek itu, dengan membawanya ke hutan dan membiarkannya tinggal di sana bersama kumpulan orang-orang jompo yang terbuang. &lt;br /&gt;Disiapkanlah sebuah keranjang rotan yang akan membawa sang kakek itu ke hutan, ketika kakek tua itu hendak diangkut ke dengan keranjang itu, sang cucu tiba-tiba muncul dan berkata. “Pa, Ma, jangan lupa bawa pulang keranjang rotan itu ya”&lt;br /&gt;Suami istri itu sempat terkejut dan berkata “Untuk apa keranjang itu Nak?”&lt;br /&gt;Sang cucu itu menjawab dengan enteng “Untuk ayah dan Ibu kelak!”&lt;br /&gt;Sontak, Suami istri ini tercerahkan.&lt;br /&gt;Ada kalanya ketika kita melakukan penghormatan pada arah Barat (anak-istri(suami)) , kita malah melupakan penghormatan pada arah Timur, yang merupakan awal dari kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke-enam arah penghormatan adalah sama pentingnya dalam kehidupan ini, kita tidak bisa hanya menghormati arah tertentu saja, keselarasan terjadi ketika kita mampu menyeimbangi penghormatan kita pada arah-arah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menghormati orangtua kita, anak dan istri(suami), guru, sahabat dan sanak keluarga, rohaniawan dan pelayan kita dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sosial kita saat ini, penghormatan pada arah NADIR lebih sering kita lupakan, pelayan dan karyawan sering kita anggap hanya seperti sapi perah, padahal dalam satu organisasi perusahaan, pelayan dan karyawan adalah ujung tombok dalam keberhasilan perusahaan, perusahaan tak mungkin berjalan tanpa mereka.  Ketika kita membangun karyawan, kita telah membangun perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada saat kita telah mampu menghormati Six Direction of Honour  tersebut, kita sendiri akan menjadi orang yang terhormat, orang yang Honourable.&lt;br /&gt;Karena pada dunia ini ada HUKUM AKSI-REAKSI yang berjalan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Salam Pencerahan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-7663798628237510369?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/7663798628237510369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=7663798628237510369&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/7663798628237510369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/7663798628237510369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2009/01/six-direction-of-honour.html' title='Six Direction of Honour'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-701493769495785638</id><published>2008-12-17T03:23:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T03:24:36.703-08:00</updated><title type='text'>Persepsi Si Mata Satu</title><content type='html'>Seperti biasa, malam menjelang tidur aku selalu mengambil sebuah buku untuk menemaniku, dan malam itu ternyata terpilih sebuah buku spiritual yang bercerita tentang “Si Mata Satu”.  Yang menarik dari cerita ini adalah pada saat alur itu berjalan seketika kisah itu berubah menjadi CERMIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan ada sebuah sekolah yang terkenal dalam menanamkan kekayaan mental bagi murid-muridnya. Suatu hari sekolah tersebut kedatangan “Tamu Agung” dari kerajaan tetangga yang hendak mempelajari keunikan ilmu sekolah tersebut.  Karena kesibukannya, sang kepala sekolah segera  menyerahkan acara penyambutan ini kepada murid junior yang kebetulan bermata satu. Sang kepala sekolah meminta murid itu menemani dan melayani tamu tersebut sampai beliau menyelesaikan kesibukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu Agung yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, murid bermata satu itu segera membungkukan badannya untuk menyambutnya.  Bungkukan badan itu segera dibalas sang tamu dengan mengacungkan tiga jarinya ke udara.  Tak mau kalah, si mata satu membalasnya dengan acungan dua jari, yang kembali dibalas lagi dengan acungan satu jari oleh sang tamu. Akhirnya si mata satu mendaratkan  sebuah tinju ke muka sang tamu, lalu tamu itu berlari meninggalkan tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita aneh ini membuatku penasaran untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di sana, lalu kutelususri kembali kisah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang tamu dengan mata memar segera pulang menemui gurunya, di hadapan gurunya ia berkata “Guru, saya telah datang ke sekolah itu untuk mewakili guru melihat ilmu mereka, sungguh luar biasa, baru kali pertama saya mendapat pelajaran yang begitu dalam”&lt;br /&gt;“Sebenarnya apa yang terjadi muridku?” Tanya Sang Guru&lt;br /&gt;“Begitu tiba, saya segera disambut dengan bungkukan badan tanda dimulainya acara uji pengetahuan, lalu saya mulai dengan membuka topik dengan menunjukkan tiga jari ke udara, yang menyatakan bahwa manusia hidup di masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang, lalu ia membalasnya dengan menyatakan bahwa sebenarnya yang penting adalah saat ini dan masa yang akan datang (2 jari), sedangkan masa lalu adalah sejarah yang tak dapat lagi diubah. Saya kembali menjelaskan bahwa sebenarnya masa lalu, kini dan masa yang akan datang adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan (1 jari), lalu sebuah tinju yang mendarat di muka mempertegas dan menyadarkan saya kalau yang terpenting adalah hidup Saat ini”&lt;br /&gt;“Satu pembelajaran yang luar biasa mengenai hidup” katanya sekali lagi dengan terkagum-kagum walau dengan mata memar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan si mata satu, ketika bertemu dengan gurunya ia langsung berkata “Guru, orang itu sungguh kurang ajar, dari awal saya sudah mencoba menghormati dengan membungkukan badanku, ia malah membalasnya dengan mengatakan bahwa di ruangan itu hanya ada tiga mata, mentang-mentang dia memiliki dua mata sedangkan saya hanya memiliki sebuah saja, saya mencoba bersabar dan berkata kalau ia harus bersyukur karena memiliki dua mata, tapi lagi-lagi ia mengejekku dengan mengatakan saya si mata satu, waktu itu kesabaran saya sudah habis, lalu saya meninjunya.  Untung ia segera belari meninggalkan sekolah ini, kalau tidak pasti sudah babak belur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita sering seperti kedua murid ini?  Saling tidak memahami satu sama lain, masing-masing punya persepsinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu kesempatan, di sela ceramah minggu, saya pernah memperlihatkan sebuah kertas kepada audience yang saya klaim sebagai warna “biru”, tapi audience protes, mereka mengatakan kertas itu adalah berwarna “kuning”, masing-masing dari kami berkeras bahwa itulah warna kertas itu sesungguhnya, sampai saya dudukkan salah satu audience itu di sampingku.&lt;br /&gt;Ketika kutanya kepadanya apa warna kertas itu, ia segera mengatakan “Biru”, sementara para audience yang lain masih berkeras dengan keyakinannya, sampai saya mengubah arah duduk saya sendiri, kali ini saya dan para audience duduk menghadap arah yang sama. &lt;br /&gt;Ketika kuperlihatakan kertas itu kembali, mereka akhirnya juga setuju kalau kertas itu berwarna “biru” sekaligus juga “kuning” tergantung di sisi mana kita memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kertas itu memiliki dua sisi dengan warna yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang terjadi pada kehidupan kita, kita sering berbeda pandangan, saling tidak memahami, saling tidak mengerti, sampai kita DUDUK BERDAMPINGAN, mencoba melihat dari kedua perspektif tersebut, mencoba melihat dari cara pandang orang lain.&lt;br /&gt;Pada saat duduk berdampingan, kita menjadi saling memahami satu satu lain, saling mengerti, saling toleransi, dan kita dapat berangkulan dalam perbedaan.  Itu yang dibutuhkan Negara kita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Pencerahan&lt;br /&gt;Seng Guan CPLHI&lt;br /&gt;Regional Manager PT. Arthamas Konsulindo Medan&lt;br /&gt;PSDM Siddhi Medan&lt;br /&gt;Sekretaris MBI Medan&lt;br /&gt;Penulis Tetap di &lt;a href="http://www.andriewongso.com/"&gt;www.andriewongso.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-701493769495785638?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/701493769495785638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=701493769495785638&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/701493769495785638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/701493769495785638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/12/persepsi-si-mata-satu.html' title='Persepsi Si Mata Satu'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-6711999742732703632</id><published>2008-12-17T03:22:00.001-08:00</published><updated>2008-12-17T03:22:43.141-08:00</updated><title type='text'>Ratapan (Curiga) Anak Tiri</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mungkin kita sudah terlalu sering mendengar cerita sedih dari seorang anak yang dibesarkan oleh ibu tirinya. Sepertinya cerita ibu tiri selalu identik dengan KESEDIHAN, KETIDAKADILAN dan air mata.&lt;br /&gt;(Disadari atau tidak, sejak kecil benih-benih “CURIGA” telah ditanamkan pada sosok seorang “Ibu Tiri”.  Melalui media cetak maupun media elektronik, benih disusupkan lewat cerita-cerita, lewat sinetron, terlebih lewat berita penyiksaan “anak tiri “yang diekspos bukan oleh satu media saja, tapi hampir oleh seluruh media untuk satu kasus yang sama)&lt;br /&gt;Lalu, cerita Ibu tiri sebagai seorang sosok Ibu yang Penyayang seakan lenyap oleh pemberitaan yang tak berimbang, lalu terciptalah sosok MONSTER  atas restu bersama.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa selanjutnya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ada dibenak kita, ketika suatu saat kita diberitahukan bahwa kita akan segera memiliki seorang Ibu Tiri? (Khususnya ketika kita masih sangat hijau, masih jauh dari kata mandiri)&lt;br /&gt;Suatu Blokade ketat segera kita dirikan, segala macam perlindungan segera kita kenakan, kita segera memproteksi diri kita, kalau-kalau kita akan terluka nantinya oleh kemunculan seorang MONSTER.&lt;br /&gt;Ketika pikiran kita mengidentifikasikan Ibu itu sebagai seorang Monster, maka sejak detik itu juga kita memperlakukannya seperti kehendak pikiran kita.&lt;br /&gt;Kita segera memutuskan hubungan diplomasi  bahkan untuk suatu hubungan yang belum sempat dibangun, tidak ada kata persahabatan, semua ucapannya harus ditantang dan ia tak lebih dari seorang musuh. Sekalipun ia berusaha mencairkan kekakuan, itu hanyalah trik untuk mengelabuhi kita. (Setidaknya itulah menurut kita dan kebanyakan orang)&lt;br /&gt;Inilah beban yang harus kita pikul atas nama “CURIGA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kecurigaan yang berlebihan itu datang, kita telah dilukai (secara mental) sebelum semua ketakutan itu terbukti  kebenarannya.  Anehnya kita lebih senang melukai diri sendiri sebelum orang lain melakukannya terhadap kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman pernah bercerita tentang kisah “Petani yang kehilangan cangkulnya”&lt;br /&gt;Cerita itu dimulai ketika Pak Tani mendapat tetangga baru, seorang pemuda berkaus oblong dengan wajah sangar,  yang tidak pernah tersenyum dan selalu pulang larut malam. Pak Tani selalu memperhatikan gerak-gerik tetangga barunya itu. (Jangan-jangan seorang penjahat, pikirnya), ia selalu berkata  pada istrinya “Lihat, tampang orang itu sangat mencurigakan”&lt;br /&gt;Semua “TERBUKTI” ketika Pak Tani kehilangan cangkul barunya dan vonis segera dijatuhkan.&lt;br /&gt;“Benar dugaanku, dialah yang telah mencuri cangkul baruku!”&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya Pak Tani sibuk mengamati “si tertuduh”, ia bertekad menangkap basah sang pencuri cangkulnya.  Tapi hari yang ditungu-tunggu tak kunjung datang, ia malah tersandung dan terjatuh ketika sedang asyik menjadi seorang detektif.&lt;br /&gt;Benda yang menjadi sandungannya akhirnya mampu memunculkan bukti baru, bukti yang menyatakan bahwa sang pemuda TIDAK BERSALAH.&lt;br /&gt;Pak Tani baru teringat bahwa ia lupa menyimpan cangkulnya ketika sedang menanam ubi di belakang rumahnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika benih curiga ditanamkan, detik itu juga kita telah memperlakukan sang Suspect sebagai pelakunya, si pelaku yang telah dan akan terus melukai kita (pikiran kita segera mendefinisikannya sebagai musuh) Ketika pikiran itu telah menjatuhkan vonisnya, kita akan cenderung bertindak sesuai dengan keputusannya, sang Suspect adalah musuh. (dan musuh akan saling melukai)&lt;br /&gt;Sejak itu pula, disadari atau tidak, kita akan melukai “tersangka” itu,  dan ini akan memicu PERCEPATAN sang suspect menjadi musuh yang nyata atau bahkan memunculkan musuh yang sebelumnya tak pernah muncul. (Pikiran segera menarik apa yang kita pikirkan)&lt;br /&gt;Cerita ini segera membungkam semua CURIGA yang ada pada temanku tadi, ia berhasil membangun kepercayaanku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau akhirnya ia juga berhasil melukaiku setelah pintu CURIGA runtuh, ada pelajaran yang menarik untuk direnungi dari kejadian tersebut.&lt;br /&gt;Pertama, Setidaknya aku hanya perlu terluka sekali, yaitu pada saat ia melukaiku.  (Daripada terluka dua kali :  terluka pada saat curiga muncul dan terluka pada saat curiga menjadi kenyataan)&lt;br /&gt;Kedua, setidaknya aku telah memberikan kesempatan pada sang suspect untuk  tetap menjadi temanku,  dan kesempatan untuk berubah pikiran, untuk tidak saling melukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya bagi kita untuk membuang rasa curiga di antara kita (ini yang sedang terjadi pada negera kita, kehilangan rasa percaya atas sesama),  kita ganti rasa CURIGA menjadi WASPADA, terutama waspada atas tindakan kita terhadap orang lain, bukan orang lain terhadap kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah syair dari satu kitab kehidupan menjelaskan pada kita.&lt;br /&gt;“Apabila seseorang tidak mempunyai luka di tangan, maka ia dapat menggenggam racun.  Racun tidak akan mencelakakan orang yang tidak terluka. Tiada penderitaan bagi orang yang tidak berbuat jahat”&lt;br /&gt;Syair itu kembali dipertegas&lt;br /&gt;“Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri.  Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya?  Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh sukar dicari”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin setelah kita mulai menyadarinya, Ratapan Curiga anak tiri tidak perlu ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;br /&gt;Seng Guan CPLHI&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-6711999742732703632?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/6711999742732703632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=6711999742732703632&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6711999742732703632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6711999742732703632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/12/ratapan-curiga-anak-tiri.html' title='Ratapan (Curiga) Anak Tiri'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-4782256449892253562</id><published>2008-12-17T03:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T03:21:31.531-08:00</updated><title type='text'>Pikiran Sehat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Fakta menunjukkan bahwa, Kita hampir tidak pernah lupa untuk menjaga kesehatan Jasmani kita, kita memberikan makan padanya 3 kali sehari, kita mandikan dan bersihkannya setiap hari, kita tahu ketika tubuh ini akan sakit, kita tahu ketika jasmani ini tidak sehat. Bahkan sedikit bau badan saja sudah  tercium dan terasa tidak enak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Apakah kita juga tidak pernah lupa menjaga kebersihan Pikiran kita?  Tapi, apakah bau amis dan tak enak dari sampah-sampah pikiran tercium dan terasa oleh kita?&lt;br /&gt;Kita sering dihinggapi rasa cemas, cemburu, iri hati, marah, benci dan putus asa, yang menghajar kita tanpa kita MAU mengelaknya, dan bahkan membiarkan hal itu perlahan-lahan mengerogoti pikiran kita.  Kita biarkan sampah-sampah itu bertumpuk kian hari kian meninggi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan akibatnya kita menderita, ironisnya kadang penderitaan itu kita transfer kepada yang lain, dengan ikut melukai hati dan perasaan mereka dengan rasa cemas, cemburu, iri hati, marah, benci dan putus asa.  Lalu terbentuklah semacam siklus penderitaan yang tiada hentinya, berputar dan terus berputar, sampai ada individu yang memutuskan rantai penderitaan itu dengan energy positif yang dipunyainya.&lt;br /&gt;Dan untuk itu, diperlukan PIKIRAN yang SEHAT.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyebab mengapa penyakit pikiran sekarang ini  begitu gampang menyerang pertahanan kita adalah bahwa dalam kondisi mondernisasi ini, hidup kita dipenuhi dengan banyaknya tekanan kebutuhan, berita-berita di TV dan koran pun meluncurkan cerita-cerita sedih yang cenderung negative (kekerasan, kerusuhan, bencana alam dan berita duka lainnya seakan menjadi sarapan pagi kita, tanpa terasa menyusup jauh ke dalam alam bawah sadar kita, menjadi bagian dari diri kita)&lt;br /&gt;Secara perlahan tapi pasti, pikiran kita tergerogoti, kita tumbuh menjadi orang yang menderita penyakit pikiran, fenomena ini hampir seperti perangkap “COMFORT ZONE”, kita tak menyadari bahwa kita telah terjangkit penyakit itu, ketika disadari,  kita hampir tak punya kekuatan untuk melawannya, dan segera kita menjadi bagian dari kerusakan itu.&lt;br /&gt;Saatnya untuk berbenah diri, saatnya untuk menjaga kesehatan dari Pikiran kita.&lt;br /&gt;Seperti juga kesehatan jasmani, maka  untuk menjaga kesehatan pikiran jika juga harus memberikan makanan yang bergizi dan bervitamin, makanan empat sehat lima sempurna.&lt;br /&gt;Sehat pertama adalah mendengarkan kata-kata indah, kata-kata yang memotivasi, kata-kata yang mencerahkan,  inilah obat untuk pikiran yang mampu membendung derasnya arus negatif.&lt;br /&gt;sehat kedua adalah melakukan hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan dan melapangkan dada kita, dengan semakin terbiasanya kita melakukan hal tersebut, kita akan segera menerima konsekwensinya yaitu “KEBAHAGIAAN”&lt;br /&gt;sehat ketiga adalah berteman dengan orang-orang yang menjadi sumber pencerahan dan menjauhi sumber kata-kata negatif.&lt;br /&gt;sehat keempat adalah melakukan perenungan, dengan perenungan kita akan semakin dewasa dan sadar.  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan akan menjadi lima sempurna dengan rasa syukur dan DOA.&lt;br /&gt;Lalu pikiran kita pun akan sebening air, sehat dan menyegarkan, bukan saja menyegarkan diri sendiri, tapi juga menyegarkan bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selamat mencoba, semoga kita dapat saling menjaga kebersihan dan kesehatan Pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salam Sukses Selalu&lt;br /&gt;Seng Guan CPLHI&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-4782256449892253562?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/4782256449892253562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=4782256449892253562&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/4782256449892253562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/4782256449892253562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/12/pikiran-sehat.html' title='Pikiran Sehat'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-4307923243547506400</id><published>2008-12-17T03:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T03:19:54.025-08:00</updated><title type='text'>Pidato Kemenangan McCain</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(Pembelajaran  ini  diambil pada saat pemilihan Umum di Amerika Seikat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin mengira ada kesalahan pada judul di atas, karena yang akhirnya berhasil menjadi presiden Amerika Serikat yang ke-44 bukanlah McCain, tapi Barack Obama.   Tapi saya yakin, setelah Anda mendengar  (atau pada kesempatan ini, membaca) pidato McCain pada tanggal 5 Nop 2008, Anda akan sepakat dengan saya.&lt;br /&gt;Umumnya judul pemberitaannya adalah&lt;strong&gt; “Pidato Kekalahan McCain”,&lt;/strong&gt; tapi saya lebih tertarik dengan memakai judul di atas, alasannya mungkin akan Anda dapatkan kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Potongan Transkrip Pidato McCain&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Potongan pertama, ....... A little while ago, I had the honour of calling Senator Barack Obama to congratulate him. (diikuti suara cemooh dari audience, tapi segera diredam dengan manis oleh McCain)&lt;br /&gt;Please.  To congratulate him on being elected the next president of the countray that we both love.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potongan kedua, ...... Senator Obama and I have had and argued our differences, and he has prevailed.  No Doubt many of those differences remain.  These are difficult time to our country. And I pledge to him tonight to do all in my power to help him lead us through the many challenges we face.&lt;br /&gt;I urge all Americans... I urge all American who supported me to join me in not just congratulating him, but offering our next president our good will and earnest effort to find ways to come together to find the necessary compromise to bridge our differences and help restore our prosperity, defend our security in a dangerous world, and leave our children and grandchildren a stronger, better country than we inherited.&lt;br /&gt;Whatever our differences, we are fellow Americans, And please believe me when I say no association has ever meant more to me than that.  It is natural, It’s natural, tonight, to feel some disappointment.  But tomorrow, we must move beyond it and work together to get our country moving again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potongan ketiga, ....... I don’t know, I don’t know what more we could have done to try to win this election.  I’ll leave that to others to determine.  Every candidate makes mistakes, and I’m sure I made my share of them.  But I won’t spend a moment of the future regretting what might have been.&lt;br /&gt;This Campaign was and will remain the great honour of my life, and my heart is filled with nothing but gratitude for experience and to the American people for giving me a fair hearing before deciding that Senator Obama and my old friend Senator Joe Biden should have the honour of leading us for the next four years.&lt;br /&gt;(diikuti suara cemooh dari audience, dan kembali segera diredam dengan elegan oleh McCain)&lt;br /&gt;Please. Please.   I would not, I would not be an American worthy of the name should I regret a fate that has allowed me the extraordinary privilege of serving this country for half a century. .............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan pidato John McCain di atas adalah bentuk kebesaran hati seorang pemimpin.&lt;br /&gt;Kita dapat bercermin dari penggalan pidato tersebut, orang boleh menyebutnya pidato kekalahan tapi saya lebih setuju dengan menyebutnya pidato kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;Di mana letak kemenangannya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Kemenangan terbesarnya adalah bahwa ia telah memenangkan pertempuran melawan EGOnya, melalui pidatonya yang santun ia memberitakan selamat kepada Barack Obama yang merupakan saingannya dalam perebutan kursi kepresidenan tersebut, melalui pidatonya yang menyejukkan ia mengakui keunggulan pesaingnya, dan mengajak pendukungnya untuk bekerjasam dan mendukung presiden yang baru terpilih itu. (Walau disambut dengan sorakan mencemooh dari pendukungannya kepada sang pesaing  tapi McCain berhasil meredamnya dengan elegan, ia berhasil menahan gejolak kecewa dari simpatisannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Cermin-Cermin Pembelajaran melalui potongan Transkrip Pidato McCain&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cermin Pertama dari potongan pertama, Di awal pidatonya kandidat presiden dari partai Republik ini segera mengucapkan SELAMAT atas terpilihnya Barack Obama.&lt;br /&gt;Tak gampang bagi seseorang untuk tampil ke depan mengucapkan selamat bagi pesaingnya yang berhasil mengalahkannya, ini adalah ciri pemimpin sejati, untuk tampil ke depan dan mengatakan hal tersebut di depan pendukung fanatiknya, dan ia berhasil melakukannya dengan baik.&lt;br /&gt;Walau kadang itu cukup menyakitkan (terdengar dari suara ketidakpuasan dari pendukungnya)&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan kita?&lt;br /&gt;Sepertinya kita belum cukup dewasa dalam hal ini, diakui atau tidak tapi fenomena menunjukkan arahnya masih seperti itu.&lt;br /&gt;Banyak pemimpin kita yang yang ketika kalah bersaing malah tidak pernah berani untuk bertatap muka dengan sang pemenang (ini adalah tantangan bagi sang Pemimpin dalam menerima kekalahan itu dengan lapang dada), banyak juga yang malah siap mengugat, tidak puas dan protes dengan hasil yang ada, dan mencari jalan untuk mengagalkan keputusan tersebut (sering kali malah diselangi dengan aksi anarkis dan tindak tidak terpuji lainnya) padahal di awal pertarungan mereka sama-sama berjanji untuk siap menang dan siap kalah. Nyatanya banyak di antara kita yang tidak siap untuk kalah (Ini menandakan bahwa kita juga belum siap menjadi Pemimpin Besar, Pemimpin yang Sejati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin kedua dari potongan kedua,  Sadar bahwa perbedaan itu adalah hal yang lumrah dalam hidup ini, ketika Barack Obama berhasil terpilih menjadi presiden, McCain bukan saja memberikan selamat tapi sekaligus mengajak seluruh simpatisannya untuk ikut mendukung sekuat tenaga dengan itikad baik untuk kemajuan negaranya.&lt;br /&gt;Seorang pemimpin tahu bahwa itulah resiko persaingan, kadang kita harus menghadapi kekalahan, kita tahu bahwa hal itu mengecewakan, tapi itu adalah alami.  Seorang pemimpin harus mengesampingkan kekecewaan pribadi atau golongannya demi kepentingan yang jauh lebih besar, kepentingan satu perusahaan atau Negara.&lt;br /&gt;Seorang pemimpin sejati ia harus ikut bersumbangsih  dalam kepemimpinan YANG TERPILIH, serta menjembatani perbedaan-perbedaan yang ada, karena pada dasarnya charisma Leader atau pemimpin sejati bukan terletak pada jabatan yang diembannya saja, tapi terutama pada sikap dan tindakannya sebagai seorang LEADER.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin ketiga dari potongan ketiga, McCain sebagai seorang Leader yang kalah bersaing ternyata mampu mengakui kesalahan yang dibuat (karena pada dasarnya seorang leader sekalipun tidak terlepas dari kesalahan), tapi hal itu tidak disesali terlalu dalam, seorang pemimpin sejati seharusnya berbangga dapat bersaing di tingkat yang tertinggi (walau kalah), karena dipercaya oleh banyak pribadi-pribadi, dan menjadikannya sebagai pengalaman yang berharga dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga cermin ini, seharusnya menjadi bekal bagi kita untuk melangkah ketika suatu saat, suatu tempat kita lebih kurang mendapat kepercayaan dibandingkan dengan saingan kita.&lt;br /&gt;Saat itu kita diuji untuk terlahir sebagai pemimpin sejati.&lt;br /&gt;Pada saat kita harus duduk sebagai Pemain Pembantu, bukan sebagai Pemain Utama, sebagai seorang leader kita seharusnya menggunakan moment tersebut untuk kembali melakukan pembelajaran, mengoreksi kekurangan yang ada dalam diri kita, membangun pribadi seorang leader yang mampu memberikan contoh teladan bagi semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, ketika kita mampu tampil sebagai seorang McCain dalam pidato singkatnya, kita telah membangun benih-benih menjadi Pemimpin yang Sejati, dan sangatnya wajar jika saya sebut pidato itu adalah PIDATO KEMENANGAN McCain, karena ia telah memenangkan pertempuran melawan keegoaannya sendiri. &lt;br /&gt;Kita akan segera bertemu dengan PENCERAHAN dalam hidup ini, Inilah PENAKLUK dan PEMIMPIN SEJATI (yang ketika harus menghadapi keadaan yang tidak diinginkannya dengan lapangan dada dan menyadari KEWAJARAN dalam hidup ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;br /&gt;Seng Guan CPLHI&lt;br /&gt;Regional Manager PT.Arthamas Konsulindo&lt;br /&gt;PSDM Siddhi Medan&lt;br /&gt;Sekretaris MBI Medan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-4307923243547506400?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/4307923243547506400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=4307923243547506400&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/4307923243547506400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/4307923243547506400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/12/pidato-kemenangan-mccain.html' title='Pidato Kemenangan McCain'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-3749641778537221430</id><published>2008-12-17T03:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T03:15:47.291-08:00</updated><title type='text'>Pasar Sifat (Area : Ucapan)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di suatu pasar “Sifat” seorang pemuda sedang mencari jati dirinya, ia tertarik melihat teman-teman yang telah berhasil “membeli” sifat di pasar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya pertama kali tertuju pada area “Ucapan”, ketika ia memasuki area tersebut, ia segera dihampiri oleh &lt;strong&gt;“PEMBOHONG”.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“Jadi Pembohong saja, sobat!” ajak penjaja kebohongan tersebut.&lt;br /&gt;“Bagaimana caranya?”&lt;br /&gt;“Simple” katanya, “Cukup mengatakan hal yang tidak sesuai dengan fakta, kamu akan menjadi Pembohong”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pulanglah pemuda tersebut kembali ke komunitasnya, sehari kemudian ia kembali dengan muka yang memar, dengan nada kesal ia kembali mengatakan “Kenapa kamu bilang menjadi pembohong itu gampang, buktinya saya babak belur dipukuli teman yang marah karena kebohonganku”&lt;br /&gt;“Benar, menjadi pembohong itu memang gampang, buktinya kamu telah berhasil menjadi seorang pembohong, hanya saja kebohonganmu diketahui, dan ini mesti dipelajari agar tidak terbongkar kelak” lanjutnya.&lt;br /&gt;“Jadi bagaimana caranya?”&lt;br /&gt;“Pertama, ketika kita berbohong adalah kita harus kreatif (negatif) mencari fakta baru yang diperkirakan mampu diterima oleh akal sehat sang pendengar, hal ini tidak gampang karena ketika gagal memunculkan fakta tersebut, gelagat ketidakjujuran kita segera tercium oleh sang pendengar dan sang pendengar segera mendirikan pilar-pilar yang menbentengi diri mereka dari kita” katanya.&lt;br /&gt;“Wah, kalau ada pertama, berarti ada langkah berikutnya lagi ya?”&lt;br /&gt;“Benar, langkah kedua, kita harus berusaha mempertahankan fakta palsu itu untuk waktu yang TIDAK TERBATAS, kita harus selalu mengingat kepalsuan yang telah kita ciptakan, hal ini tak gampang karena biasanya hati kecil kita akan segera menolak ketidakjujuran itu berada di sampingnya, kebenaran akan lebih melekat dalam memory kita, terutama ketika kita di hadapkan dengan fakta-fakta lain yang bertentangan dengan hal tersebut”&lt;br /&gt;“WAKTU YANG TIDAK TERBATAS? Mengerikan sekali.” Ucap pemuda itu.&lt;br /&gt;“Belum habis, masih ada yang ketiga, yaitu kita akan selalu was-was mencari-cari alasan-alasan pendukung yang akan muncul secara tiba-tiba jika kita dipertemukan dengan fakta lain yang bertentangan dengan kepalsuan kita dan ....”&lt;br /&gt;“Masih belum habis?” tanya pemuda itu tak sabaran.&lt;br /&gt;“Keempat, kita akan selalu dihantui perasaan bersalah, perasaaan takut akan reaksi orang yang mendengar ketika kebohongan kita terungkap suatu hari”&lt;br /&gt;“Wah, sulit sekali dan tidak mengenakan”&lt;br /&gt;“Makanya, beli saja &lt;strong&gt;KEJUJURAN&lt;/strong&gt;” kata penjaja kejujuran yang kebetulan berada di dekat area tersebut.&lt;br /&gt;“Kenapa aku harus percaya padamu?” tanya pemuda tersebut.&lt;br /&gt;“Sebelum kamu menentukan keputusan, saya bawa Anda pada &lt;strong&gt;Pakar RESIKO&lt;/strong&gt; terlebih dahulu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dibawalah sang Pemuda tersebut menemui Pakar Resiko, meninggalkan pejaja Kebohongan yang kehilangan pelangannya.&lt;br /&gt;“Saya mau tahu apa resikonya ketika saya membeli KEBOHONGAN?” tanya Pemuda tersebut kepada pakar Resiko.&lt;br /&gt;“Resiko pertama, masyarakat tidak akan mudah mempercayai kita ketika kita telah diberi lebel “PEMBOHONG”, bahkan ketika kita hendak berlaku jujur sekalipun. Karena begitu lebel tersebut diberikan, maka sekeliling kita segera mendirikan radar-radar yang memantau kelakukan kita, mengklarifikasi kembali setiap ucapan yang keluar dari mulut kita”&lt;br /&gt;“Resiko Kedua, Ketika kita telah berhasil dengan mendapatkan lebel “PEMBOHONG” maka kita juga berhasil menjauhkan orang lain dari diri kita, kita juga berhasil menjauhkan KESEMPATAN yang ada untuk kita. Kita akan segera dijauhi dan be alone, kita menjadi bagian yang tidak disukai”&lt;br /&gt;“Resiko ketiga, umumnya ketika KEBOHONGAN itu terbongkar, masalah yang ditimbulkannya sudah jauh lebih dalam, dan jauh lebih sulit dipecahkan”&lt;br /&gt;“Resiko keempat, kita akan mengalami penderitaan bathin dan ketakutan akan selalu menghantui kita, sepanjang hidup kita”&lt;br /&gt;“Lalu, kenapa begitu banyak yang mau membeli KEBOHONGAN, dan dagangan kebohongan selalu laku keras” tanya pemuda tersebut dengan nada penasaran.&lt;br /&gt;“Ini karena kesenangan sesaat, mereka tertarik karena Kemasannya yang menarik, dan penjaja Kebohongan pintar mengelabuhi pembelinya, mereka tidak melihat Efek Samping yang ditimbulkan, yang sebenarnya telah tertera pada kemasan tersebut walau dengan huruf-huruf yang kecil”&lt;br /&gt;“Baiklah, menimbang semua masukan yang ada, saya ambil keputusan untuk membeli &lt;strong&gt;KEJUJURAN&lt;/strong&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pulanglah pemuda tersebut kembali ke komunitasnya dan beberapa hari kemudian ia kembali lagi ke pasar “Sifat” tersebut dan kembali berkonsultasi dengan pejaja Kejujuran.&lt;br /&gt;“Sebenarnya, dengan kejujuran saya menemukan banyak kebahagiaan, tapi pada keadaan tertentu saya mengalami peristiwa yang cukup menganjar hatiku” kata pemuda tersebut.&lt;br /&gt;“Apa itu?”&lt;br /&gt;“Begini ceritanya, ketika saya sedang istirhat di depan rumahku, lewat segerombolan pemburu yang bertanya di mana mereka dapat menemukan kawanan burung bangau di kawasan itu, saya lalu memberitahukan mereka. Tapi setelahnya saya merasa bersalah, karena mereka pulang dengan puluhan nyawa burung bangau di tangan mereka, saya merasa ikut menjadi pembunuhnya”&lt;br /&gt;“Ini adalah bagian dari kehidupan, ini adalah hal yang wajar” kata penjaja Kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, bagusan jadi PENDIAM saja, khan kata orang “Silent is The Gold” ” kata seorang penjaja Diam yang kebetulan mendengar percakapan mereka itu.&lt;br /&gt;“Benar juga” kata pemuda itu, dan ia kembali lagi kepada komunitasnya. Sejak itu ia menjadi Pendiam, beberapa hari kemudian ternyata ia kembali lagi ke pasar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, Diam ternyata juga tak begitu bagus, hidup terlalu sepi, dan kemarin saya telah mencelakai seorang buta karena sifat diamku ini” katanya.&lt;br /&gt;“Sebenarnya, apa yang terjadi?”&lt;br /&gt;“Begini ceritanya, ketika saya duduk di depan rumahku, lewat seorang buta yang berjalan menyeberangi sebuah jembatan, kebetulan jembatan itu ada lubang besar, saya mencoba memperingatinya, tapi teringat telah membeli “DIAM” makanya saya tak bersuara sama sekali, sampai akhirnya si buta itu terjatuh ke dalam lubang itu dan terbawa arus sungai, untungnya ia masih bisa diselamatkan.” Katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya milikilah &lt;strong&gt;KEBIJAKSANAAN&lt;/strong&gt;” kata seorang kakek tua yang berjalan dengan santai di depan mereka.&lt;br /&gt;“Kalau begitu saya beli &lt;strong&gt;KEBIJAKSANAAN&lt;/strong&gt; itu” kata sang pemuda.&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;Maaf, saya tidak menjual KEBIJAKSANAAN, tapi ia bisa kamu memiliki dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kedewasaan dalam hidupmu, KEBIJAKSANAAN tidak untuk diperjualbelikan&lt;/strong&gt;” kata kakek tua itu lalu berlalu dari hadapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Blink! Blink Blink! Pemuda itu pun terbangun dari tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salam Pencerahan&lt;br /&gt;Seng Guan CPLHI&lt;br /&gt;Regional Manager PT. Arthamas Konsulindo Medan&lt;br /&gt;PSDM Siddhi Medan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-3749641778537221430?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/3749641778537221430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=3749641778537221430&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3749641778537221430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3749641778537221430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/12/di-suatu-pasar-sifat-seorang-pemuda.html' title='Pasar Sifat (Area : Ucapan)'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-3593861675653873062</id><published>2008-11-14T00:58:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T00:59:38.633-08:00</updated><title type='text'>Mukzizat Keikhlasan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apakah Anda pernah punya masalah untuk memiliki anak setelah sekian tahun merindukannya?&lt;br /&gt;Mungkin ini adalah salah satu cara untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;BASED ON TRUE STORY&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Pernikahan kami diawali pada bulan Juli 2004, pada saat itu keinginan untuk memomong seorang anak hadir dalam kadar yang masih lemah, walau usia kami bukan lagi tergolong muda.&lt;br /&gt;Kehadiran anak-anak di rumah masih dipertanyakan, suara-suara centil mereka masih terasa mengganggu pendengaran, masih ada kekhawatiran mendekap tubuh kecil yang lemah itu dalam pelukan kami. Kami belum cukup siap menerima keberadaannya di antara kami, belum ada kerinduan yang mendalam.&lt;br /&gt;Ketika waktu terus berjalan dan memasuki dua tahun usia pernikahan kami, kerinduan itu mulai terasakan, bahkan semakin menguat setelahnya, beresonansi dengan pernyataan-pernyataan yang sedikit mengganggu, “Kapan rencana punya anak?” “Kenapa belum mau punya anak?” dan sebagainya, seakan mengingatkan aku tentang desakan menikah dulu.&lt;br /&gt;Kerinduan itu pun mulai berubah menjadi pengharapan dan selanjutnya berevolusi menjadi kekhawatiran atas ketidakmampuan kami memenuhi tuntutan lingkungan. Lalu, kami pun mulai mencari tahu dan berkonsultasi dengan para ahli.&lt;br /&gt;Berikutnya, seperti yang kami duga, serangkaian test dan pengobatan pun dilakukan untuk mengisi program yang disusun oleh para ahli tersebut. Awalnya kami menjalani dengan semangat, tapi rasa frustasi segera menjalar ke dalam hati kami setelah harapan itu tak kunjung datang walau biaya, waktu dan energi telah terkorbankan, dan sebagai klimaksnya, kami divonis untuk menjalankan program Bayi Tabung (yang tingkat keberhasilannya mungkin 20% sampai dengan 30 %), sementara secara financial hal tersebut harus kami perhitungkan masak-masak.&lt;br /&gt;Sebenarnya usaha kami tidak hanya sampai di sana, untuk memastikan vonis tersebut, kami melakukan dianogsa pembanding ke negeri jiran, dan ternyata hasilnya masih tetap sama, kami disarankan melakukan program Bayi Tabung.&lt;br /&gt;Sejenak kami terhenyak, tapi akhirnya kami menemukan PENCERAHAN di balik KEPASRAHAN.&lt;br /&gt;Kami akhirnya menghentikan pencarian program yang ditawarkan dari ahli yang lain, kami sudah ikhlas dengan kenyataan yang harus kami hadapi (Ikhlas dan Pasrah dalam arti aktif), kami pasrah menerima kenyataan bahwa kami harus menjalani Program Bayi Tabung (yang belum tentu dapat berhasil), kami pasrah jika hal itu tidak memungkinkan maka kami akan mengadopsi anak.&lt;br /&gt;Kami pun merencanakan hal ini akan direalisasikan dalam waktu dua tahun mengingat keadaan financial, lalu di saat yang sama kami membungkus diri dalam bingkai KEIKHLASAN dan menyadari kenyataan yang harus kami hadapi.&lt;br /&gt;Ketika kami benar-benar menerimanya, beberapa bulan kemudian MUKZIZAT itu datang, kami mendapat Vonis baru, Istriku dinyatakan telah hamil (tentunya saja setelah melalui 2 kali test urine dan diperkuat dengan pernyataan dokter)&lt;br /&gt;Setelah itu, maka semua pihak pun merasa berjasa akan kehamilan itu, ada yang merasa bahwa suplemen yang mereka tawarkan kepada kami telah berhasil, ada yang merasa karena nasehat merekalah semua ini dapat terjadi, ada juga yang merasa karena obat penguat yang disuguhkan kepada kami, ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah buah dari karma baik yang kami tanamkan, ada yang mengatakan bahwa kami telah siap menerima kehadiran sang bayi dan masih banyak lagi yang lain. Begitu banyak yang merasa bertanggungjawab di sini, yang memang metode yang mereka suguhkan pad kami sudah pernah kami coba dan kami jalani sebelumnya. Lalu ketika hendak diklaim siapa sebenarnya yang telah berhasil memenangkannya, kami katakan SEMUA telah berjasa.&lt;br /&gt;Ketika KEIKHLASAN berkolaborasi dengan semua unsur penunjang ini, maka akan melahirkan sebuah KEAJAIBAN, sebuah MUKZIZAT.&lt;br /&gt;Dan Mukzizat ini telah menghantarkan kami menunggu kehadiran Putra kami yang pertama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IKHLAS DENGAN AKTIF&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas dengan aktif berarti menerima keadaan dan kenyataan yang kita hadapi sekaligus berusaha mencari solusi dalam menyelesaikan masalah atau problem yang terjadi, bukan berdiam diri.&lt;br /&gt;Ketika kita tersandung dan terjatuh dalam hidup ini, kita akan merasakan sakit, konsep pemikiran IKHLAS dengan Aktif mengajak kita menyadari bahwa kita telah jatuh dan kita sakit karenanya (bukan malah mengingkarinya, bukan malah menolak sakit tersebut, bukan mencari-cari sebab kejatuhan secara berlebihan, bukan mencari kambing hitam untuk disalahkan atau malah melarikan diri dari tanggungjawab atas permasalahan tersebut), ketika kita menerima kenyataan tersebut sebagai bagian dari kehidupan kita yang tak terpisahkan dari kita, kita menerima kenyataan tersebut dengan tidak meratapinya, maka kepasrahan kita ini akan membuat sakit hanya sebatas SAKIT saja, tidak berkembang menjadi berlipat-lipat akibat penolakan kita, tidak berkembang menjadi berkali-kali akibat ketidakmampuan kita menerima hal tersebut. (Pasrah aktif bukan membiarkan luka kita tanpa diobati dan bernanah kemudian)&lt;br /&gt;Yang perlu kita lakukan setelah menyadari rasa sakit itu hanya satu, OBATI. Berikan obat dan selanjutnya biarkan waktu yang bekerja menyembuhkannya secara alami, tidak dipaksakan. (Ada kalanya satu-satunya obat untuk permasalahan itu adalah PENERIMAAN, Keikhlasan itu sendiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekali lagi, kolaborasi antara Keikhlasan dan aktivitas pengobatan yang kita lakukan akan mendatang Keajaiban, mendatangkan Mukzizat dalam hidup kita.&lt;br /&gt;Mendatangkan Sang buah hati yang kita dambakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Mencoba!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-3593861675653873062?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/3593861675653873062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=3593861675653873062&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3593861675653873062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3593861675653873062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/11/apakah-anda-pernah-punya-masalah-untuk.html' title='Mukzizat Keikhlasan'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-576029737287485736</id><published>2008-11-14T00:57:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T00:58:25.720-08:00</updated><title type='text'>I Love You, Mom</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebelum kita berbicara lebih panjang lebar tentang Hari Ibu, sebelum kita berbicara lebih lanjut mengenai betapa besarnya kasih bunda, sebelum kita mengklaim betapa kita juga mencintai mama, mari kita lakukan percobaan sederhana di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita ditanya “Apakah Anda mencintai Mama?”, maka saya yakin semua akan menjawab dengan lantang, penuh percaya diri “Saya mencintai Mama, bahkan saya sangat mencintai beliau” Nah, sekarang mari  kita mulai percobaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Percobaan “I Love You Mom”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekarang coba temui Mama, lihat matanya dengan kasih, lalu katakan “I love You Mom” (Kalau perlu cium pipinya atau peluk dirinya)&lt;br /&gt;Apa yang kita rasakan pada saat itu?  Dapatkah kita melakukannya tanpa beban?  Apakah Anda malah tertawa karena tak terbiasa dengan adegan  yang  menurut Anda kesannya “terlalu sentimentil”, atau pada saat ini Anda malah sudah merinding membayangkan untuk melakukan hal itu?.  Untuk hal yang sederhana ini, mari kita simpan jawaban ini untuk diri kita masing-masing, kita tak usah mengatakan apa-apa, cukup menyadari bahwa betapa cinta kita tidak sebanding dengan kasih Ibu yang telah membesarkan kita.&lt;br /&gt;Sebagai pembanding, ketika kita dulu berada dipelukkan mama, Mama tak henti-hentinya mencium kita, memeluk kita, menyatakan cintanya tanpa segan-segan, lalu melalui percobaan sederhana ini kita seakan dihadapkan pada sebuah cermin besar yang memantulkan intensitas cinta kita pada Bunda yang penyayang.  Redupkah cinta kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembanding lain, beberapa waktu lalu saya mendapati sebuah email yang bercerita tentang kasih Ibu, izinkanlah saya membuka email ini untuk kita semua dengan versi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.&lt;br /&gt;Ketika untuk pertama kali kita tampil di dunia ini, Mama telah berjuang keras menahan sakit, mengerang selama beberapa jam bahkan kadang berhari-hari, dan sebagai balasannya kita lahir dengan tangisan keras.   Semenjak hari itu, cacatan panjang pengorbanan bunda tertulis dalam sejarah hidup kita, kita kadang kadang lupa bahkan sengaja melupakanya.  (Hal ini semakin jelas, ketika kita kelak  menantikan kelahiran anak pertama kita, kita akan segera tahu  bahwa sungguh satu pengorbanan yang besar ketika seorang ibu mengandung selama 9 bulan lamanya, ada satu perjuangan yang luar biasa untuk menanti kelahiran buah hatinya)&lt;br /&gt;Mari kita flash back dan bandingkan dengan apa yang kita lakukan untuk bunda kita, melalui sebuah cerita kehidupan si kecil yang kini telah bernama Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bayi kecil itu dilahirkan, Mama dengan welas asih membasuh tubuhnya, membersihkan muntahannya, lalu sebagai balasannya si bayi kecil merengek sepanjang hari, dan sang mama pun harus terjaga dan berusaha meninabobokannya.&lt;br /&gt;Ketika bayi kecil itu bertumbuh dewasa, Kita malah takut dengan muntahan mama, alasannya simple saja “Jijik”, Kta malah menyuruh pembantu untuk membersihkannya untuk Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya mama mulai mengajari si kecil  “Bagaimana cara berjalan?”,  waktu itu si kecil  malah kabur ketika beliau memanggilnya.&lt;br /&gt;Lalu ketika si kecil sudah beranjak dewasa, dan sang mama sudah rentan serta tak mampu untuk berjalan, Kita malah tak punya sedikit pun waktu untuk membawa beliau melihat pemandangan luar, Kita malah mengurungnya di kamar dengan alasan “KESELAMATAN”, Kita malah membiarkannya sendiri dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kecil juga kemudian disuapin dengan makanan yang bergizi dengan kasih sayang, sebagai balasannya si kecil yang nakal ini malah membuang piring berisi makanan ke lantai, lalu dengan sabar mama kembali menyuapinya kembali.&lt;br /&gt;Ketika si kecil telah dewasa, dan ketika mama yang telah tua menjatuhkan piringnya tanpa sengaja, Kita segera mengantikan piring-piring kaca itu dengan piring plastik yang paling murah agar tidak pecah berantakan ketika terjatuh kelak, Kita malah membiarkan mama menyuapi diri sendiri dengan tangan gemetaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usianya yang ke-4, mama memberikan  pensil berwarna untuk si kecil, sebagai bentuk kreatifitas si kecil malah mencoret-coreti tembok rumah dan meja makan, berikutnya mama malah memberikan sebuah kamar cantik, lengkap dengan papan tulis di sana.&lt;br /&gt;Lagi-lagi ketika si kecil telah didewasakan oleh waktu, kamar Mama malah tak pernah direnovasi, mama malah harus cukup puas tidur di kamar yang pengap dan gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa kecil kita,  Mama juga tak pernah lupa memberikan baju-baju yang mahal dan indah, terutama ketika hari raya atau hari ulang tahun kita,  tapi si kecil yang nakal malah memakainya bermain di kubangan lumpur.  Mama juga pernah memberikan bola kaki, lalu si kecil malah melemparkannya ke jendela tetangga. &lt;br /&gt;Ketika Kita telah dewasa, Kita malah lupa memberikan kado yang indah pada mama di hari ulang tahunnya, bahkan kalimat “Selamat Ulang Tahun, Ma” pun tak pernah Kita ucapkan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia ke-6, Mama mengantar si kecil ke sekolah, sebagai balasan si kecil malah berteriak “Nggak Mau”, lalu selanjutnya Mama harus membayar mahal untuk kursus-kursus pendukung pendidikan Kita, sebagai balasannya Kita malah sering bolos dan tidak mau belajar sama sekali.&lt;br /&gt;Anehnya, setelah Kita dewasa, ketika Kita gagal dalam pendidikan, Kita malah menyalahkan Mama yang terlalu mencampuri urusan belajar Kita. Dan ketika berhasil pun Kita sering lupa menyebutkan jasa bunda yang telah menyekolahkan Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kita diminta mama membersihkan rumah, menyuci pakaian, melap meja makan,  Kita yang mulai beranjak remaja malah menagih BIAYA service  selama membantu mama, sebagai balasannya mama lalu memberikan sebuah bon pelunasan atas service-nya selamanya, mama katakan bahwa apa saja yang mama berikan selama ini, termasuk mengandung selama 9 bulan, memasak, memandikan, dan service-service lainnya adalah GRATIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Kita remaja, Kita di antar mama ke mana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun, sebagai balasannya Kita melompat keluar dari mobil tanpa memberi salam, bahkan sampai saat ini, Kita tak pernah meminta izin mama ketika hendak keluar, Kita tak pernah menyapa Mama ketika pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di ulang tahun Kita yang ke-17, Kita malah berpesta pora dengan teman sampai larut malam, sementara mama menunggu dengan cemas, ditemani kue ulang tahun yang belum dinyalakan, padahal  tepat 17 tahun lalu Mama berjuang keras dalam proses kelahiran Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kita lulus dari SMA, Mama menangis terharu, ia ingin memeluk Kita merayakan kelulusan itu, sebagai balasannya Kita malah berpesta dengan teman-teman sampai pagi, dan ketika untuk kali pertama Mama mengantar Kita ke kampus, Kita malah melarangnya, alasannya “Malu dilihat teman-teman”,  Dan celakanya, sampai hari ini pun Kita masih malu ketika  bersama dengan Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Kita lulus dari perguruan tinggi, Mama membantu Kita mencarikan pekerjaan yang baik untuk Kita, sebagai balasannya Kita malah meremehkan pekerjaan tersebut.   Kita malah meminta Mama menjual rumah yang “Terlalu Besar“ itu, sebagai gantinya Mama harus pindah ke rumah kecil di pinggiran kota, lalu sisanya dijadikan modal untuk usaha.   Kita berjanji akan membelikan Rumah yang lebih megah kalau usahanya berhasil.&lt;br /&gt;Nyatanya, setelah bisnis berjalan lancar, Mama masih tinggal di rumah kecil di pinggiran kota, alasannya dananya telah dialokasikan untuk “Biaya Pernikahan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama pun bersuka cita menyambut pernikahan itu, malah Mama dengan senang hati membantu membiayai pernikahan itu, sebagai balasannya kita malah membeli sebuah rumah baru yang jaraknya lebih 500 km  dari rumah Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelahiran putra pertama, Mama segera menjual rumahnya di pinggiran kota untuk tinggal bersama dan menjaga cucu pertamanya, tapi sebagai balasannya lagi-lagi Kita malah tempatkan beliau di rumah panti jompo, alasannya, “Agar di sana ada yang menemaninya, Kita terlalu sibuk dengan urusan kantor, dan cucunya ada baby sister yang menjaganya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Mama yang kesepian menelepon Kita dan memberitahukan kalau ada pesta dari salah satu saudara dekatnya, sebagai balasannya Kita malah pergi sendiri dan membiarkan Mama kembali duduk dalam kesendiriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usianya yang kian larut, Mama mulai sakit-sakitan dan memerlukan perawatan khusus, Kita malah tak punya waktu untuk berkunjung karena SIBUK, untuk membawanya ke rumah Kita takut setelah membaca tentang pengaruh negative orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya.&lt;br /&gt;Dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang, tiba-tiba saja Kita  teringat dengan semua yang belum pernah kamu lakukan,  dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari, sekali lagi kita baca riwayat sang Mama dan anaknya yang bernama Kita,&lt;br /&gt;Apa tanggapannya? “Apakah  Sang Kita itu GUE BANGET?”&lt;br /&gt;Bukankah si Kita itu hampir mirip dengan kita dalam keseharian?  Saudaraku, jangan sempat ketika kita menyadarinya, semuanya telah terlambat, kala itu kita hanya mampu mengucapkan “I Love You, Mom” lewat doa atau mimpi kita saja, pelukan hangat Mama hanya bisa kita rasakan lewat  pembayangan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada  yang bertanya, suatu hari ketika kita telah berkeluarga, Jika jumlah kasih sayang kita adalah 100%, bagaimana cara kita membagikan kasih sayang kita pada Mama, Papa, Istri dan Anak serta lainnya. Maka jawabannya adalah 100%, 100%, 100%, 100% dan 100%, karena cinta tak akan berkurang sedikitpun ketika dibagikan. Cinta seperti  nyala dari sebuah lilin, ketika nyala itu kita bagikan kepada yang lain, intensitasnya tak akan berkurang sedikitpun malah ruang  akan semakin bercahaya oleh nyala lilin-lilin tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, semasa masih ada waktu, semasa Mama masih di samping kita, katakan padanya saat ini “I Love You, Mom”, dan wujudkan cinta kita tidak hanya dalam kata, tapi juga perbuatan, dan andai  Anda seperti saya yang telah lama merindukan Mama (Saya enggan memakai kata kehilangan, karena saya selalu merasa Mama ada di hatiku, dan aku tak merasa telah menghilangkannya), setidaknya kita masih dapat bertemu dengan Mama lewat doa atau mimpi, dan Mama akan hadir dalam setiap langkah kita yang didasari dengan cinta kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam peluk dan cium untuk Mama-mama semua.&lt;br /&gt;I Love You, Mom!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-576029737287485736?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/576029737287485736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=576029737287485736&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/576029737287485736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/576029737287485736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/11/i-love-you-mom.html' title='I Love You, Mom'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-3739872852349823857</id><published>2008-11-14T00:56:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T00:57:13.841-08:00</updated><title type='text'>Miracle of Love</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Keajaiban !&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bicarakan mengenai keajaiban, maka benak kita akan menerawang jauh ke dunia penuh kejutan. Mungkin di pikiran kita akan segera terisi oleh bayangan seorang ilusionis yang berjalan menembus tembok atau terbang melayang di angkasa. Mungkin juga transformasi seorang nenek menjadi gadis cantik.   Ketika kita kumpulan semua yang ada di benak kita saat ini dan bayang-bayang keajaiban yang ada di dalamnya,  kita akan segera mengetahui ada keajaiban besar yang terlupakan oleh kita.&lt;br /&gt;Ilustrasi di bawah ini mungkin akan mengingatkan kita kembali pada keajaiban tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah ruang kelas, sekelompok anak sedang mendapat tugas untuk menuliskan 7 keajaiban dunia.  Mereka mulai menuliskan satu persatu keajaiban dunia yang mereka dapatkan dari pelajaran geografi, mulai dari Piramida di Mesir sampai dengan The Great Wall di China.  Tampak seorang bocah yang sepertinya kebingungan dengan tugas tersebut, Sang Guru pun bertanya padanya “Apakah ada kesulitan dalam daftar itu?” Bocah itu lalu berkata “saya kesulitan untuk memilih 7 dari sekian keajaiban yang ada.” &lt;br /&gt;Lalu Sang Guru kembali bertanya “Apa itu nak?”&lt;br /&gt;Sang Guru terhenyak sejenak, dia sungguh terkejut ketika ia melihat apa yang ada di daftar panjang Bocah kecil itu, ia juga seperti kita melupakan keajaiban-keajaiban kecil.&lt;br /&gt;Di daftar itu tertera hal biasa yang luar biasa, “BISA MELIHAT, BISA MENDENGAR, BISA TERTAWA, BISA TERSENYUM, BISA MERASAKAN, BISA MENGASIHI dan BISA MENCINTAI” adalah keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CINTA KASIH adalah salah satu keajaiban kecil yang akan kita bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih adalah satu keajaiban Alam terbesar, kekuatannya mengikat dan merekat kita dalam kebersamaan untuk membangun kedamaian dan kebahagian.&lt;br /&gt;Kasih membuat kita saling menghargai dan menghormati, kasih membuat seorang Ibu merelakan dirinya untuk kebahagiaan anaknya, kasih membuat dua kubu yang bermusuhan untuk saling berjabat tangan, Kasih pula yang membuat dunia ini tidak terjerumus dalam perang dunia ke tiga sampai saat ini.&lt;br /&gt;Bayangkan betapa ajaibnya kekuatan Kasih yang tumbuh dalam diri kita untuk membendung datangnya zaman kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair ini akan mungkin akan membuka mata hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah memperdaya orang lain atau menghina siapa pun, di mana pun.&lt;br /&gt;Dalam kemarahan atau kebencian janganlah ia berniat melukai orang lain.&lt;br /&gt;Seperti seorang ibu yang melindungi anak tunggalnya, Sekalipun mengorbankan hidupnya,&lt;br /&gt;Seperti itu juga, biarlah ia menumbuhkan kasih yang tak terbatas terhadap semua makhluk.&lt;br /&gt;Kasih pada dasarnya adalah proses memberi, suatu proses tanpa pamrih, tanpa memungut bayaran dan tanpa memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah melihat “Talk show – Oprah” di sebuah stasiun televisi yang menguak tentang kehidupan para istri muda (karena usianya memang sangat belia, bahkan masih tergolang anak-anak) di Ethopia. Karena kondisi tubuhnya yang masih belia dan faktor fasilitas kesehatan yang kurang, mereka harus menderita suatu penyakit ketika terpaksa harus melahirkan. Mereka kemudian ditelantarkan.  Tapi berkat ulurkan tangan beberapa orang para dermawan, mereka akhirnya dirawat di sebuah rumah sakit dan mereka menemukan kebahagiaan mereka kembali. Ada air mata kebahagian ketika mereka dirangkul dalam kebersamaan.&lt;br /&gt;Air mata saya sempat ikut mengalir perlahan menuruni pipi ini, mungkin ada yang mengatakan saya cenggeng, tapi ada perasaan luar biasa yang mengalir bersama kehangatan air mata itu.&lt;br /&gt;Perasaan yang jauh berbeda ketika air mata itu harus jatuh karena kesedihan.&lt;br /&gt;Saya sebut air mata itu, air mata Kasih.&lt;br /&gt;Hanya keajaiban kasih yang mampu membuat air mata ini turun dan menghangatkan perasaanku dengan luar biasa mesranya.&lt;br /&gt;Mungkin kita semua pernah merasakan perasaan ini, mungkin juga banyak di antara kita yang telah melupakannya. Saat ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk mengingatnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama Cinta, seorang pemuda pecandu rokok dapat membuang kebiasaan jeleknya. Bukankah itu luar biasa indahnya.  Sesuatu yang dimulai dengan Cinta, akan berakhir dengan keindahan, kedamaian dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;Tapi, berhati-hatilah dengan  Cinta Semu  (baca Napsu), karena ketika hal ini muncul, ia akan berakhir dengan permasalahan. Pada cinta semu, yang muncul ada EGO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita diberi pertanyaan “Manakah yang kita pilih, lebih baik memberi atau lebih baik menerima?” Jika pilihan kita adalah memberi, kita sesungguhnya adalah insan yang KAYA, karena orang KAYA-lah yang mampu memberi, orang yang kaya akan KASIH yang mampu merelakan bagiannya bagi orang-orang yang di sekitarnya, terutama bagi orang-orang yang dikasihinya. Dan untuk menumbuhkannya, marilah kita mulai dari Rumah.  Mari kita tanamkan pada Ayah, Ibu, saudara-saudara kita, pada anak-anak kita, pada pasangan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dari sana akan timbul keajaiban-keajaiban kecil, yaitu kebahagian dan kedamaian yang datang terbawa oleh gelombang kasih sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setiap Rumah membuat keajaiban-keajaiban kecil di dalamnya, maka dengan berpegangan tangan, kita akan bersama-sama membuat satu keajaiban besar yang luar biasa indahnya.  Kita akan menciptakan SURGA di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi?&lt;br /&gt;Ya, tapi akan menjadi KENYATAAN, jika kita semua menginginkannya.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-3739872852349823857?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/3739872852349823857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=3739872852349823857&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3739872852349823857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3739872852349823857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/11/miracle-of-love.html' title='Miracle of Love'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-1145305739264708783</id><published>2008-11-14T00:54:00.002-08:00</published><updated>2008-11-14T00:56:19.741-08:00</updated><title type='text'>Law of Love</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mari kita kembali bicara mengenai cinta, mengenai Hukum 100 % tentang Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jika besarnya Cinta dalam diri kita adalah 100% (kekuatan penuh), maka berapakah komposisi ideal yang harus kita bagi untuk diri kita sendiri dan orang yang kita cintainya (pasangan hidup kita misalnya)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pilihan pertama kita adalah 80% - 20% (Cinta bagi diri kita sendiri – Cinta untuk pasangan)&lt;br /&gt;Pilihan ini menunjukkan bahwa kita lebih mencintai diri kita sendiri dibandingkan dengan cinta kita pada pasangan kita (atau orang lain yang kita kasihi), komposisi cinta seperti ini kurang ideal karena perasaan egois dan mau menang sendiri akan lebih bermain di sini, cinta yang dibangun dengan komposisi seperti ini cenderung hanya akan mendatangkan konflik.  Kita menjadi tak segan-segan menyingkirkan orang lain demi kepentingan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan pilihan 20% - 80% ?&lt;br /&gt;Kebalikannya, mencintai orang lain di luar diri kita adalah baik, tapi jika kita tidak mencintai diri kita sendiri juga adalah petaka.  Berapa banyak teman kita yang terjerumus dalam Narkoba? Yang harus menderita karenanya, Itu adalah salah satu contoh rendahnya prosentasi cinta pada diri sendiri. (Yang selanjutnya akan meruntuhkan cinta kita kepada orang lain)&lt;br /&gt;Atau seorang ibu (orang tua tunggal) yang tidak memperhatikan kesehatannya berjuang mati-matian untuk menghidupi kedua anak yang dicintainya adalah contoh berikutnya.  Lalu apa yang salah?  Ketika sang ibu tidak memperhatikan cintanya pada diri sendiri, maka ibarat mesin yang tak pernah diurus, suatu saat akan rusak juga. Akan lebih terasa lagi ketika kerusakan itu terjadi pada saat produktifitas sang ibu ini masih sangat dibutuhkan untuk menopang hidup keluarga tersebut.  Pada saat itu, sang ibu bukan saja membuat dirinya sendiri menderita, tapi juga kedua anaknya yang sangat ia kasihi (yang diklaim melebihi kasihi terhadap diri sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah komposisi ideal itu 50% - 50% ?&lt;br /&gt;Supaya adil, mungkin ini alasan kita memilih komposisi ini.&lt;br /&gt;Lagi-lagi komposisi seperti ini juga tidak ideal, kita tidak maksimal dalam mencurahkan cinta, baik bagi diri kita sendiri ataupun bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lilin Cinta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita menemukan komposisi ideal itu, mari kita katup mata kita, kita biarkan diri kita dalam keheningan.  Kita bayangkan bahwa saat ini ada kegelapan yang menyelimuti kita, tak ada setitik cahaya pun yang menerjang memasuki ruangan itu.  Lalu di tangan kita ada sebuah lilin kecil yang memancarkan cahaya, menerangi ruangan itu. &lt;br /&gt;Jika kita tidak sendirian di ruangan itu, jika di ruangan itu masih ada yang lain dengan masing-masing memegang sebatang lilin kecil, akankah kita membagikan nyala lilin yang ada di tangan kita?&lt;br /&gt;Semua mungkin akan mengatakan YA.&lt;br /&gt;Lalu kenapa kita mau melakukanya?&lt;br /&gt;Alasannya, karena ketika kita membagikan nyala (cahaya) itu kepada yang lain, cahaya lilin kita tidak berkurang itensitasnya,  tidak sedikit pun. Bahkan ruangan akan semakin bercahaya dengan nyala lilin-lilin yang lain, ruangan akan semakin terang karena kita telah berbagi dengan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti cahaya lilin itulah Cinta, cinta tak akan berkurang sedikitpun intensitasnya ketika dibagi dengan sesama, bahkan cinta akan bersemi dan semakin berkembang, jika masing-masing dari diri kita menyalakan lilin-lilin itu dan kembali membagikannya pada yang lain. Maka dunia akan diterangi oleh cahaya Cinta.&lt;br /&gt;Dan ketika kita ditanya kembali, berapa komposisi ideal untuk sebuah Cinta?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maka dengan mantap kita menyatakan 100% - 100%&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terakhir, berapa komposisi ideal untuk sebuah cinta yang dibagikan untuk diri kita sendiri, ayah kita, ibu kita, suami/istri kita, anak-anak kita, saudara kita, family kita, teman kita bahkan musuh kita.&lt;br /&gt;Maka jawabannya adalah : 100 %, 100 %, 100%, 100%, 100 %, 100 %, 100%, 100%, 100%&lt;br /&gt;Karena Cinta tidak akan berkurang sedikitpun ketika dibagikan untuk yang lain, bahkan ia akan semakin bersemi seperti cahaya lilin yang kita bagikan untuk yang lain, ia akan mencahayai dan menerangi dunia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-1145305739264708783?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/1145305739264708783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=1145305739264708783&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/1145305739264708783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/1145305739264708783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/11/law-of-love.html' title='Law of Love'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-4706112148173827992</id><published>2008-11-14T00:54:00.001-08:00</published><updated>2008-11-14T00:54:45.180-08:00</updated><title type='text'>Bunuhlah Aku</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Benar!&lt;br /&gt;Bunuhlah AKU jika tidak ingin menderita, atau setidaknya lepaskan AKU agar  menjadi milik dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda bingung, tapi mari kita melakukan percobaan sederhana di bawah ini,&lt;br /&gt;Apa reaksi Anda jika ada “Sepeda motor  yang hilang ?”&lt;br /&gt;Anda mungkin akan menjawab itu adalah hal biasa, dan terjadi hampir setiap hari di negera ini.  Anda bahkan mungkin tidak bereaksi sama sekali.&lt;br /&gt;Tapi, coba Anda lakukan sekali lagi, kali ini tempatkan diri Anda sebagai “Orang pertama tunggal”&lt;br /&gt;Dan sekarang mari kita lihat reaksi kita ketika “Sepeda motor-KU yang hilang”&lt;br /&gt;Apakah Anda masih bisa berkata biasa saja dan tak beraksi?&lt;br /&gt;Saya ragukan hal tersebut, mungkin waktu itu Anda mengutuk habis orang yang telah menghilangkan sepeda motor Anda, menuding semua yang mungkin terlibat di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu akhiran yang begitu powerful, setiap benda yang tersentuh oleh akhiran “KU” segera mengikat kita  dan menjadi sumber penderitaan kita.  Kita sering bertikai gara-gara AKU, memperebutkan kepemilikan sah dari akhiran itu. (bahkan saling melukai karenanya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku ketika berubah menjadi buku-Ku akan segera meninggalkan luka ketika kelak benda tersebut tergores, hilang atau musnah. (bahkan semua benda, tanpa terkecuali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya ketika mobilku baru saja dijual kepada orang lain (melepas akhiran-Ku), dan setelahnya mobil itu rusak berat karena tabrakan.  Pada saat itu, bukankah kita tidak merasakan derita akibat kerusakan tersebut. (mungkin kita hanya sekedar simpati pada orang lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan membunuh AKU mungkin tidak kita dapatkan saat ini, tapi setidaknya kita dapat belajar melepaskan Aku, biarkan  rumah tetap menjadi rumah, mobil tetap menjadi mobil dan buku tetap menjadi buku, tanpa akhiran Ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita mulai dengan praktek “Memberi”, karena dengan memberi  kita belajar melepaskan AKU menjadi milik dunia, bukan milik satu pribadi saja,  karena dengan memberi kita belajar untuk mengurangi dosis derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ccff;"&gt;(Nb. Uluran tangan kita kepada saudara-saudara yang mengalami bencana alam menjadi salah satu opsi sederhana dalam praktek “Memberi”)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Mari kita belajar “Memberi untuk Dunia ini” karena terlalu banyak yang telah kita ambil darinya.&lt;br /&gt;Dan dunia ini akan indah tanpa AKU (Sang EGO)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-4706112148173827992?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/4706112148173827992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=4706112148173827992&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/4706112148173827992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/4706112148173827992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/11/bunuhlah-aku.html' title='Bunuhlah Aku'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-8847917994981708630</id><published>2008-11-14T00:52:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T00:53:31.024-08:00</updated><title type='text'>Belajar dari Sebuah Bakpau</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Inilah letak keindahan hidup ini, ketika kita mengali dan belajar dari hal-hal sederhana seperti dari sebuah bakpau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, istri saya sedang ngidem makan bakpau (maklum, kami memang sedang menunggu kedatangan calon bayi pertama kami, dan sang janin sudah berada di kandungan bundanya sekitar tujuh bulan, ngidem seakan menjadi ritual menjelang kelahirannya),  dan kami pun membeli sebuah bakpau untuk memenuhi ritual tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakpau itu kemudian kami bawa pulang dan diletakkan di meja makan sambil menunggu waktu puncak dari ngidem tersebut tiba. &lt;br /&gt;Setelah waktu berlalu sekitar dua jam, istri saya mendengar ada aktivitas di ruang makan, ketakutannya segera muncul, “Jangan-jangan bakpau itu di makan oleh abang” dan ternyata Benar, ketika istri saya ke ruang makan, bakpaunya di tangan abang sudah tinggal setengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kupikir bakalan terjadi perang dunia ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dugaanku salah, dan aku mensyukurinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku dengan enteng mengatakan “Ya, sudahlah, Nanti malam saya minum Milo saja”&lt;br /&gt;Blink ! Blink ! Blink!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku telah berhasil belajar untuk MEMBERI, Istriku telah berhasil mengalahkan rasa ngidemnya yang luar biasa.  Istriku telah memilih untuk menjadi orang BAHAGIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak gampang untuk memberi ketika kita sendiri punya keinginan begitu kuat untuk memilikinya, dan istriku berhasil melakukannya lewat sebuah bakpau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita bisa mencoba bersama.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-8847917994981708630?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/8847917994981708630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=8847917994981708630&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/8847917994981708630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/8847917994981708630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/11/belajar-dari-sebuah-bakpau.html' title='Belajar dari Sebuah Bakpau'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-4507514253797754950</id><published>2008-11-14T00:51:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T00:52:49.569-08:00</updated><title type='text'>Perahuku</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pernah menaiki  perahu?  Kapal laut atau sejenisnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perahu, dapat digerakkan oleh  alam, dapat pula digerakkan oleh kekuatan sang pendayung. &lt;br /&gt;Tak peduli apakah perahu tersebut bergerak oleh salah satu kekuatan itu atau kolaborasi di antaranya,  yang jelas perahu itu harus diarahkan oleh seorang nahkoda, atau ia akan kehilangan arah dan  tersesat  tanpa mencapai tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyeberangi  lautan luas, gelombang laut menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya, kadang ada gelombang besar yang datang, kadang hanya berupa riak-riak kecil yang mengelitik.&lt;br /&gt;Perahu tanpa nahkoda akan terhempas, rusak bahkan karam ketika badai menerpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perahu Tempatnya adalah di Air&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan Alam seperti badai dan gelombang besar adalah tak terelakan, perahu harus menghadapinya bahkan ketika ia tidak berkeinginan bergerak sama sekali, atau bahkan pada saat  berdiam diri di pelabuhan sekalipun.  Itulah hukum alam, Perahu tempatnya adalah di Air, dan air selalu mengandung gelombang dan riak-riak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam kadang bertindak sebagai pengerak.  Angin dan arus laut akan membuat perahu melaju dengan kencang.  Pada saat itu, nahkoda  akan membuat  perahu tetap terarah dan tidak terbawa arus, kecepatan perahu itu harus dikendalikan, laju yang terlalu kencang tanpa terkendali kadang akan mencampakkannya bahkan meremukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam kadang juga bertindak sebagai “Obstacle”  Pada saat inilah, kemahiran nahkoda dalam mengendalikan perahu diuji,  Kemampuan menggabungkan keahliannya dan pengetahuan alam menjadi sangat penting.  Kesalahan yang kecil sekalipun pada saat badai menerpa akan segera menghancurkan perahu itu berkeping-keping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Metamorphosis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dengan semakin bertambahnya “Jam terbang”, perahu akan semakin kokoh dan mengalami metamorphosis, perahu kayu yang lemah akan segera menjadi kapal laut yang besar, yang lebih stabil, yang lebih tahan menghadapi gelombang besar, yang lebih mampu menampung impian-impian luar biasa, lengkap dengan alat-alat navigasi yang canggih, dengan baling-baling penggerak, dengan system operasional yang jauh lebih baik.   Dan yang tentunya dengan nahkoda yang jauh lebih berpengalaman.  Perahu itu akan di-Up grade dari masa ke masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Disiplin&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam menyeberangi lautan lepas, perahu itu akan membawa penumpangnya. Nahkoda selain mengarahkan perahu tersebut, ia juga harus mampu mengendalikan penumpangnya.  Ia harus berhasil menjinakkan penumpang liar, bahkan menurunkan mereka yang tak mau bekerjasama dengan sang nahkoda. Disiplin harus ditegakkan, jika ia tak ingin perahunya oleng dan terbalik oleh keliaran penumpangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke dunia nyata, jika perahu itu adalah diri kita maka kita sendiri pula yang menahkodainya, kita diberi kuasa penuh untuk mengendalikan diri kita sendiri, mendisiplinkan diri kita sendiri, dengan memberanikan diri membuang penumpang-penumpang liar yang ada di pikiran kita, membuang energi-energi negatif yang mencoba berkembang. &lt;br /&gt;Agar kita menjadi perahu besar yang kokoh dan kuat dalam mengarungi lautan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-4507514253797754950?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/4507514253797754950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=4507514253797754950&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/4507514253797754950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/4507514253797754950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/11/perahuku.html' title='Perahuku'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-5755419938505689980</id><published>2008-10-21T23:39:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T23:40:26.485-07:00</updated><title type='text'>Empat Penjara Hati</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seorang lelaki dengan wajah tertunduk lesu berjalan meninggalkan ruang sidang, ketukan palu sang Hakim telah mengantarnya pergi jauh dari kebebasan, ia akan segera menikmati hari-hari panjangnya di PENJARA.&lt;br /&gt;Ini adalah gambaran keseharian dari sebuah peradilan, gambaran keseharian dari sebuah fenomena kehidupan sosial yang mulai terkontaminasi oleh kuman-kuman kehidupan.&lt;br /&gt;Ada kalanya keahlian berkelit dari “Sang Tersangka” melepaskannya dari jeratan PENJARA Jasmani, tapi “Sang Pelaku” tidak akan pernah lepas dari Empat PENJARA Hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Penjara Pertama adalah Jail of Hatred&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penjara pertama adalah kebencian, Ketika hati kita dipenjara oleh kebencian kita akan cenderung menjadi ganas, ada luapan emosi yang membara, tak terkendali, menunggu waktu letupan.&lt;br /&gt;Penjara pertama ini membuat kita menderita lebih dari yang kita perhitungkan, Penjara ini malah membuat kita melukai diri sendiri dengan gambaran yang berulang-ulang di benak kita, gambaran dari sumber kebencian kita, gambaran yang sesungguhnya hanya dari alam MAYA, dari alam bawah sadar kita.  Ada sakit yang luar biasa, ketika seorang atau sesuatu yang kita benci melewati jarak pandang kita, radar ngilu di hati segera berbunyi walau seseorang atau sesuatu itu tidak menyentuh kita sedikit pun, bahkan mungkin tak mengetahui keberadaan kita.  Rekaman rasa sakit segera diputar berulang-ulang di benak kita, kita akan mengalami penyiksaan bathin berkali-kali untuk satu peristiwa yang sama.&lt;br /&gt;Kala Penjara ini menutup hati kita,   kita akan menerima bola-bola lumpur yang siap kita lemparkan kepada mereka yang berada dalam list “MUSUH”. Ketika kita meluncurkan bola itu, ada dua hal yang mungkin terjadi.  Pertama, yang dilempar tidak mengelak dan menerima bola lumpur itu sekaligus ikut menemani kita dalam perjara pertama atau yang kedua, ia mengelak bahkan tak pernah menganggap bola lumpur itu ada.&lt;br /&gt;Dari dua alternatif di atas, yang pasti kita menjadi korban pertama dari bola lumpur itu, karena bola lumpur itu telah mengotori tangan kita, kita telah masuk ke dalam penjara itu dan teraniaya di sana.&lt;br /&gt; Oleh berlalunya waktu dan penerimaan atas kondisi serta kekuatan memaafkan, penjara ini akan terbuka secara perlahan-lahan, kita akan dibebaskan kembali ke alam netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Penjara Kedua adalah Jail of Greed&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Penjara kedua adalah Ketamakan, ketika mata kita hijau, semua seakan tak pernah tercukupi, kita akan menjadi orang TERMISKIN di dunia, kita cenderung akan mengambil bagian yang bukan menjadi hak kita, kita cenderung merampas hanya untuk memenuhi keinginan yang pada akhirnya tak akan pernah terpenuhi.&lt;br /&gt;Kala Penjara ini menutup hati kita, kita sepertinya terlahir sebagai raksasa dalam dunia kurcaci, tidak ada rasa kecukupan dalam segala hal, kerakusan membawa kita tidak pernah bisa menikmati hidup, selalu ada derita karena merasa tak pernah puas.&lt;br /&gt;Mari kita lihat dunia nyata saat ini, berapa banyak orang yang ingin segera kaya, lalu setelah kaya pingin lebih kaya lagi, padahal orang kaya tanpa kepuasaan sebenarnya adalah orang miskin yang punya banyak uang, fenomena inilah yang membuat kita sering mendengar banyak kasus korupsi yang mewabah bak penyakit menular.&lt;br /&gt;Penjara kedua akan terbuka dan kita akan dibebaskan jika kita telah siap menerima keadaan, merasa puas (bukan pasif tapi aktif, dalam arti tidak tinggal diam) serta mensyukurinya apa yang didapatnya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penjara Ketiga adalah Jail of Jealous&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penjara ketiga adalah Iri hati, ketika benih iri tertanam, kita cenderung tak pernah dapat melihat kebahagiaan orang lain, kita merasa tersaingi, ego kita seakan terhina oleh keberhasilannya, ironisnya kita merasa menderita untuk kebahagiaan itu.&lt;br /&gt;Kala Penjara ini menutup hati kita, kita segera dikenakan kacamata yang membuat kita selalu melihat seolah-olah rumput tetangga selalu lebih hijau dari milik kita. Lalu kita pun merasa alam tidak adil terhadap kita, kita akan segera mempersalahkan sekelilingi kita untuk hal yang tidak kita dapatkan.&lt;br /&gt;Yang mengejutkan malah terjadi pada saat kita mendengar kesuksesan orang yang bermil-mil jauhnya dari kita, apa yang kita rasakan pada saat itu sungguh ironis, kita malah merasa iri (padahal apa hubungannya dengan kita?  Kadang malah tidak ada hubungan sama sekali dengan aktivitas kita, lebih parah lagi kita malah iri dengan teman kita sendiri, dengan saudara kita sendiri, dengan orang-orang yang kita kenal) Hasilnya? Hanyalah penderitaan, ada perasaan tidak mengenakkan di hati.&lt;br /&gt;Penjara ini terbuka ketika hati kita menyadari atas ketidakkekalan (baik kesuksesan atau kegagalan), dan kita dapat menerima keberhasilan orang lain sebagai pemicu keberhasilan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penjara Keempat adalah Jail of Ignorance&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Penjara keempat adalah kebodohan, kebocoran pengetahuan ini membuat kita melakukan tindakan-tindakan bodoh yang bukan hanya merugikan orang lain, tapi lebih terutama merugikan diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Kala Penjara ini menutup hati kita, kabut kebodohan menyelimuti kita, membuat kita tak menyadari bahwa kita telah merusak diri kita sendiri, perlahan tapi pasti kita terjerumus dalam jurang “Ketagihan” yang luar biasa.&lt;br /&gt;Bentuk yang paling sering kita lihat dalam kehidupan ini adalah kecanduan bahan-bahan narkotika, ketika kita terpikat olehnya, kabut kebodohan secara perlahan mengerogoti kita, kita kehilangan harta benda, kita kehilangan kesadaran, kita kehilagan persaudaraan, kita kehilangan segalanya, lalu apa yang kita dapat? Kenikmatan sesaat yang hanya bersifat semu, dan ketika kita kembali ke dunia nyata, sejumlah persoalan nyata telah siap menerkam kita bahkan mungkin dengan kekuatan yang sepuluh kali lipat dari kekuatan semula.&lt;br /&gt;Penjara ini membuat kita kehilangan akal sehat, merokok merupakan contoh dalam bentuk sederhananya (sebelum berkembang menjadi kronis).&lt;br /&gt;Lalu, penjara ini akan terbuka jika kita isi hati dan pikiran kita dengan pengetahuan-pengetahuan yang berguna, terutama pengetahuan MORAL dan AGAMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat penjara ini ada dan terus ada di samping kita, kita hanya perlu menjaga hati ini agar tidak terpenjara di dalamnya. Benar kata AA Gym, “Jagalah hati, jangan kau kotorin. Jagalah hati, lentera hidup ini. Jagalah Hati, jangan kau nodai. Jagalah hati, cahaya illahi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah berbuat kejahatan, perbanyak berbuat kebajikan, sucikan hati dan pikiran, itulah ajaran semua Guru” Petuah-petuah ini mungkin akan membuat kita terhindar dari empat penjara hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-5755419938505689980?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/5755419938505689980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=5755419938505689980&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/5755419938505689980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/5755419938505689980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/10/empat-penjara-hati.html' title='Empat Penjara Hati'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-8098814452326398059</id><published>2008-10-21T23:36:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T23:37:08.851-07:00</updated><title type='text'>Jatuh dengan Gaya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Setiap orang pernah jatuh, setidaknya saat kita masih kecil dulu, ketika kita baru belajar melangkah untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Adalah hukum alam, jika setiap benda yang naik akan jatuh kembali.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Semakin tinggi titik baliknya, maka semakin besar kerusakan yang akan dialami oleh benda tersebut.&lt;br /&gt;Dan adalah kita salah satu contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita dalam perjalanan ke puncak kejayaan segalanya terasa begitu indah, setiap detik seakan enggan kita lepaskan, dan ingin kita nikmati selamanya. &lt;br /&gt;Tapi ketika titik balik telah tercapai, segalanya berubah, detik-detik kejatuhan pun segera tiba, jatuh adalah hal yang tidak mengenakan sekaligus hal yang tak terelakan.  Pada saat itu kesiapan kita diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan apa yang akan terjadi jika pada saat kita naik di atas puncak tangga, tanpa sengaja tangga tersebut tersenggol dan kita terjatuh seketika karenanya. Kita mungkin akan terkilir, bahkan mengalami patah tulang.  Sekarang, apa yang terjadi jika pada saat tersenggol, tangga masih berada dalam kondisi tidak stabil selama beberapa saat sebelum terjatuh. Kita mungkin tetap akan terjatuh, kita mungkin tetap akan merasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa yang membedakanya?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawabannya adalah Kesiapan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita diberi waktu untuk menyadari bahwa kita akan jatuh, momentum tersebut memberikan kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan kejatuhan kita, dan pada saat tubuh kita menyentuh tanah, sakit mungkin akan segera menggigit kita, tapi kita telah siap untuk itu, kita telah siap untuk sakit, juga kesiapan untuk bangkit kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun kita tidak sempat mempersiapkan kejatuhan kita, itu bukan akhir dari segalanya.&lt;br /&gt;Kita mungkin akan jatuh dengan keras, kita mungkin mengalami kehancuran yang  jauh lebih berat, tapi kita masih sanggup untuk bangkit kembali jika kita mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat akan kejatuhan yang dialami keluarga kami pada tahun 1999, tahun itu kami kehilangan segalanya (bisnis, mobil, rumah bahkan dengan isi-isinya),  Orang tua ku ke Pekan Baru, sementara saya masih tetap di Medan menjalankan aktivitasku dengan sebuah sepeda motor yang kudapat dari gajiku sebagai seorang guru. Tapi ternyata kejatuhan itu masih terus berlanjut, beberapa bulan kemudian sepeda motor yang tinggal satu-satunya harus dimalingi orang.  Saya sering mengatakan “Sudah jatuh, ditimpa tangga, dan diinjak-injak ke tanah”&lt;br /&gt;Tahun itu, saya kehilangan pegangan, saya kehilangan kepercayaan, sampai suatu saat temanku mengembalikannya padaku.&lt;br /&gt;Ia berkata “Jika engkau memiliki sepatu yang biasa saja, melihat orang yang memakai sepatu bermerek, mungkin kamu merasa iri, tapi kamu harus ingat masih banyak yang tidak sanggup membeli sepatu, mereka hanya memakai sandal jepit saja”&lt;br /&gt;Ia kembali melanjutkan “Jika engkau memiliki sandal jepit saja, melihat orang yang memakai sepatu, mungkin kamu merasa iri, tapi kamu harus ingat masih banyak yang tidak sanggup mimiliki alas kaki” dan “Jika engkau berjalan tanpa alas kaki, mungkin kamu merasa iri dengan mereka yang memiliki sandal jepit, tapi kamu harus ingat ada yang sama sekali tidak memiliki kaki”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu saya benar-benar tidak siap untuk jatuh, kejatuhan itu menjadi begitu menyakitkan. Pada saat itu saya merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia, segalanya seakan telah berakhir, sampai seorang teman mengembalikan dunia ini padaku, lewat ucapannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang pernah jatuh, mungkin sedang jatuh, atau akan jatuh.&lt;br /&gt;Adalah lumrah jika kita mengalami,  adalah lumrah jika kadang kita tidak tahu kapan datangnya, adalah lumrah jika kita sakit dan menangis karenanya. &lt;br /&gt;Pada saat  kita jatuh, kita  hanya perlu menemukan sebuah tombol yang membangkitkan spirit kita kembali, mungkin  seperti &lt;strong&gt;“Tombol”&lt;/strong&gt; yang kutemukan pada untai kata-kata nasehat dari seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dan ketika memang harus jatuh, jatuhlah dengan Gaya.&lt;/strong&gt; (seperti sebuah iklan rokok yang pernah saya lihat di TV :  seorang lelaki terjatuh, kemudian dengan gaya break dance ia berdiri kembali, mungkin ia temukan “Tombol dalam bentuk lain”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-8098814452326398059?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/8098814452326398059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=8098814452326398059&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/8098814452326398059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/8098814452326398059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/10/jatuh-dengan-gaya.html' title='Jatuh dengan Gaya'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-1007516998431776376</id><published>2008-10-21T23:33:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T23:34:24.779-07:00</updated><title type='text'>Hanya Empat Huruf dan Satu Detik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Empat huruf yang sederhana dan ketika diucapkan SANGAT TIDAK MEREPOTKAN, hanya memakan waktu 1 detik, tapi huruf-huruf ini sering tertahan di ujung lidah kita, hanya karena EGO.&lt;br /&gt;Lalu efeknya?  Luar biasa!  Ucapkan 1 detik itu akan meninggalkan bekas yang mendalam selama berjam-jam, berhari-hari, bertahun-tahun bahkan EVERLASTING  sepanjang hidup kita.&lt;br /&gt;Apa itu?  &lt;strong&gt;“MAAF”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mari kita mulai dengan Meminta “MAAF”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terlepas apakah maaf kita diterima atau tidak, untuk mengucapkannya saja dibutuhkan keberanian&lt;br /&gt;Suatu hari di tahun 1990an, beberapa jam menjelang pesta pernikahan temanku.  Tiba-tiba  sebuah sepeda motor direm secara mendadak tepat di depan roda dua yang saya kenderai, saya terkejut karena secara mendadak saya dikembalikan dari lamunanku di jalan.&lt;br /&gt;Sejenak saya menatap ke arah pengendara sepeda motor tersebut, tak ada senyum yang kulemparkan, hanya tatapan lurus tanpa ekspresi, lalu segera kubawa roda duaku ke dalam lapangan parkir.  Sejenak kupikir telah usai.&lt;br /&gt;Ternyata tidak, sang bapak pengendera sepeda motor itu mengejar sampai ke lapangan parkir, dan segera digengamnya tanganku dengan keras sambil berkata, “Kamu tak punya mata ya!  Jalan khok tiba-tiba belok dan bla bla bla..”&lt;br /&gt;Selanjutnya, yang saya lakukan adalah hal yang sederhana tersebut, saya katakan “Maaf!” lalu kusalami tangannya.  Hanya itu, dan bapak itu pun berlalu.&lt;br /&gt;Lalu setelahnya, saya berpikir apa yang terjadi jika saya tidak mengucapkan kata tersebut hanya untuk mempertahankan ego,  ceritanya tentu akan lebih panjang dan lebih tidak mengenakkan.&lt;br /&gt;Dan kalau bisa selesai dalam waktu singkat dan memberikan efek yang begitu positif mengapa kita tidak melakukannya dengan meredam keangkuhan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAPAK JUGA BOLEH MEMIJAK KAKI SAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak tampak berdiri dalam sebuah bis yang padat penumpangnya, tanpa sengaja anak tersebut menginjak kaki seorang bapak duduk  di dekatnya.  Sang bapak berdiri dengan marah, ia membentak anak tersebut.  Sambil tertunduk anak itu meminta maaf, tapi ternyata kemarahan bapak itu masih tidak mereda, kembali dimakinya anak tersebut.  Anak itu kembali mengatakan “MAAF”, tapi lagi-lagi sang bapak tidak menanggapinya, malah marahnya makin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;Akhirnya anak itu berkata “Pak, sekali lagi Maaf, saya tidak sengaja menginjak kaki bapak, tapi kalau bapak tidak bisa memaafkan saya, bapak boleh menginjak kaki saya juga khok”&lt;br /&gt;Dan “Blink!” Bapak itu tercerahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SALING MEMAAFKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca sebuah email yang dikirim oleh teman, email itu bercerita tentang kekuatan saling memaafkan di keluarga.&lt;br /&gt;Diceritakan bahwa pada suatu hari  karena terburu-buru ke kantor, sang ayah meninggalkan begitu saja racun serangga di meja, tapi terlebih dahulu ia memberitahukan sang istri untuk menyimpannya  setelah tugas di dapurnya selesai.&lt;br /&gt;Lalu apa yang terjadi kemudian?&lt;br /&gt;Sang anak yang baru bangun dari tidurnya, tanpa sengaja meminum cairan racun tersebut sementara sang ibu masih sibuk dengan pekerjaannya di dapur.&lt;br /&gt;Ketika Sang ibu menyadarinya, si anak telah terkapar dengan mulut berbusa, lalu dengan singgap anak itu dibawa ke rumah sakit terdekat dan Sang ayah pun diberitahukan agar segera ke rumah sakit tersebut.&lt;br /&gt;Singkat kata, Sang ayah akhirnya bertemu dengan sang ibu, sementara si anak di ruang ICU menjalani pengobatannya.&lt;br /&gt;Jika kita diletakkan pada posisi ayah atau ibu, apa yang akan terjadi kemudian?&lt;br /&gt;Di awal saya membayangkan bahwa cerita itu akan menjadi sumber konflik keluarga, ayah akan menyalahkan ibu karena tidak segera menyimpan racun tersebut padahal bapak sudah memberitahukan kepadanya,  lalu ibu tak mau kalah garangnya menyalahkan bapak yang meninggalkan begitu saja racun di meja yang bisa dijangkau anaknya yang kecil itu.&lt;br /&gt;Ternyata, cerita itu tidak mengalir seperti yang saya bayangkan, atau mungkin anda bayangkan (atau yang mungkin akan kita lakukan jika hal ini menimpa kita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ayah segera memeluk istrinya berkata, “Maafkan aku Ma, aku teledor meletakkan racun itu di meja yang bisa dijangkau si kecil”, lalu di sela isak tangisnya, Sang ibu juga berkata “Maafkan aku juga Pa,  aku tidak segera menyimpannya, aku tak menyangka si kecil bangun sepagi itu.”&lt;br /&gt;Lalu mereka berpelukan menunggu kesembuhan si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah bukan!&lt;br /&gt;Indah bukan karena peristiwa naas itu terjadi, tapi indah karena reaksi mereka akan peristiwa itu, indah karena mereka dapat mengalahkan ego mereka masing-masing, untuk tidak saling menyalahkan, untuk saling memaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu telah terjadi, mereka hanya dapat memilih reaksi terhadap peristiwa tersebut, Indahnya, ketika keduanya memilih untuk tidak menjadikannya sumber konflik, tapi mereka memilih untuk saling menguatkan, saling memaafkan.&lt;br /&gt;Apakah Kita juga akan memiliki pilihan yang sama dengan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-1007516998431776376?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/1007516998431776376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=1007516998431776376&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/1007516998431776376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/1007516998431776376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/10/hanya-empat-huruf-dan-satu-detik.html' title='Hanya Empat Huruf dan Satu Detik'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-3298123725329529814</id><published>2008-10-21T23:31:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T23:32:29.378-07:00</updated><title type='text'>Akulah Pemenangnya</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Cerita ini dimulai dari sebuah perlombaan adu diam di sekolah pelatihan mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan perlombaan itu pun dibuat :&lt;br /&gt;Pertama, peserta harus berdiam diri (puasa bicara) selama 24 jam dimulai sejak matahari terbit.&lt;br /&gt;Kedua, tempat pelaksanaan adalah di tengah lapangan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika matahari mulai menampakkan wajahnya, perlombaan itu pun dimulai.&lt;br /&gt;Selama lima jam pertama, semua peserta masih  dapat menahan diri mereka. Menjelang tengah hari, peluh mulai berjatuhan, terik dan haus mulai menyerang.&lt;br /&gt;Di tengah perlombaan tersebut, lewatlah seorang ibu sambil menjinjing botol aqua.&lt;br /&gt;“Bu, tolong bawa aqua itu kemari, kami kehausan nih” kata peserta pertama, rasa hausnya ternyatanya telah membuatnya lupa akan perlombaan yang sedang diikutinya.&lt;br /&gt;“Sssh, kenapa kamu menegur dia, kita khan masih dalam perlombaan” kata peserta kedua, berusaha mengingatkan temannya.&lt;br /&gt;“Nah, kamu dan kamu telah gugur dalam perlombaan ini, kalian telah melanggar aturan mainnya, kalian telah bicara” kata peserta ketiga.&lt;br /&gt;“Dasar bodoh, kenapa kamu ikut berbicara?” Tanya peserta keempat tak mau kalah.&lt;br /&gt;“Hahahaha, hanya aku yang tidak berbicara” kata peserta terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, perlombaan itu berakhir tanpa pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering menyibukkan diri kita memperhatikan orang lain, melihat kesalahan orang yang sekecil apapun dengan sebuah mikroskop kesinisan, melihat kekeliruan yang begitu jauh dengan teleskop keingintahuan.  Tapi kita lupa melihat diri kita, dan untuk  itu  kita hanya memerlukan sebuah Cermin kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat ! Ketika telunjuk kita tertuju pada orang lain, empat jari tangan lainnya selalu menunjukkan pada diri kita sendiri. &lt;br /&gt;Mari kita bercermin sebelum kita menuding orang lain!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-3298123725329529814?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/3298123725329529814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=3298123725329529814&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3298123725329529814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3298123725329529814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/10/akulah-pemenangnya.html' title='Akulah Pemenangnya'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-2806160587058713153</id><published>2008-10-21T23:28:00.001-07:00</published><updated>2008-10-21T23:28:57.967-07:00</updated><title type='text'>Kampung Suka Vs Kampung Duka</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Suatu saat, Tuhan membentuk sekumpulan makhluk baru, species baru ini merupakan turunan dari Homo Sapiens (manusia jaman sekarang), yang membedakannya dengan postur kita saat ini adalah bahwa mulut dari makhluk ini tidak terletak di depan, tapi di belakang kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, Tuhan meletakkan makhluk ciptaanNya itu ke dalam sebuah perkampungan dengan kakayaan alam yang berlimpah, dan membiarkan mereka beranak-pinak di sana. Dan setelahnya, alam mulai bekerjasama dengan waktu membentuk ekosistemnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Seleksi alam (natural Selection) yang memakan waktu yang cukup panjang akhirnya terbentuk dua kelompok utama yang menempati dua daerah yang berbeda.  Kelompok pertama menamakan dirinya Kampung Duka, dan kelompok yang lain menamakan dirinya Kampung Suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kampung Duka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan namanya, penduduk di sana merasa hidupnya selalu dirundung duka, wajah sedih menjadi hiasan keseharian dari penduduk di sana, ditambah dengan tubuhnya yang kurus seperti kekurangan makanan, padahal kekayaan alam Kampung Duka berlimpah ruah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kampung Suka&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Walau dilahirkan dari species yang sama, dari keturunan yang sama, bahkan dengan kekayaan alam yang lebih minim jika dibandingkan dengan Kampung Duka, anehnya penduduk Kampung Suka selalu tampak bahagia, wajah ceriah menjadi hiasan keseharian penduduk di sana.  Mereka tampak gemuk-gemuk dan sehat.  Di hampir setiap sudut pemukiman tersebut ditemukan cermin-cermin besar yang ditata dengan rapi dan apik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat,  Sang Malaikat penjaga Kampung itu datang mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi dengan species baru itu, bagaimana kedua kampung itu terbentuk dan kenapa kampung-kampung itu terbentuk? padahal ketika Tuhan menciptakan species itu, Tuhan tidak pernah membeda-bedakan, Tuhan menciptakan satu makhluk yang sama di lingkungan yang sama, pada waktu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kampung Duka &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Penduduk kampung itu segera berkumpul ketika mengetahui Malaikat mereka datang, mereka tanpa dikomandani mulai menyampaikan keluhan-keluhan mereka, mereka mengatakan bahwa Tuhan tidak adil, karena memberikan banyak kekayaan alam tapi mulut mereka di belakang kepala, sehingga untuk makan saja mereka mengalami banyak kesulitan ( pandangan mata mereka tak dapat menjangkaunya), tak mengherankan jika mereka kurus-kurus. Mereka terus mengeluh tentang tanah yang terlalu keras, matahari yang terlalu terik, hujan yang begitu deras, bahkan tanaman yang terlalu lam berbuah juga menjadi salah satu keluhan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di Kampung Suka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penduduk kampung itu juga segera berkumpul ketika mengetahui sang Malaikat mereka datang, mereka menyambut sang Malaikat dengan suka cita, dengan rasa syukur.  Mereka mengucapkan terima kasih atas apa yang diberikan Tuhan pada mereka.  Walau dengan mulut yang terletak di belakang kepala, mereka yakin Tuhan punya rencana indah untuk mereka. Ternyata benar, dengan keadaan itu, mereka bisa bekerjasama, saling menyuapi satu sama lain.  Waktu makan menjadi moment yang indah karena kebersamaan.  Walau dengan kondisi alam yang minim kekayaannya, mereka hidup dengan sejahtera dan sehat, mereka tak pernah mengeluh, tapi mencari solusi untuk menyelesaikan problem yang ada. &lt;br /&gt;Banyaknya cermin di hampir setiap sudut kampung mejadi salah satu contoh cara mereka mengatasi kendala yang ada. (Katanya itu digunakan kalau sewaktu-waktu berada dalam kesendirian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengunjungi kedua Kampung itu, Sang Malaikat itu kembali menemui Tuhan, ia melaporkan bahwa semua itu terjadi karena “PILIHAN” mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya kembali teringat dengan tempat parkir mobil di kompleks perumahan kami (yang sebenarnya adalah jalan akses kompleks tersebut), ukuran jalan tersebut hanya sekitar 6 meter, hanya cukup untuk dua mobil saling berselisihan, di sebelah kiri dan kanan jalan itu adalah rumah kami tanpa pekarangan, jadi bisa dipastikan jika setiap rumah memiliki mobil, maka jalan tersebut segera penuh dengan deretan roda empat itu. (sayangnya, kenyataannya adalah demikian, sehingga sering kali kami harus meminta pemilik mobil untuk mengeser mobilnya untuk mengeluarkan mobil yang kebetulan berada di dalam jalan buntu tersebut bahkan lebih sering harus mendorongnya sendiri)&lt;br /&gt;Dan kenyataan ini membuat benturan sering terjadi, percecokan pagi sering tak terhindari.&lt;br /&gt;Pada gilirannya, saya juga menghadapi masalah yang sama (karena memang tinggal di kompeks yang sama), hanya saja, saya memilih untuk menikmatinya, mendorong maju mundur roda empat yang ada, seperti main sebuah puzzle yang memakan waktu lebih dari lima belas menit, tapi itu adalah kenyataan yang harus dihadapi sebelum saya pindah dari kompeks tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegangannya sederhana, “Jika kita bisa mengubah keadaan, maka ubahlah keadaan itu sesuai keinginan kita. Jika tidak, maka terimalah keadaan tersebut, cari solusi untuk membuatnya nyaman”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa saja memilih untuk marah karena jalan keluar mobil saya harus terbendung, tapi tidak saya lakukan, karena hal ini akan saya hadapi setiap hari sebelum saya melangkah keluar dari kompeks tersebut, demikian juga semua tetangga kami itu.&lt;br /&gt;Saya memilih untuk tinggal di Kampung Suka, karena pada dasarnya kami semua menghadapi hal yang sama, kita juga dibakar terik matahari yang sama, hanya pilihan kita yang mungkin berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya memilihnya sebagai olah raga di pagi hari, di antara belantara Kampung Suka.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-2806160587058713153?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/2806160587058713153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=2806160587058713153&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/2806160587058713153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/2806160587058713153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/10/kampung-suka-vs-kampung-duka.html' title='Kampung Suka Vs Kampung Duka'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-6564111005946999259</id><published>2008-10-21T23:22:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T23:24:22.522-07:00</updated><title type='text'>Terang Ketika Listrik Padam</title><content type='html'>Saat ini listrik padam bukan lagi hal yang luar biasa bagi kita, pemadaman bergilir di berbagai daerah menjadi pemandangan yang lazim dalam keadaan krisis energi seperti saat ini.&lt;br /&gt;Mungkin kita semua pernah mengalaminya, ketika kita asyik dengan kegiatan dan aktivitas kita, lalu tiba-tiba segalanya gelap.   Kita kesal dan marah karena file yang sudah dibuat tidak sempat di-save dan harus memulai dari awal lagi, kita kesal karena  pekerjaan kita terhambat karenanya, kita marah karena saat itu pandangan mata kita tidak dapat berkeliaran dengan bebas, sementara kita harus mencari cahaya baru, mungkin dari lilin kecil yang tersimpan entah di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kita mungkin akan meninggalkan pekerjaan kita yang belum selesai dengan kesal atau kita segera melakukan ritual penyalaan genset (atau malah kita senang, karena itu adalah salah satu alasan bagi kita untuk menghentikan aktivitas kita yang menjengkelkan)&lt;br /&gt;Terlepas dari semua hal  tersebut di atas, saya sendiri mempunyai pilihan yang lain, pilihan untuk menemukan penerangan dalam kegelapan, pencerahan dalam krisis global ini (tentunya, sambil menunggu listrik menyala kembali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebatang lilin telah dinyalakan, ada satu pertanyaan muncul dalam benakku, “Khok kita bisa sangat tergantung pada listrik? Mengapa aktivitas harus terhenti gara-gara listrik padam?&lt;br /&gt;Mungkin inilah yang kita sebut dengan “KETERIKATAN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita dilahirkan di dunia ini, kita membentuk keterikatan-keterikatan dengan sekelilingi kita, dengan orang-orang bahkan dengan benda-benda.  Akibatnya, ketika kita menjauh darinya, kita merasa kehilangan dan sangat kehilangan, akibat berikutnya sebagai rentetan peristiwa ini adalah kita akan menderita atas kebutuhan yang tak terpenuhi tersebut. Kita sakit karena untuk selang waktu tertentu ketika kita harus berpisah darinya, semacam kecanduan,  hanya dalam bentuk kadar yang lebih rendah.  Tapi itu saja sudah cukup membuat kita menderita karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita flash back kembali beberapa tahun yang lalu, ketika untuk pertama kali Handphone diperkenalkan kepada kita, tak banyak merasa perlu memilikinya, tapi dengan berjalannya waktu dan atas nama KEMUDAHAN kita menjaring ikatan baru, kita menjadikannya sebagai salah satu kebutuhan, bahkan tidak lagi mengherankan jika kita melihat seorang penjual asongan sedang asyik memakai alat komunikasi yang dimilikinya itu.&lt;br /&gt;Setelah sekian lama kita terikat olehnya, pernahkah suatu hari kita lupa membawanya? Dan apa yang segera muncul di benak kita ketika kita menyadari Handphone tersebut tertinggal di rumah?  Apakah kita  segera merasa sangat kehilangan, bahkan sering kali kita segera membelokkan arah mobil kita kembali ke rumah untuk mengambil HP yang tertinggal tersebut, padahal jarak yang kita tempuh sudah cukup jauh, padahal dulu kita cukup dengan  telephone rumah atau pager. Dan sejauh itu kita tak pernah merasa begitu kehilangan seperti pada kejadian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah KETRIKATAN, selama kita membuat keterikatan-keterikatan baru dan ketika keterikatan itu harus rusak dan berpisah dari kita, kita akan menderita.&lt;br /&gt;Dengan ditemani sebatang lilin dan  dalam keheningan itu, saya kembali diingatkan bahwa kita sebenarnya yang memegang kendali untuk hidup ini, kita dapat mengurangi derajat “Kesedihan” kita atau kita membiarkan diri kita terus terjun lebih dalam dalam jurang derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika listrik padam, kita dapat mengerutu atau mencari sebuah mesin tik untuk melanjutkan tugas mengetik kita, kita dapat saja kesal tapi  kita juga dapat segera mengambil sebatang lilin dan menikmati cahayanya,  kita dapat marah karena sinetron di televisi harus diakhiri tapi kita bisa saja cukup terhibur dengan suara merdu di radio.&lt;br /&gt;Pembelajaran berikutnya adalah hal ini segera menyadarkan kita bahwa kita harus segera mencari alternatif sumber energi baru, mungkin saatnya kita memikirkan pemakaian cahaya matahari atau kekuatan air untuk menggantikan bahan bakar fosil yang kian menipis.&lt;br /&gt;Penghematan menjadi salah satu solusi dan ini menyadarkan kita bahwa bumi semakin tua dan rentan, kita mesti menjaganya jangan sampai bumi ini tak kuasa menahan beban dan diekploitasi habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keheningan itu juga mengalir sebuah cerita lama yang membuatku menyadari bahwa suatu saat kita juga akan mengalami keterpisahan dengan ikatan itu, dan kita harus siap.&lt;br /&gt;Konon, suatu hari seorang  murid memecahkan cangkir kesayangan gurunya, segera si murid menemukan cara untuk memberitahukan hal itu kepada sang guru agar sang guru bisa menerima keadaan itu dan tidak memarahinya.&lt;br /&gt;“Guru, apakah benar bahwa semua orang akan mengalami kematian?”&lt;br /&gt;“Benar muridku, setiap yang dilahirkan akan mengalami kematian”&lt;br /&gt;“Apakah berarti kematian itu adalah hal yang terelekan dalam hidup ini ?”&lt;br /&gt;“Benar muridku, kita harus bisa menerimanya sebagai bagian dari kehidupan ini”&lt;br /&gt;“Terima kasih atas bimbingannya guru, murid cuma mau kasih tahu bahwa cangkir guru sudah mengalami kematian tadi.”&lt;br /&gt;Blink ! Blink ! Blink! Sang guru hanya bisa tersenyum kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga kudengar dari para bijaksana bahwa dengan praktek MEMBERI dapat mengurangi derajat keterikatan, dan ketika hal ini kulakukan ternyata “Benar”, saya bahkan merasa bahagia karenanya. Mungkin kita bisa mencobanya bersama-sama suatu saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opps, lampu sudah menyala kembali!&lt;br /&gt;Saya sudah harus kembali di depan komputerku, kembali  ke dunia penuh keterikatan,  yang perlu saya lakukan saat ini adalah  menjaga-jaga agar keterikatan tidak sampai membuatku KECANDUAN.&lt;br /&gt;Itu tidak baik untuk kesehatan bathin dan jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-6564111005946999259?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/6564111005946999259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=6564111005946999259&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6564111005946999259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6564111005946999259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/10/terang-ketika-listrik-padam.html' title='Terang Ketika Listrik Padam'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-3226967123743112542</id><published>2008-09-09T20:13:00.000-07:00</published><updated>2008-09-09T20:17:14.228-07:00</updated><title type='text'>Lampu Merah Harapan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Medan selalu punya cerita, kali tentang lampu lalu lintas yang baru dipasang.&lt;br /&gt;Dari modelnya, tidak ada yang istimewa, lampu lalu lintas itu sama seperti lampu lalu lintas yang sudah ada, masih dengan warna merah, hijau dan kuning, hanya saja kali ini lampu jalan tersebut telah dilengkapi dengan alat penghitung waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pelajaran yang menarik dari lampu lalu lintas baru itu, sesuatu yang cukup menggelitik.&lt;br /&gt;Pertama, sejak lampu lalu lintas itu terpasang, saya lebih santai membawa mobil, saya tahu kapan harus mulai menginjak rem, dan kapan harus mulai menginjak pedal gas, tak ada yang tiba-tiba. (memang dari dulu juga ada lampu kuning yang menandai pertukaran warna dari hijau ke merah, tapi sekarang lebih jelas karena ada hitungan count down yang menandai kedatangannya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Lalu, apa hubungannya dengan pembelajaran pertama ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masa depan, ya, masa depan adalah sesuatu yang tidak terditeksi keadaanya, kita tak tahu kapan datangnya hari baik (hijau) dan kapan datangnya hari buruk (merah), mungkin kita ada petanda akan datangnya petaka (kuning), tapi tetap tidak bisa kita pastikan dengan tepat kapan datangnya. (Kecuali, “SANG PENCIPTA” lampu lalu lintas tersebut)&lt;br /&gt;Kehadiran alat penghitung waktu membuat saya tidak perlu mengerem mobil secara mendadak, tidak juga harus diingatkan ketika lampu hijau sudah menyala kembali. Tapi, pada kehidupan nyata, alat itu tetaplah tersembunyi dan tidak pernah ditemukan, kerinduan kita atas alat tersebut sering kita lampiaskan dengan mencari &lt;strong&gt;“orang pintar”&lt;/strong&gt; yang tahu kapan waktu-waktu istimewa itu datang (Makanya, sekarang ahli ramal laku keras di negara kita, iklan di media elektronika dan media cetak muncul menjawab kebutuhan itu, sekarang malah diramaikan lewat SMS,  belum tentu mereka dapat meramal masa depan orang lain, bahkan untuk diri mereka sendiri saja tetap misteri)&lt;br /&gt;Saya memilih untuk tetap menjadikannya sebagai &lt;strong&gt;“RAHASIA ALAM”, &lt;/strong&gt;yang perlu kita lakukan hanya selalu waspada memperhatikan setiap detik berlalu, waspada memperhatikan langkah kita, mengamati fenomena-fenomena perubahan dan siap menerima perubahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup seperti lampu lalu lintas yang selalu berubah warna, dari merah, hijau dan kuning, lalu kembali ke merah, hijau dan kuning dan seterusnya. Kewaspadaan adalah kunci yang akan membuat kita tetap&lt;strong&gt; survival&lt;/strong&gt; dalam kehidupan ini, kita tidak perlu alat penghitung waktu itu. (Walaupun dalam berlalu lintas di jalan raya, saya masih merasa nyaman dengan kehadirannya), semuanya tergantung kita, walaupun ada alat tersebut, jika kita tetap melanggarnya dengan menerobos lampu merah, kita juga akan celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, saya ternyata lebih sabar menanti kedatangan lampu hijau setelah adanya alat penghitung waktu itu, bahkan ketika lampu merah saya masih sempat mencari-cari channel radio yang menarik untuk didengar (dan dilakukan dengan santai dan tidak tergesa-gesa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Apa yang sebenarnya terjadi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah &lt;strong&gt;HARAPAN,&lt;/strong&gt; kita tahu bahwa lampu merah akan segera berubah menjadi lampu hijau, demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, kita tahu bahwa setiap kesulitan akan berakhir, badai pasti akan berlalu, tapi yang tidak kita tahu adalah KAPAN itu akan terjadi.&lt;br /&gt;Sebelumnya, ketika kita dihadang dengan lampu merah, kita kadang menjadi orang yang tidak sabar, setelah menunggu sesaat, kita sering menerobos lampu merah tersebut walaupun kita tahu resiko yang akan kita hadapi nanti.&lt;br /&gt;Kenapa? Kita kadang frustasi dalam menunggu (seperti menunggu lampu merah berlalu), kita tahu semua itu akan berlalu, hanya kita tak tahu kapan, sehingga kita sering merasa waktu itu berlalu begitu lamban, sementara batas kemampuan kita telah terkikis hampir habis.  Kita takut kalau-kalau lampu merah itu rusak, sehingga kita akan terhadang lebih lama di bawah lampu merah, bahkan mungkin &lt;strong&gt;SELAMANYA.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya alat penghitung itu, kita tahu lampu merah itu berjalan semestinya, kita tahu lampu hijau akan segera menyala, waktu kedatanganya tertulis dengan jelas, &lt;strong&gt;HARAPAN&lt;/strong&gt; menjadi begitu nyata dan akan segera tiba.&lt;br /&gt;Tekanan dalam kehidupan ini kadang membuat kita frustasi, kita merasa kehadirannya begitu lama, kita takut kalau sistem alam ini telah rusak, kita takut lampu merah kehidupan kita terus menyala untuk kita, akibatnya kita sering melakukan tindakan bodoh, bunuh diri misalnya.&lt;br /&gt;Dan kerinduan akan kehadiran alat penghitung waktu itu kembali kita lampiaskan dengan mencari “orang pintar” yang dapat segera menghalau masa gelap itu melalui ritual-ritualnya. (kita merasa system alam harus diperbaiki, dibelokan secara instant, dan seketika hidup kita cerah kembali)&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya memilih untuk menjalani &lt;strong&gt;“Masa Percobaan”&lt;/strong&gt; itu, biarkan hukum alam yang bekerja, yang perlu kita lakukan adalah memperkuat diri selama masa percobaan, memperkaya mental, mendirikan kuda-kuda yang kokoh, sehingga ketika masa percobaan itu berlalu kita siap untuk bangkit menjadi Raksasa yang tak terkalahkan. (Tidak juga dengan cara pasrah tanpa melakukan apa-apa, karena kita tidak akan siap ketika lampu hijau menyala kembali, dan kita akan tertinggal jauh karena ketidaksiapan kita tersebut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata lampu lalu lintas baru juga dapat menjadi sumber pembelajaran hidup, ternyata &lt;strong&gt;“MAWAS DIRI”&lt;/strong&gt; memperhatikan perubahan warna lampu lalu lintas menjadikan kita survival dalam kehidupan ini, dan lampu merah tidak lagi menjadi momok untuk kita, tapi dibalik itu, ada &lt;strong&gt;“HARAPAN” untuk menjadi “BESAR”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-3226967123743112542?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/3226967123743112542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=3226967123743112542&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3226967123743112542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3226967123743112542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/09/lampu-merah-harapan.html' title='Lampu Merah Harapan'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-1071877574149008654</id><published>2008-09-03T23:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T23:30:32.782-07:00</updated><title type='text'>Hanya Satu saja</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Inilah yang mungkin ada di benak kita setiap kali kita dihadapan pada keberanian untuk melakukan perubahan. &lt;strong&gt;“Hanya aku saja yang berubah, apalah artinya”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu ilustrasi kecil yang mungkin dapat menjawab tanggapan tersebut, saya pernah memaparkan hal tersebut di sela ceramah saya di sebuah diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Ada 10 orang yang diminta untuk memindahkan sebuah meja kaca dengan ukuran standart 6 tempat duduk, maka kerja tersebut terasa ringan, bahkan terlampau ringan.  Dan jika kita termasuk salah satu di antara 10 orang tersebut, di benak kita segera muncul “Untuk apa tenaga 10 orang untuk mengangkat meja itu” lalu mungkin dilanjutkan dengan pemikiran “Kalau saya pura-pura mengangkatnya, tenaga Sembilan orang saja pasti lebih dari cukup untuk mengangkat meja kecil itu”.  Ketika meja terangkat ke atas, apabila pemikiran semacam itu muncul, mungkin pekerjaan itu akan mulus berjalan, tapi yang tidak kita sadari dan tidak kita antisipasi adalah ternyata semua berpikiran seperti itu pada saat yang bersamaan, Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Meja kaca itu akan hancur berantakan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering meremehkan kekuatan 1 orang, 1 suara, 1 detik atau 1 miligram. Tapi, disadari atau tidak, tanpa 1 suara sebuah keputusan besar mungkin tidak akan terwujud, dan tanpa 1 miligram, 1 kg tetaplah bukan 1 kg, ukurannya hanya 0,999999 kg.&lt;br /&gt;Jika titik didih air pada suatu tempat adalah 100 derajat celcius, maka tanpa 1 derejat celcius saja air tidak akan mendidih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, ketika kita menginginkan perubahan, maka perubahan itu harus kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu, walau hanya satu (diri kita sendiri).  Tanpa perubahan dari diri kita sendiri, perubahan besar yang lain tidak akan terwujud.&lt;br /&gt;Jika kita ingin Negara ini bersih, maka terlebih dahulu kita harus bersih.&lt;br /&gt;Bayangkan, apa yang terjadi jika kita berpikiran sama&lt;strong&gt; “Walau hanya aku saja yang melakukannya, tetap akan aku lakukan demi perubahan yang lebih baik”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sungguh indah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-1071877574149008654?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/1071877574149008654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=1071877574149008654&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/1071877574149008654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/1071877574149008654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/09/hanya-satu-saja.html' title='Hanya Satu saja'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-6371646358851178956</id><published>2008-09-03T03:34:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T03:37:02.968-07:00</updated><title type='text'>Belajar Kungfu (dari) Panda (III)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Martial Art adalah sesuatu yang menarik untuk dipelajari, lebih menarik lagi jika kita mempelajarinya dari seekor PANDA besar bernama Po di Valley of Peace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pelatihan pun dapat kita mulai......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;THE SECRET IS NOT A SECRET&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Setelah menjalani serangkai latihan berat, saatnya bagi Po menerima gulungan yang memuat rahasia dari The Dragon Warrior, ketika gulungan itu dibuka, ternyata Po tidak menemukan tulisan apapun di dalam gulungan tersebut. Gulungan itu hanya berupa lempangan logam yang memantulkan wajahnya.  Sejenak ia kecewa dan muncul keraguan, kalau-kalau ida tak dapat mengalahkan sang Leopard Salju yang jahat, kalau-kalau ia memang hanya cocok menjadi seorang penjual mie.&lt;br /&gt;Sampai akhirnya ia menemukan Pencerahannya....&lt;br /&gt;Melihat dalam-dalam gulungan itu, pantulan wajah Po akhirnya berkata bahwa rahasia itu ternyata terletak dari dalam diri Po sendiri dan Po menemukan kembali jati dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mencari kekuatan-kekuatan yang berada di luar diri kita untuk menopang diri kita (praktek mencari dukun, ahli nujum, ahli primbon dan sejenisnya adalah salah satu bentuk ketidakyakinan diri kita terhadap kekuatan diri kita sendiri)&lt;br /&gt;Kita semua tahu, rahasia menuju kesuksesan (yang sebenarnya bukan rahasia lagi), yaitu kekuatan dari dalam diri kita sendiri.  Diri kita sendirilah yang mampu membuat kita berhasil dalam mengarungi lautan kehidupan ini.&lt;br /&gt;Saya kembali teringat sebuah memory lama ketika masih di bangku Sekolah Menengah Atas di kota Medan, waktu itu salah seorang temanku adalah  juara umum di angkatan kami.  Seperti biasa, kami mengikuti kegiatan lari di lapangan olahraga, usai berolahraga sang juara umum ini kelihatan sangat gelisah, ada kecemasan luar biasa yang terpancar dari raut mukanya.  Ketika kami tanya, ternyata ia kehilangan JIMATnya(dalam arti sebenarnya) ketika sedang berolahraga, dan jimat itu adalah pemberian orang pintar, ia takut dengan hilangnya jimat itu akan mempengaruhi dirinya dalam mempertahankan sabuk juara umumnya, ia takut dengan hilangnya jimat itu akan mempengaruhi kesehatan dan keselamatan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya....&lt;br /&gt;Teman saya ini tetap juara umum, dan bahkan hari ini ia telah menjadi salah satu dokter di Malaysia.&lt;br /&gt;Lalu, &lt;strong&gt;JIMAT &lt;/strong&gt;itu mungkin seperti Gulungan rahasia itu, kalau saja kita membuka JIMAT tersebut, kita mungkin akan menemukan pantulan wajah kita di sana, kekuatan sesungguhnya dari seorang Dragon Warrior yang tersembunyi dalam diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Saatnya untuk membangkitkan &lt;strong&gt;ENERGI &lt;/strong&gt;dari Sang Juara dan itu dimulai dari diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;HAPPY ENDING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Satu rangkaian cerita telah berjalan mengikuti alurnya, akhirnya Po, si Panda besar berhasil mengalahkan Tai Lung dalam pertarungan yang melelahkan.&lt;br /&gt;Dan Valley of Peace pun kembali dalam kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap cerita tentu ada akhirnya (sekaligus permulaan bagi yang baru), demikian juga hidup ini, tidak ada yang kekal (yang kekal adalah ketidakkekalan itu sendiri), setiap peristiwa yang diawali tentu akan diakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua pembelajaran sebagai penutup dalam cerita ini:&lt;br /&gt;1.       Pada Saat kita menghadapi kesulitan dan problem&lt;br /&gt;Karena setiap cerita pasti ada akhirnya, maka bagaimanapun kesulitan kita, semua pasti akan usai juga, yang perlu kita lakukan adakan mengasah diri kita agar lebih kuat dan kokoh, dan kita akan tumbuh sebagai Naga setelah cobaan itu telah kita lalui.&lt;br /&gt;2.       Pada Saat kita mendapat kejayaan&lt;br /&gt;Karena setiap cerita pasti ada akhirnya, maka bagaimanapun kejayaan yang kita dapatkan, kita jangan sampai lengah dan bersombong diri, kita harus siap kalau-kalau lampu kita mulai redup, sehingga ketika cobaan itu datang, kita telah siap melaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dan akhirnya kita juga dapat menaklukkan Tai Lung, Sang Leopard Salju (yang sebenarnya juga diri kita sendiri)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-6371646358851178956?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/6371646358851178956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=6371646358851178956&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6371646358851178956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6371646358851178956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/09/belajar-kungfu-dari-panda-iii.html' title='Belajar Kungfu (dari) Panda (III)'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-7875753734823844747</id><published>2008-09-03T03:31:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T03:33:04.446-07:00</updated><title type='text'>Belajar Kungfu (dari) Panda (II)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Martial Art adalah sesuatu yang menarik untuk dipelajari, lebih menarik lagi jika kita mempelajarinya dari seekor PANDA besar bernama Po di Valley of Peace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pelatihan pun dapat kita mulai......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;LAHIRNYA THE CHOSEN ONE (DRAGON WARRIOR)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah isu munculnya kembali Sang Leopard salju bergema, sesepuh Kura-kura pun segera melakukan pemilihan Dragon Warrior. Mulailah para kandidat menunjukkan kebolehannya, Master Tigress, Master Monkey, Master Viper, Master Crane dan Master Mantis tampil memukau penonton.  Tapi di tengah acara itu, malah si Panda besar, Po terpilih sebagai The Chosen One. (Yang sama sekali tidak memiliki kemampuan Kungfu)&lt;br /&gt;Menjadi seorang Pejuang ternyata tidak harus dari golongan tertentu, siapapun dapat menjadi The Chosen One, bahkan jika ia berasal dari anak penjual mie di Valley of Peace seperti Po.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat akan cerita seorang anak yang melihat balon-balon yang dilepaskan ke udara.&lt;br /&gt;Suatu hari, ia melihat seorang penjual balon melepaskan balon-balon itu ke angkasa, ketika balon merah dilepaskan, balon itu segera membumbung naik ke atas, diikuti warna biru, hijau, kuning dan putih. Setelah balon-balon itu beriringan naik ke angkasa, ternyata di tangan sang penjual masih ada sebuah balon berwarna HITAM. Anak itu bertanya-tanya, akankah si Hitam juga akan mengikuti warna-warna yang lain membumbung tinggi ke angkasa?&lt;br /&gt;Dan Ternyata, ketika balon Hitam dilepas, si Hitam juga bergerak naik ke angkasa.  Si anak bertanya kepada penjual balon itu kenapa si Hitam dapat naik ke langit.  Sang Penjual lalu berkata “Kenapa tidak? Bukankah si Hitam juga adalah balon yang diisi gas yang sama, yang membuat balon itu naik ke angkasa bukanlah warnanya tapi karena gas yang ada dalam balon tersebut”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita sering merasa diri kita adalah Si Hitam yang enggan bergerak naik ke angkasa?&lt;br /&gt;Siapa pun dia, ketika kita terlahir sebagai anak manusia, sesungguhnya kita sudah menjadi pemenang, kita telah berhasil bersaing dengan jutaan sel lainnya di janin ibu sebelum akhirnya kita dilahirkan.&lt;br /&gt;Saat ini, kita sebenarnya &lt;strong&gt;THE CHOSEN ONE&lt;/strong&gt;, apapun warna kulit kita, apapun suku kita, apapun agama kita, apapun status sosial kita, keberhasilan kita ditentukan oleh potensi-potensi yang terdapat dalam diri kita.&lt;br /&gt;Si Po, anak penjual mie dapat terpilih menjadi The Chosen One, Kita pun tentunya dapat menjadi Sang Dragon Warrior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;MOTIVASI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah Po terpilih menjadi calon Dragon Warrior, mulailah Po menjalani serangkai latihan untuk menghadapi kedatangan Tai Lung, si  Snow Leopard.  Tubuhnya yang besar dan lamban membuat sang guru Shifu kehilangan asa dalam mendidik Panda ini. (Lima pendekar yang lain menganggap sesepuh Kura-kura telah salah pilih, bahkan Po sendiri juga menggap demikian)&lt;br /&gt;Sampai pada suatu saat, Sang guru Shifu melihat Po sedang mengacak-acak ruang dapur untuk mencari makanan, dan Blink! Pencerahan pun didapat.  Guru Shifu segera meminta Po mengambil makanan yang disimpan Monyet emas di atas lemari, ternyata dengan enteng Po berhasil mencapainya dan menghabiskan makanannya.  Ketika ia ditanya bagaimana ia dapat melakukannya, Po hanya mengatakan “Saya melakukannya begitu saja”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Blink !  Blink ! Blink!&lt;/strong&gt;  Ketika Po lapar, Po dapat melakukan apa saja, itulah MOTIVASInya.&lt;br /&gt;Akhirnya dengan mengandalkan makanan yang ada, Guru Shifu berhasil mengajari Po, yang sebelumnya dianggap tidak dapat diharapkan bahkan oleh dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke dunia nyata, atas nama kesuksesan kita perlu menemukan sebuah tombol yang namanya &lt;strong&gt;MOTIVASI,&lt;/strong&gt; ketika tombol itu ditemukan kita akan bergerak dengan energik.&lt;br /&gt;Mungkin bagi sebagian orang motivasinya adalah Keuangan, mungkin juga Cinta atau Keluarga, Jabatan, Penghargaan dan sebagainya, tapi pada tahun 1999 motivasi saya pada saat itu adalah untuk bertahan hidup.&lt;br /&gt;Ketika Kebangkrutan melanda keluarga kami pada tahun 1999, kami harus kehilangan segalanya, rumah berikut isi-isinya harus kami relakan semua.  Dulu ketika orang tua kami berjaya, saya kemana-mana dengan mobil, tapi setelahnya saya harus cukup puas dengan si roda dua (yang kemudian juga hilang dimalingi pada tahun yang sama).  Keinginan untuk bertahan hidup dan kembali berjaya membuat saya tergerak untuk terus maju ke depan.&lt;br /&gt;Cinta kepada Keluarga adalah salah satu motivasi yang paling ampuh dalam mengejar cita-cita kita.&lt;br /&gt;Jika kita ditanya “Apakah Anda mencintai keluarga dan akan melakukan apa saja untuk keluarga?”&lt;br /&gt;Saya yakin kita semua akan menjawab “Iya, saya mencintai keluarga dan akan melakukan apa saja untuk keluarga”&lt;br /&gt;Adalah sangat memalukan dan tidak bertanggungjawab seandainya sampai saat ini kita masih tidak berusaha keras untuk mensejahterakan keluarga kita lahir dan bathin. (Terlepas apakah kita telah berhasil atau belum)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JADI, TEMUKAN TOMBOL MOTIVASI ANDA.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-7875753734823844747?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/7875753734823844747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=7875753734823844747&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/7875753734823844747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/7875753734823844747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/09/belajar-kungfu-dari-panda-ii.html' title='Belajar Kungfu (dari) Panda (II)'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-7955507518940293004</id><published>2008-09-02T04:13:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T21:52:20.246-07:00</updated><title type='text'>Belajar Kungfu (dari) Panda (I)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Martial Art adalah sesuatu yang menarik untuk dipelajari, lebih menarik lagi jika kita mempelajarinya dari seekor PANDA besar bernama Po di Valley of Peace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pelatihan pun dapat kita mulai......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;RAMALAN MENJADI KENYATAAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini diawali dengan ramalan dari Sesepuh, Sang Kura-kura akan kemunculan kembali Snow Leopard, Tai Lung sang Tirani yang akan mengancam keselamatan desa Valley of Peace.&lt;br /&gt;Mendengar ramalan itu, guru Shifu seperti kebakaran jenggot, ia segera memerintahkan si angsa untuk memastikan bahwa Sang Leopard Salju masih terkurung rapat dalam Penjara super ketat tersebut. Ternyata kedatangan sang angsa malah memberikan kesempatan bagi Leopard salju untuk membebaskan dirinya, Tai Lung berhasil melepaskan rantai yang membelenggunya dengan sehelai bulu angsa yang terlepas, dan akhirnya Tai Lung bebas setelah mengalahkan ribuan Rhino yang menjaga penjara super ketat itu.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ramalan Sang Sesepuh kura-kura pun menjadi KENYATAAN.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menarik karena dalam kehidupan sehari-hari kita menjumpai hal yang sama terjadi pada diri kita, pengalaman pribadi ini mungkin salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ini terjadi beberapa sebelum hari Valentine di tahun 1990an (saya tak ingat persis waktunya), Teddy begitu nama pria tampan ini (kebetulan pria ganteng ini adalah teman seangkatan saya di teknik sipil) diberitahukan untuk hati-hati pada hari itu, ada bahaya di jalan untuk shio kerbau. Demikianlah kira-kira kalimat yang tertulis di sebuah kalender Chinese, yang secara kebetulan dibacanya.&lt;br /&gt;Sejenak, nyalinya tiba-tiba menciut, ia bahkan tak berani keluar ketika kami ajak untuk kumpul bersama di rumahku, dikuatkannya kembali pernyataan itu lewat mulutnya “SAYA TAK BOLEH KELUAR RUMAH, ADA BAHAYA UNTUK SHIO KERBAU, SAYA KHAN SHIO KERBAU”&lt;br /&gt;Kadang-kadang Cinta memang bisa membuat orang memiliki keberanian kembali, dengan dorongan untuk memberikan hadiah untuk kekasihnya, akhirnya ia beranikan diri untuk keluar (Walau dengan scenario, ia cukup membawa kereta roda duanya ke rumah teman, temanku yang lain yang akan membawanya keliling mencari kado valentine tersebut).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lalu apa yang terjadi selanjutnya?&lt;br /&gt;Si Teddy benar-benar terjatuh, ia terluka cukup serius karenanya.&lt;br /&gt;Pada saat kami kunjungi, ia berkata &lt;strong&gt;“RAMALAN DI KALENDER ITU TERNYATA JITU, SAYA MEMANG TIDAK BOLEH KELUAR, BUKTINYA SAYA TERJATUH KARENA TIDAK MENGINDAHKANNYA”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Waktu kembali berlalu, tepatnya setahun yang lalu, ketika si Teddy menemuiku dan memperkenalkan sebuah buku dahsyat berjudul &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“THE SECRET”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; karya Rhonda Byrne, segera Teddy mencabut pernyataan lamanya dan mendeklarasikan penyataan barunya, katanya “Saya baru teringat sekarang, dulu ketika saya terjatuh, semua ini karena kekuatan pikiran saya, saya menarik kejadian itu dengan pikiran saya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih setuju dengan pernyataannya yang kedua kalinya, Law of Attraction telah membawa kejadian itu menimpanya. Ketika pikiran kita memakluminya, pikiran kita segera menciptakan keinginan alam bawah sadar kita menjadi KENYATAAN.&lt;br /&gt;Semua ini terjadi atas dasar Keinginan kita sendiri, dan Ramalan pun menjadi Kenyataan.&lt;br /&gt;Jadi, mari kita pikirkan hal-hal yang indah dan membahagiakan, karena pikiran kita akan segera menarik KEBAHAGIAAN dalam hidup ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SEMUA BERAWAL DARI MIMPI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di sebuah rumah makan mie di Valley of Peace, terlihat seekor panda besar sedang tertidur dengan lelapnya. Po namanya, dalam tidurnya ia bermimpi menjadi seorang pendekar yang hebat, yang mengalahkan setiap musuh-musuhnya. Ketika Po terbangun, ia kembali ke dunia nyata sebagai seorang anak dari penjual mie di desa tersebut. Lalu ia berkata “Sepertinya saya sudah menemukan impian saya” (Akhinya Po memang berhasil menjadi seorang Dragon-Warrior, menjadi pendekar yang mengalahkan penjahat Tai Lung)&lt;br /&gt;Mimpi Po akhirnya membawanya menjadi Dragon Warrior&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreasi-kreasi besar selalu muncul dan bermuara dari Impian, ketika Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang untuk pertama sekalinya, mereka juga bermimpi suatu saat dapat terbang ke angkasa seperti burung. Impian besar mereka akhirnya membawa nama mereka melambung tinggi. Penerbangan itu hanya berlangsung 12 detik,"Lapor Orville Wright. "Walaupun begitu, inilah penerbangan pertama dalam sejarah dunia, ketika sebuah mesin yang membawa manusia telah mengangkat dirinya dengan dayanya sendiri ke udara dengan benar-benar terbang, dan melayang maju tanpa berkurang kecepatannya, serta akhirnya mendarat di satu titik yang sama tingginya dengan titik berangkatnya."&lt;br /&gt;Lalu, ketika kita dihadapkan pada hidup kita sendiri, apakah kita telah memiliki mimpi-mimpi besar yang ingin kita wujudkan?&lt;br /&gt;Karena impian akan membuat kita memiliki Goal (Tujuan) dan arah.&lt;br /&gt;Ironisnya, banyak di antara kita yang untuk bermimpi saja tak berani, padahal biaya untuk bermimpi itu adalah GRATIS, kita tidak mengeluarkan satu sen pun memunculkan impian-impian dalam benak kita. Ironisnya lagi, ketika impian kecil dan impian besar sama-sama free of charge, kita malah tak berani untuk bermimpi BESAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya bagi kita untuk BERMIMPI BESAR, sebesar YANG SANGGUP KITA PIKIRKAN.&lt;br /&gt;Dan ketika Mimpi-mimpi indah itu telah muncul di benak kita, yang diperlukan berikutnya adalah Tekad dan Keberanian untuk menwujudkannya menjadi Nyata.&lt;br /&gt;(Lihat si Po yang hanya anak penjual mie, tapi ia berani bermimpi menjadi seorang pendekar. Dan kita pun dapat belajar darinya, belajar bermimpi menjadi seorang Dragon-Warrior)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-7955507518940293004?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/7955507518940293004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=7955507518940293004&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/7955507518940293004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/7955507518940293004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/09/belajar-kungfu-dari-panda-bagian-i.html' title='Belajar Kungfu (dari) Panda (I)'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-244249265568191816</id><published>2008-09-01T21:42:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T21:44:51.683-07:00</updated><title type='text'>Golden Egg</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kalau Anda pernah ke kota Medan baru-baru ini, Anda mungkin pernah berjumpa dengan seorang anak lelaki penjual telur kampung,  umurnya sekitar 10an tahun.&lt;br /&gt;Anda mungkin akan mendengar  deretan kata-kata yang selalu dilantunkannya dari hari ke hari, dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya, dari satu warung ke warung yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Ko, Ci, ai be nui o? Cia ye, sui ye” &lt;/em&gt;(dalam bahasa hokkien medan),  yang artinya “Abang, Kakak, mau beli telur ayam kampung? Yang asli, yang bagus”  Lantunanya kata-katanya sekilas terdengar mengiba, diulangnya berkali-kali di hampir setiap meja yang dilaluinya. &lt;br /&gt;Mungkin sepintas Anda akan mengira anak tersebut sengaja minta dikasihani, atau mungkin hanya seorang “pengemis” yang berkedok sebagai penjual telur ayam kampung. Tapi sungguh di luar dugaan jawaban yang Anda akan dapatkan jika Anda memberikan sejumlah uang kepadanya atas dasar kasihan.  Ia akan menjawab “Saya bukan pengemis, saya adalah penjual telur ayam kampung” dan ia akan segera berlalu dari hadapan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin termasuk orang yang pernah mendapat jawaban seperti itu, mungkin juga baru kali ini Anda tahu masih ada anak seperti itu. (Walau saya belum pernah mengalami hal tersebut, setidaknya itulah pengakuan beberapa orang yang pernah mencoba membeli “rasa iba-nya”)&lt;br /&gt;Sebuah DVD keluaran anak Medan berdurasi sekitar 40 menit mengangkat cerita tentang anak ini, beberapa poster ditempelkan pada sejumlah tempat makan, dipromosikan secara terbatas di beberapa sudut kota Medan.  Moment yang dipilih pun bertepatan pada kedatangan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 7 Pebruari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film itu dibuat dengan alur yang sederhana, dimainkan oleh beberapa anak muda kota Medan dan diberi judul  yang cukup menjual &lt;strong&gt;“Golden Egg”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang akan dibahas kita saat ini bukanlah seberapa bagus cerita itu digarap, seberapa bagus kesan yang ingin dibangun di sana, atau seberapa bagus karakter yang coba dimainkan, tidak juga tentang seberapa bagus audio visualnya (karena Saya tidak dalam kapasitas menilai kwalitas film tersebut), yang justru akan kita bahas adalah hal-hal sederhana yang dapat kita pelajari di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sederhana pertama yang muncul di benak kita adalah “Apakah film itu hanya dibuat-buat, apa memang benar masih ada orang  ( bahkan anak kecil) yang memiliki karakter setegar itu?”&lt;br /&gt;Kita mungkin tidak akan pernah merasakan kenikmatan sebuah mangga sebelum kita sendiri yang mencicipinya. &lt;br /&gt;Sebelumnya, saya sendiri pernah menjumpai anak tersebut, sempat bertanya sedikit tentang dirinya.  Ia seperti anak pada umumnya, hanya mungkin tidak seberuntung anak-anak Anda. Ia harus bekerja di malam hanya untuk membantu biaya pendidikannya sendiri di pagi hari.&lt;br /&gt;Ironisnya kita, sebagai makhluk yang lebih dewasa bahkan  tidak sanggup memberikan jawaban seperti yang diberikannya pada saat kita tercampak dalam kesulitan. (“Saya bukan pengemis, saya adalah penjual telur ayam kampung”)&lt;br /&gt;Pada saat kita terjun ke dalam jurang derita, kita malah ingin tampil sebagai mahkluk yang paling menderita di dunia, yang perlu dikasihani, yang perlu diberi bantuan, seakan-akan itulah hak kita. Hak yang harus dituntut bahkan kalau perlu dengan kekerasan.  Kita sering tampil sebagai seorang “pengemis”, bahkan lebih cenderung “pemeras”, karena kita kadang meminta dengan ngotot untuk dikasihani.&lt;br /&gt;Tidak dengan anak ini, jawabannya telah menelanjangi kita.  Dan mahluk berkarakter ini benar-benar ada, hadir sebagai seorang anak lelaki kecil pada UMUMnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sederhana kedua adalah, setelah Film tersebut dipromosikan, dan menjadi buah bibir di beberapa sudut kota Medan, anak tersebut seakan jadi selebriti, dicari-cari dan ditunggu-tunggu kedatanganya, mereka juga ingin mencicipi telur kampung  yang dijualnya. (Padahal mungkin saja, mereka dulu adalah termasuk orang-orang yang mencemoohkannya, meragukan keaslian telur ayam kampungnya, yang menolak untuk membelinya)&lt;br /&gt;Pada saat Film sederhana ini diperbincangkan, secara ramai-ramai orang mulai “menanamkan Kebaikan” pada bocah kecil itu, masing-masing menonjolkan diri berapa banyak telur ayam kampung yang telah dibeli mereka.   Seperti sebuah perlombaan, dengan moment start-nya adalah peluncuran Film itu.&lt;br /&gt;Kenapa harus menunggu moment seperti itu, kalau memang hal sederhana itu dapat kita lakukan setiap saat, kapan saja dan di mana saja.&lt;br /&gt;Setidaknya dengan adanya peristiwa ini kita dapat bercermin, setidaknya masih banyak “orang baik” yang mau menanamkan kebaikan.&lt;br /&gt;Intinya, Tak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sederhana ketiga adalah bahwa di Medan ternyata ada orang yang berani memulai sebuah hal baru (terlepas apakah Film tersebut dinilai bagus atau tidak), ada sekelompok anak muda yang berani untuk tampil sebagai &lt;strong&gt;“Yang Pertama”&lt;/strong&gt;,  karena menjadi yang pertama tidaklah mudah, perlu satu perjuangan yang luar biasa (terutama perjuangan bathin),  karena menjadi yang pertama, ia harus siap menghadapi kelompok &lt;strong&gt;“Pencemooh”&lt;/strong&gt; yang jumlahnya bisa sangat banyak (Kehadiran kelompok kritikus ini sebenarnya bagus untuk kemajuan, asal mereka juga harus berani memberikan input yang membangun)&lt;br /&gt;Menjadi &lt;strong&gt;“Yang Pertama”&lt;/strong&gt; berarti berjalan di depan, membuka jalan, dan siap mendengar kata “Oh, ternyata hal ini gampang, semua orang juga dapat melakukannya” (Saya jadi teringat dengan Telur Columbus).  Percayalah, orang sebenarnnya tidak pernah tahu gampang atau sukar sebelum Anda melakukannya pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sederhana keempat adalah bahwa cerita  sederhana ini dapat menggelitik banyak orang, untuk menceritakan kembali kesan-kesan positif yang didapat, setidaknya saya tergerak untuk bercerita sedikit tentang kota Medan, tentang si bocah penjual telur ayam kampung, tentang sebuah Film yang berjudul &lt;strong&gt;“Golden Egg”&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ini Medan Bung!&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ternyata masih banyak mengandung “Insan-insan lembut” yang berkarakter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-244249265568191816?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/244249265568191816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=244249265568191816&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/244249265568191816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/244249265568191816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/09/golden-egg.html' title='Golden Egg'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-3679106263648377386</id><published>2008-09-01T21:38:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T21:40:15.134-07:00</updated><title type='text'>Garis Kehidupan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seberapa kita yakin bahwa arah hidup kita telah ditentukan sejak pertama kita menjejakkan kaki kita di dunia ini, tercatat secara resmi melalui goresan garis-garis di telapak tangan kita?&lt;br /&gt;Anda mungkin termasuk orang yang tidak mempercayainya,  atau mungkin juga Anda termasuk orang yang mempercayainya.  Tapi dalam  hal ini mari kita ke sampingkan perbedaan pendapat tersebut, apapun pilihan kepercayaan Anda, mari kita setuju kalau memang garis-garis kehidupan kita telah ditentukan sejak awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah pedati  yang dikemudikan oleh seorang sais, secara garis besar rute pedati tersebut telah ditentukan dari awal, tapi bukan berarti pedati tersebut &lt;strong&gt;PASTI &lt;/strong&gt;akan melewati rute tersebut dan sampai pada tempat yang sedang ditujunya.&lt;br /&gt;Pedati tersebut dapat dihentikan, dibelokkan ke arah lain, atau sama sekali tanpa arah yang jelas.&lt;br /&gt;Semua ini tergantung kepada Sang Pengemudi,  arah pedati itu akan bergerak sesuai dengan cara dan keinginan sang pengemudi.&lt;br /&gt;Jika pedati itu adalah kehidupan kita, maka sang pengemudi itu adalah kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga kita seperti tukang kayu ini.&lt;br /&gt;Seorang tukang kayu yang telah kelelahan berkarya ingin segera menjalani kehidupan pensiunnya, sejak awal dia adalah tukang kayu yang berbakat, tukang kayu yang berdedikasi tinggi atas pekerjaannya, tukang kayu yang bertanggung jawab penuh.&lt;br /&gt;Ketika ia menyampaikan keinginannya kepada BOSS, ia malah diberi tugas terakhir sebelum pensiun, sang BOSS ingin ia membuat sebuah rumah megah untuknya.&lt;br /&gt;Tukang kayu yang berbakat itu tiba-tiba berubah, ia menjadi tukang kayu yang sembrono, tukang kayu yang asal-asalan.  Dengan terpaksa ia menyelesaikan tugas terakhirnya, ia merasa perusahaan sungguh tidak berpihak padanya, ia sungguh kecewa. Dan kekecewaannya ia lampiaskan pada pekerjaanya.  Sebuah “Rumah Mewah” yang jauh dari arti “Mewah ”  akhirnya selesai tepat waktu.&lt;br /&gt;Hari pensiun telah tiba, sang tukang kayu akhirnya mendapat sebuah amplop yang berisi sejumlah uang pensiun dan sebuah&lt;strong&gt; “KUNCI”&lt;/strong&gt; rumah.  Kunci dari “Rumah Mewah” yang baru selesai dibangunnya.  “Hadiah special ini dipersembahkan perusahaan padamu, karena kerjamu yang luar biasa dan berdedikasi selama bekerja di sini.” Kata Sang BOSS.&lt;br /&gt;Sang  Tukang kayu hanya melihat kunci rumah itu dengan “PENYESALAN”.&lt;br /&gt;Kita kadang-kadang lupa bahwa kita adalah pembuat rumah untuk diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal goresan-goresan tangan di tangan kita, anggaplah  kita semua setuju bahwa itu adalah catatan &lt;strong&gt;RUTE &lt;/strong&gt;yang akan kita tempuh dalam kehidupan ini, anggaplah bahwa rute yang akan kita tempuh oleh  “PAKAR garis tangan”  dikatakan kita berada pada jalur yang benar menuju &lt;strong&gt;“KEJAYAAN”&lt;/strong&gt; dan Rute tersebut menjanjikan hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi jika Rute yang begitu INDAH dan menjanjikan itu diabaikan, atau sebagai Sang Pengemudi kita tidak menyambutnya dengan antusias dan mengwujudkannya?&lt;br /&gt;Rute tersebut akan terkubur seperti rute harta karun yang tak pernah ditemukan.  Perkataan “PAKAR garis tangan” hanya berupa kata-kata yang tiada artinya, hanya mimpi dan omong kosong belaka.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengapa?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karena hidup ini begitu dinamis, segalanya berubah, tidak ada yang kekal atau abadi, yang kekal adalah ketidak-kekalan itu sendiri, ketika kita tidak mempersiapkan “rumah kita sendiri” dengan baik maka semua rencana pada denah-denah yang telah dibuat Sang Arsitek akan berubah sesuai dengan sentuhan tangan Sang Tukang Kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika Rute yang tergaris dalam tapak kita tidak sesuai harapan kita?&lt;br /&gt;Jawabannya, Ubah saja rutenya.&lt;br /&gt;Kecuali kita sendiri memang menerimanya sebagai takdir yang tak dapat dipungkiri, dengan sukarela kita menjalaninya, kita pasrah. &lt;br /&gt;Maka jangan mengatakan “Tuhan” itu tidak adil, karena walau rute telah ditentukan, kita tidak dipaksa untuk menempuhnya, kita masih diberi pilihan untuk merubahnya.&lt;br /&gt;Banyak di antara kita yang menganggap kita telah dilahirkan sebagai bagian yang terpinggirkan, bagian dari pelengkap penderita.  Jika kita telah menghakiminya dan mengetuk palu atas anggapan seperti itu maka sejak ketukan terakhir dijatuhkan, kita telah terseret dalam lubang penderitaan  seperti yang &lt;strong&gt;“KITA INGINKAN”.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, jangan menyalahkan siapa-siapa, betapa adilnya alam ini, bahkan pada saat itu kesempatan untuk merubah rute masih tetap terbuka untuk kita, sampai  kita sendiri  benar-benar tidak menginginkan perubahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun  yang telah digariskan, tercatat oleh alam untuk kita, Kita sendiri yang menentukan ke arah mana kita akan berjalan, dan kemana kita akan berada kelak.&lt;br /&gt;Prinsipnya, &lt;strong&gt;“Benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-3679106263648377386?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/3679106263648377386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=3679106263648377386&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3679106263648377386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3679106263648377386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/09/garis-kehidupan.html' title='Garis Kehidupan'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-2702807619209725900</id><published>2008-08-31T22:23:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T22:24:31.314-07:00</updated><title type='text'>DOA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada sebuah kelas, sekelompok murid-murid berkumpul untuk &lt;strong&gt;“belajar berdoa”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mulailah doa pertama dilantunkan.&lt;br /&gt;“Oh, Tuhan berikanlah kami kekayaan yang berlimpah, berikanlah kami kesehataan, kebahagiaan, kemakmuran dan umur panjang.”&lt;br /&gt;Sang Guru berkata “Bagus, tapi jangan lupa untuk berterima kasih”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Lalu meluncurkan doa kedua.&lt;br /&gt;“Oh, Tuhan terima kasih atas karuniaMu selama ini, terima kasih atas semua berkah yang Tuhan berikan kepada keluarga kami, terima kasih atas kesehatan, kebahagiaan, kemakmuran dan kekayaan yang kami nikmati selama ini.  Berkahilah keluarga kami ini, jagalah agar kami tetap berada dalam karuniaMu.”&lt;br /&gt;Sang Guru kembali berkata “Bagus”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilanjutkan dengan doa ketiga.&lt;br /&gt;“Terpujilah Tuhan Yang Maha Esa, Sang maha Adil dan maha Penyayang, terima kasih atas karuniaMu kepada kami selama ini, bimbinglah kami agar tetap berada dalam jalanMu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dilatih, doa itu semakin indah, murid-murid semakin tahu bagaimana cara berdoa, berucap syukur dan memuji kebesaranNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam doa sederhana yang sekalipun&lt;br /&gt;“Terpujilah Tuhan,  terima kasih atas Karuniamu, berikanlah kekuatan untukku untuk dapat menjadi orang baik dan dapat senantiasa berbuat kebaikan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus, sungguh bagus” kata Sang Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada saat giliran terakhir, seorang murid muda  maju ke depan dengan wajah berbalut peluh, ia nampak gugup dan gelisah.&lt;br /&gt;Setelah lama ditunggu, akhirnya ia juga berdoa.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“a,b,c,d,e,f,g,h,i,j,k,l,m,n,o,p,q,r,s,tu,v,w,x,y,z, Tuhan aku tak pintar berdoa, tolong bantu aku susun huruf-huruf ini menjadi doa, karena Tuhan pasti tahu apa kata hatiku.”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seisi kelas segera menertawainya, ia nampak makin gelisah dan gugup.&lt;br /&gt;Sang Guru pun berkata &lt;strong&gt;“Doa yang terindah”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa sering ktia berdoa?  Seberapa sering kita berucap syukur dan memuji kebesaranNya?&lt;br /&gt;Yang pasti, pada saat kita diterjang masalah, kita tak pernah lupa untuk berdoa, memohon ampun dan meminta belas kasihNya.  Bahkan pada saat itu, mereka-mereka yang tak pernah berdoa pun dapat menjadi seorang yang mahir dalam berkata-kata pada Tuhan.  Kita sering muncul seperti seorang “Pengemis” yang meminta-minta penuh pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pada kita berada dalam kebahagiaan?&lt;br /&gt;Kita sering  lupa akan doa, kita lupa berucap syukur dan terima kasih padaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keindahan doa kadang hadir dalam bahasa-bahasa yang sederhana, bahasa-bahasa yang muncul secara spontanitas dari kedalaman jiwa, bukan dari seberapa pintar kita menyusun kata-kata, karena &lt;strong&gt;Tuhan akan mendengar dari hati kita, bukan dari mulut kita.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-2702807619209725900?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/2702807619209725900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=2702807619209725900&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/2702807619209725900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/2702807619209725900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/08/doa.html' title='DOA'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-1169200359031955976</id><published>2008-08-31T22:19:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T22:21:43.940-07:00</updated><title type='text'>Don't Ask, Just Do it?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Don’t Ask, Just do it?&lt;br /&gt;Ini bukan merupakan statement, karena dibelakang kalimat ini ada tanda tanya besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada berbagai kesempatan, kita sering melakukan sesuatu tanpa mempertanyakan kenapa hal tersebut harus dilakukan? Dapatkah hal itu tidak dilakukan? Dasar-dasar apa saja yang menjadi alasannya?  Atau kadang-kadang pertanyaan itu malah harus dilempar jauh-jauh dari list yang akan dipertanyakan karena dianggap tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tradisi timur sering ditemukan &lt;strong&gt;“pantangan” dan “mitos”&lt;/strong&gt; yang dibawa sampai generasi saat ini, sering kali ketika sebuah pertanyaan menyinggung kedua daerah itu, para penjaga tradisi itu akan segera mempertahankannya dengan alasan  demi kebaikan kita sebaiknya hal itu jangan dilanggar kalau dilanggar bisa terjadi ini dan itu (yang kadang harus ditelan begitu saja, walau secara logika hal itu sulit diterima, tapi ketakutan akan hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya memaksa kita mengikutinya juga)&lt;br /&gt;Ketika mitos dan pantangan itu didengar dalam suatu statement, maka penyataan itu segera menyusup ke alam bawah sadar kita, suka atau tidak suka ketika hal itu terjadi, benih ketakutan segera tertanam dan pikiran kita segera meresponnya dalam bentuk pemagaran diri, takut akan terlukai kelak.  Maka, selanjutnya kita akan dengan suka rela mengikuti aturan itu tanpa mempertanyakan lebih dalam lagi kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan atau kenapa hal tersebut harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kadang kala dari lubuk hati kita yang terdalam, ada keingintahuan yang sulit kita bendung, dan ada kalanya hal itu harus diketahui untuk mengubah sebuah paradigma lama yang sudah tidak cocok lagi dengan keadaan saat ini, seperti pada saat cerita kecil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TIM AYAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Temanku, Shelly memiliki kebiasaan unik ketika sedang membuat &lt;strong&gt;“tim ayam”&lt;/strong&gt; specialnya, hal unik ini tidak terletak pada ramuan herbal yang digunakannya atau jenis ayam yang akan dimasaknya, hal unik ini justru terletak pada ritual yang dilakukan pada saat memasak tim ayam tersebut. &lt;br /&gt;Setiap kali, ketika ayam itu hendak dimasukkan ke dalam ramuan, maka kedua paha ayam itu akan dipisahkan dari kesatuannya, dan dimasak secara terpisah dengan ramuan yang sama.&lt;br /&gt;Ketika ia kutanya mengapa ia memasaknya secara terpisah, ia menjawab “Itu sudah menjadi kebiasaan keluarga kami, Shelly hanya mengikuti cara memasak ibunya dan mungkin inilah yang merupakan rahasia kenapa ‘tim ayam’ kami terasa istimewa”&lt;br /&gt;Karena tidak puas dengan jawaban itu, saya pun menanyakan hal yang sama kepada ibunya, dan jawaban yang saya peroleh juga hampir sama, “Ibu kurang tahu kenapa Nak!, tapi itulah yang dilakukan oleh nenek Shelly”&lt;br /&gt;Lalu, kutemui nenek Shelly untuk kembali mengajukan pertanyaan itu, baru dari mulut oma inilah ditemukan pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Dulu, waktu nenek masak, periuk yang nenek gunakan tidak cukup besar, makanya nenek terpaksa harus memisahkannya menjadi dua bagian. Kalau sekarang sih nggak usah repot-repot, cukup satu kali masak saja.”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Akhirnya semua ini terjawab, tapi sampai hari ini Shelly masih memasak dengan cara lamanya, kali ini ia menganggapnya sebagai bagian dari ritual memasak yang mengasyikkan. (Ya, setidaknya ia sudah tahu kenapa ia melakukannya)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lalu cerita klasik ini ternyata cukup mengelitik untuk dibaca kembali,&lt;br /&gt;Di sebuah tempat pelatihan spiritual, seorang guru sedang melakukan acara perenungan bersama murid-muridnya. Di tengah renungan itu, kucing yang yang dipelihara sang guru ternyata membuat ulah, ia berlari mengelilingi ruangan, mengacaukan letak barang-barang yang ada di sana, dan membuat sejumlah keributan.  Suasana yang hening pun berubah menjadi hiruk pikuk.&lt;br /&gt;Untuk menghindari kekacauan lebih lanjut, maka sang guru kemudian mengikat kucing itu di samping ruangan perenungan sampai acara itu selesai.&lt;br /&gt;Maka sejak hari itu, sang kucing selalu diikat di samping ruangan tempat acara renungan itu berlangsung sebagai antisipasinya.  Setelah sang guru wafat, ritual ini kembali dilanjutkan oleh murid-muridnya. Anehnya, tradisi mengikat kucing ini terus dilanjutkan, walaupun sang kucing itu telah mangkat menyusul majikannya. Mereka malah sengaja mencari seekor kucing pengganti untuk diikat di samping ruangan tempat acara renungan itu dilaksanakan, turun-temurun bertahun-tahun sampai saat ini, tanpa berani untuk bertanya kenapa hal tersebut dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal kita sering menemukan ritual-ritual ini dalam kehidupan kita sehari-hari, ada kalanya kita perlu keberanian untuk mengubahnya kalau menganggap hal tersebut sudah usang dan tidak cocok lagi dengan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;Ada kalanya, jawaban itu kita dapatkan dari orang-orang yang memang tidak mengerti kenapa hal tersebut dilakukan dan terus dilakukan, hanya untuk menutupi ketidaktahuan mereka, dengan menganggapnya sebagai satu kebiasaan yang tak perlu dipertanyakan.&lt;br /&gt;Seperti yang pernah saya alami dulu ketika bekerja di sebuah konsultant bangunan, ketika saya bertanya kepada senior saya, kenapa jumlah tulangan besinya harus sekian buah dengan diameter sekian milimeter, saya malah mendapat jawaban yang mengejutkan untuk ukuran seorang insiyur  “Itu sudah kebiasaan kita di lapangan.”  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam hal ini, kita harus memberanikan diri untuk tidak tinggal diam. “CARI TAHU” apa yang jawaban sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seperti Shelly yang tetap melanjutkan ritual memasaknya dan menganggapnya sebagai bagian dari seni yang mengasyikan. (Seperti pada beberapa ritual keagamaan atau kebudayaan yang ada di penjuru negeri ini)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maka, ada kalanya kita perlu membiarkan ritual-ritual itu tetap berlangsung, sebagai warna dalam kehidupan berbudaya, sebagai bagian dari keindahan hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;br /&gt;Seng Guan CPLHI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-1169200359031955976?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/1169200359031955976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=1169200359031955976&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/1169200359031955976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/1169200359031955976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/08/dont-ask-just-do-it.html' title='Don&apos;t Ask, Just Do it?'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-8365725974769859670</id><published>2008-08-29T23:54:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T23:58:37.089-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Bahagia ?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bahagia bukan suatu pengharapkan, bukan sesuatu yang diminta-minta, Bahagia adalah suatu pilihan yang kita lakukan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Kita dapat memilih bahagia atau kesedihan, Ketika kita diberi suatu kondisi yang sama, ada yang memilih bahagia, tapi ada yang memilih untuk tidak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tapi anehnya ketika pilihan itu telah kita lakukan, kita tidak siap untuk bersedih... Aneh, tapi coba pikirkan contoh ini, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ketika kita memilih untuk tidak belajar pada saat ujian, kita tidak siap untuk mendapatkan nilai jelek. Ketika kita memilih marah dan benci, kita tidak siap untuk merasakan perasaan sakit tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hidup ini pilihan, Ketika sebuah kondisi yang sama diberikan kepada sejumlah orang, hasil dari kondisi tersebut sangat tergantung pada reaksi orang tersebut, sangat tergantung pada pilihan mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mereka dapat memilih untuk menerimanya sebagai anugerah, sebagai kesempatan untuk memperkuat diri. Atau mereka dapat juga memilih untuk menerimanya sebagai sumber derita atau kesialan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jadi pilihlah bahagia, jika kita memilih bahagia maka setiap tindakan dan gagasan kita adalah kebahagiaan, dan kita bisa&lt;strong&gt; BELAJAR&lt;/strong&gt; untuk memilih yang baik, &lt;strong&gt;BELAJAR menjadi Bahagia&lt;/strong&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kita belajar untuk mengasihi, kita belajar untuk mensyukuri, kita belajar untuk berbagi, kita belajar untuk saling melengkapi, kita belajar dalam kondisi di mana "Universal Love" menyertai langkah kita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan Pilihan untuk Bahagia, dan kita berani belajar untuk bahagia, maka pilihan yang kita lakukan akan menghasilkan konsekwensinya yaitu &lt;strong&gt;"KEBAHAGIAAN".&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-8365725974769859670?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/8365725974769859670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=8365725974769859670&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/8365725974769859670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/8365725974769859670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/08/menjadi-bahagia.html' title='Menjadi Bahagia ?'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-214901357431325657</id><published>2008-08-29T22:01:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T22:03:14.999-07:00</updated><title type='text'>Comfort Zone, Why Not!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Comfort zone, ungkapan familiar ini acap kali saya dengar di sela-sela seminar motivasi.&lt;br /&gt;Dan anjurannya hampir semua sama &lt;strong&gt;“Tinggalkan Zona nyaman Anda!”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Mungkin kita semua setuju dengan anjuran itu, tapi beberapa hari yang lalu hati kecilku berkata lain, katanya “Untuk apa ditinggalkan Zona nyaman itu?” tanyanya. “Nikmati saja!” katanya lagi.&lt;br /&gt;Aku sempat marah, karena hati kecil ini berselisih paham denganku,ia seakan memungkiri sesuatu yang telah disepaki bersama, sesuatu yang juga saya jadikan sebagai panutan dalam melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku bertanya padanya, kenapa ia berkata demikian.&lt;br /&gt;“Tak ada yang salah ketika kita berada atau terlahir di Zona nyaman, zona nyaman bukan momok yang menakutkan, bahkan satu kesempatan baik untuk mensyukuri hidup ini.  Yang perlu kita lakukan hanyalah sesekali keluar mencari hal yang baru dan belajar darinya, sehingga kenyamanan tidak membuat otaknya menjadi enggan bekerja.” Jawabnya.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;“Zona kenyamanan adalah Anugerah, karenanya harus dimanfaatkan dengan baik, tidak semua orang bisa berada dalam zona nyaman”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya setuju dengan anjuran “Tinggalkan Comfort Zone  Anda” karena sering kali kita terhanyut oleh kenyamanan, sering kali kita terlena dalam kemanjaan.  Di area ini kedewasaan sering tertidur dengan nyenyak, dan kemajuan sekan berjalan di tempat.&lt;br /&gt;Dan atas nama “KEMAJUAN” saya setuju untuk meninggalkan comfort zone, karena akan membuat kita menjadi waspada, kokoh, kuat, dewasa dan BESAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cerita “katak rebus” selalu mengingatkan hal itu padaku.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Suatu ketika oleh ayahnya, Bravery dibawa mengelilingi kebun teh, melihat dari dekat kehidupan para buruh tani di sana.  Ada sesuatu yang menarik perhatian Bravery di sana.   Mereka baru saja menangkap 2 ekor katak besar.&lt;br /&gt;Ayah tiba-tiba mengajukan satu pertanyaan menarik padanya.&lt;br /&gt;“Jika kita masukan salah satu katak itu ke dalam baskom yang berisi air panas, kira-kira apa yang akan terjadi?”&lt;br /&gt;“Saya yakin katak itu akan sangat terkejut dan berusaha sekuat dirinya keluar dari air panas tersebut”&lt;br /&gt;“Bagaimana jika satunya lagi kita masukkan dalam baskom yang berisi air kolam itu dan perlahan-lahan kita panaskan air sampai mendidih?”&lt;br /&gt;Bravery terdiam sejenak, sepertinya kali ini ia menemukan jalan buntu untuk jawaban tersebut.&lt;br /&gt;“Jika katak itu kita masukkan dalam baskom berisi air kolam, dan perlahan kita panaskan airnya, katak tersebut akan merasa nyaman dalam baskom itu, dan ketika ia mulai digigit rasa panas dan nyadarinya, semua sudah terlambat, ia sudah tidak cukup tenaga untuk keluar dari baskom tersebut.”&lt;br /&gt;“Itulah yang akan terjadi pada kita jika terlena dalam kenyamanan, sementara kenyamanan tidak selamanya mau bersahabat dengan kita.” Ungkap sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa hari lalu, aku mendapati kalau hati keciku  punya opini lain,  sang hati kecil setuju kalau “Comfort Zone adalah anugerah, karenanya harus dimanfaatkan dengan baik, tidak semua orang bisa berada dalam zona nyaman itu”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hati kecilku berkata, “Untuk apa, kita selalu keluar dari Zona kenyamanan, apa sih tujuan hidup ini?&lt;/strong&gt; Apakah kita ingin selamanya selalu berjalan dalam “KETIDAK-NYAMANAN”, bukankah itu sungguh menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita “Seorang Yang NANTI akan menikmati hidupnya” sungguh mengejutkanku.&lt;br /&gt;Dikisahkan, ada seorang pemuda yang memiliki tekad besar untuk sukses, baginya hidup adalah perjuangan yang tiada henti, untuk bersenang-senang adalah hal yang tak pernah terpikir olehnya.&lt;br /&gt;Pada saat ia bekerja, ia tak pernah benar-benar menikmati hasil jerih payahnya, hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja, ketika hal itu dipertanyakan, ia mengatakan”Sekarang, bukan saatnya menikmati hidup, kerja keras dulu, saya harus berhasil menjadi manager dulu” katanya.&lt;br /&gt;Ketika ia telah menjadi menager, ia masih dengan argument yang sama “Sekarang, bukan saatnya untuk menikmati hidup, saya  harus menyiapkan dana untuk menikah nantinya”, ketika ia telah menikah, ia mengatakan bahwa ia harus menyiapkan biaya kelahiran anaknya, setelahnya ia harus menyiapkan pendidikan anaknya, lalu persiapkan pernikahan anaknya, lalu biaya usaha untuk anaknya dan seterusnya.&lt;br /&gt;Akhirnya, di pusaranya tertulis sebuah kalimat &lt;strong&gt;“Telah terbaring dengan damai seorang yang NANTI akan menikmati hidupnya”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat terhenyak, lalu kuajak hati kecilku berdiskusi, kami  akhirnya mengambil JALAN TENGAH&lt;br /&gt;Kami tahu, untuk berada di &lt;strong&gt;JALAN TENGAH&lt;/strong&gt; selalu dibutuhkan Kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Comfort Zone bukan untuk ditakuti, asal kita tidak terlena oleh kenyamanan, yang penting kita harus berani keluar dari lingkaran kenyaman itu jika diperlukan, bukan lari meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami sepakat untuk memakai istilah&lt;strong&gt; “EXPEND YOUR COMFORTABLE ZONE”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ya, kami lebih setuju untuk “Memperluas Zona Kenyamanan”&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-214901357431325657?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/214901357431325657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=214901357431325657&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/214901357431325657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/214901357431325657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/08/comfort-zone-why-not.html' title='Comfort Zone, Why Not!'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-6346770610041594907</id><published>2008-08-29T21:54:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T21:57:07.804-07:00</updated><title type='text'>Keberanian saja tidak CUKUP</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sudah cukup lama saya tidak melihat film-film silat, pada kebanyakan film silat tempo dulu, cerita itu biasanya diawali dengan kisah seorang tokoh anak muda yang tak punya keahlian kungfu sama sekali, teraniaya, lalu akhirnya tampil sebagai super hero.  Dalam prosesnya, kadang-kadang sang tokoh harus babak belur dihajar penjahat karena kemampuannya belum cukup mampu menandingi lawannya, setelah berguru dan berlatih keras ia  akhirnya menemukan ritmenya dan menang sebagai jagoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang lain, di sebuah tempat pelatihan kungfu ditemukan satu hal menakjubkan. Konon, para murid lulusan tempat tersebut punya kemampuan berjalan di atas air, menyeberangi sungai yang ada di sana. &lt;br /&gt;Seorang pemuda, karena keingintahuannya segera mendaftarkan diri menjadi salah satu murid di sana.  Awalnya, para murid baru ini dibawa ke tepi sungai melihat demonstrasi yang menakjubkan itu, lalu dilanjutkan dengan pelatihan yang memakan waktu 3 tahun lamanya dan akan dipilih satu orang yang akan mewarisi ilmu tersebut.&lt;br /&gt;Setelah melalui berbagai rintangan, sang pemuda itu berhasil menjadi MURID PILIHAN, ia akhirnya bergabung dengan komunitas barunya dan mulai mempelajari ilmu berjalan di atas air.&lt;br /&gt;Di hari pertama, sang pemuda itu terkagum-kagum melihat senior-seniornya melakukan atraksi tersebut, rasa ingin tahunya yang kuat membuatnya segera ingin mempraktekkan ilmu tersebut.&lt;br /&gt;Maka dengan antusias ia pun melangkah memasuki sungai tersebut, dan Byuuuuur! Tubuhnya basah kuyub, dan ia terhanyut cukup jauh di tengah derasnya air sungai.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Melihat hal itu, salah satu senior yang kasihan padanya berkata pada yang lain, “Apakah tak lebih baik kita katakan saja di mana letak batu-batu pijakan tersebut padanya?”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karena emosi, kadang-kadang kita tidak memperhitungkan kemampuan kita dalam melakukan sesuatu, keberanian yang membuta ini sering membuat kita celaka.  Seperti seorang murid kungfu yang belum mahir, apabila berhadapan dengan seorang AHLI kungfu, maka murid itu hanya akan menjadi bulan-bulanan sang ahli kungfu tersebut. &lt;br /&gt;Karena Ego, kita kadang-kadang terlalu memberanikan diri melakukan sesuatu tanpa pijakan yang jelas, sering kali kita harus terjatuh dan terhanyut cukup jauh karena keberanian yang tidak dibarengi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan nyata, Seorang sales kadang-kadang ingin segera melakukan aktivitasnya dalam menjual, ia ingin cepat-cepat melakukan “closing”.  Tanpa persiapan yang matang, tanpa pengetahuan yang cukup memadai, sering kali keberanian semacam itu hanya akan mendatangkan kekecewaan.&lt;br /&gt;Demikian juga dalam membuat “Goal Setting”, adalah baik jika goal setting dibuat sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;Tetapi “Goal” yang terlalu besar, yang tidak diukur dengan kemampuan, malah akan mendemotivasi kita, Goal yang tidak realistis cenderung akan membuat kita sakit dan kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju bahwa keberanian dalam usaha adalah penting, keberanian dalam mengambil RISK adalah salah satu faktor keberhasilan seorang pengusaha, tapi alangkah baiknya jika pengambilan keputusan yang berani itu dibarengi dengan data-data dan riset, sehingga menurunkan persentase resiko yang akan terjadi.&lt;br /&gt;Saya yakin seorang pengusaha sukses yang terkenal dengan &lt;strong&gt;Risk taker-nya&lt;/strong&gt;, tidak bermain hanya dengan keberaniannya saja.  Semua ada perhitungannya, ketika mereka menemukan formulanya dan yakin akan berhasil, mereka akan menjalaninya walaupun yang lain menganggap hal itu adalah hal yang GILA dan tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani adalah keharusan dalam mencapai kesuksesan.&lt;br /&gt;Tapi keberanian yang membuta sering membuat kita jatuh dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seng Guan CPLHI&lt;br /&gt;Regional Manager PT. Arthamas Konsulindo Medan&lt;br /&gt;PSDM Siddhi Medan&lt;br /&gt;sengguanjr@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-6346770610041594907?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/6346770610041594907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=6346770610041594907&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6346770610041594907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6346770610041594907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/08/keberanian-saja-tidak-cukup.html' title='Keberanian saja tidak CUKUP'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-7730132001447646744</id><published>2008-08-28T22:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-28T22:37:32.897-07:00</updated><title type='text'>Bodyguard Dunia</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pagi ini aku masih dapat melihat burung-burung kecil yang bersarang di dekat jendela rumahku,  kicauannya masih merdu terdengar, dan dari jendela yang sama itu masih terasa hangatnya cahaya matahari pagi yang merayap masuk ke dalam kamarku.  Dunia ini masih indah, anak-anak masih mengandeng tangannya ibunya, ayah masih mengecup manis kening sang istri, dan peluk hangat masih saja terasa dalam kehidupan ini, walau ia semakin langka.&lt;br /&gt;Setidaknya masih ada dan keindahan-keindahan ini bertahan sampai saat sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lalu timbul pertanyaan pada benakku, “Siapa yang melindungi keindahan dan keharmonisan ini?”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Waktu kecil aku berpikir, sang “Superman” yang melakukannya, sang superman yang menjaga keadilan, sang superman yang membasmi kejahatan, sang superman menetramkan kekacauan.&lt;br /&gt;Waktu pun berjalan, aku berpikir “Mungkin Sang superman semakin tua dan tak berdaya” karena keindahan itu  telah memudar dan berkurang, kekacauan bahkan sering bangkit merenggut kebahagiaan dunia ini. Walau demikian, aku masih optimis, dunia ini masih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, aku didatangi “Bodyguard dunia”, semula kukira “Sang Superman”, tapi ternyata  ia bukan sosok dari dunia fantasi, ia adalah teman bermain ku sejak kecil, sejak aku pertama kali berhadapan dalam pilihan baik dan buruk. Tepatnya aku sebut “mereka”, karena mereka adalah sepasang pelindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mereka adalah pasangan “Perasaan TAKUT dan MALU” melanggar sila (aturan), mereka lah sesungguhnya Bodyguard dari dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan apa yang terjadi jika kita tidak lagi TAKUT melanggar aturan yang ada, bayangkan apa yang akan terjadi  jika kita  tidak lagi takut akan konsekwensi dari pelanggaran tersebut.&lt;br /&gt;Maka penegak hukum di dunia dan akhirat tidak lagi berfungsi, orang akan seenaknya saja membunuh, mencuri, merampok atau kejahatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan pula apa yang akan terjadi jika kita tidak lagi MALU melanggar aturan yang ada, maka ramai-ramailah kita menceburkan diri dalam kenistaan, bahkan mungkin dengan bangga mempromosikan setiap pelanggaran yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, ada fenomena yang menunjukkan bahwa kedua bodyguard kita sedang sakit keras(untung belum sekarat atau sampai “wafat”), perang saudara, peningkatan kriminalitas, konflik SARA adalah gejala-gejalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lewati saja lampu merah itu, paling-paling kita ditilang, toh ada ‘orang’ yang bakal mengurusnya untuk kita nanti.” (Sang Takut sedang sakit) dan “Tadi pagi, saya baru berhasil membohongi guru tua itu, ternyata ia gampang dikerjai.” (Sang Malu juga sedang sakit)&lt;br /&gt;Kedua kalimat itu sering kita dengar dalam versi-versi  yang lain, itu bukti keterlibatan kita dan kita biarkan kedua bodyguard itu sakit tanpa diobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati !  Ketika  bodyguard “TAKUT dan MALU melanggar sila“ wafat, maka kiamat akan segera dimulai.&lt;br /&gt;Sesuatu Sederhana, tapi dampaknya mengerikan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kabar baiknya, kita masih ada waktu.&lt;br /&gt;Sesuai Hukum Aksi-Reaksi, Ketika kita menjaga mereka, mereka juga akan menjaga kita.&lt;br /&gt;Dan saat ini adalah waktu yang tepat memulainya, selagi masih bisa diobati.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-7730132001447646744?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/7730132001447646744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=7730132001447646744&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/7730132001447646744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/7730132001447646744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/08/bodyguard-dunia.html' title='Bodyguard Dunia'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-6687915181488300608</id><published>2008-08-28T22:27:00.000-07:00</published><updated>2008-08-28T22:28:56.698-07:00</updated><title type='text'>Dengkur Yang Indah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengkur adalah sesuatu yang menjengkelkan,  terlebih jika yang mendengkur itu bertubuh gemuk dan dalam keadaan lelah berat.  Suara dengkuran akan segera menemani malam panjang Anda, membuat Anda terus terjaga, mungkin hingga pagi.&lt;br /&gt;Saat itu, mungkin Anda berharap dapat membungkamnya, setidaknya menutup telinga Anda sendiri dalam-dalam agar suara yang sangat mengganggu itu tidak terdengar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengkur sesungguhnya cukup mengasyikan, setidaknya itulah yang dirasakan oleh mereka yang mendengkur, tidur yang begitu lelap.   Dan  bagiku, dengkur adalah suatu bencana menjelang tidur, tapi suatu ketika dengkur itu berubah menjadi anugerah, suatu keajaiban, suatu pengharapan, mungkin itu juga yang Anda akan rasakan jika mendengar &lt;strong&gt;Dengkur  Yang Indah.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Buddha adalah suatu gelar kesempurnaan, suatu ketika dengkurnya pernah kurasakan, sekali saja, tapi  sangat menyentuh dan membuatku tertidur lelap dalam rasa syukur yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, ketika Mama harus terbaring lemah di rumah sakit Pekan Baru beberapa tahun lalu, serangan kanker otak membuat beliau tanpa daya, dengan sisa kekuatannya beliau masih sempat bercerita tentang masa kecil kami. Di sampingnya, ada Papa yang masih teguh menemani, walau raut wajah tuanya sudah sangat kelelahan.  Sudah beberapa hari mereka tak dapat tidur, Mama mengeluh tentang sakit di kepalanya, sementara Papa meringis kesakitan, kata Mama “Papamu kena smack down Mama kemarin malam” &lt;br /&gt;Malam itu, kami bercerita panjang tentang segala hal yang masih dapat dikenang oleh memorinya yang kian rapuh digerogoti kanker jahat itu.  Setelah malam panjang yang melelahkan, sayup-sayup saya mendengar dengkuran yang begitu  indah, begitu menyejukkan.  Bukan satu, tapi dua dengkuran sekaligus, sahut menyahut.  Malam itu aku mendengar &lt;strong&gt;Dengkur Yang Indah.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Malam itu, aku memilih untuk menjadikan dengkur sebagai nyanyian yang indah, aku memilih untuk menikmatinya, aku memilih untuk mensyukurinya, karena kedua orang tua itu akhirnya dapat tertidur lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dengkuran tetaplah sebuah dengkuran, yang membuatnya menarik adalah pilihan yang kita lakukan, dan lebih menarik lagi adalah bahwa multiple choice yang ada jumlahnya tak terbatas, ratusan, ribuan  bahkan jutaan, tergantung kepada jumlah yang diinginkan pemilihnya.  Bahkan sang pemilih dapat ber-inovatif, berkreasi menetapkan pilihan-pilihan baru yang ia ciptakan sendiri.&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa, dengkuran sederhana itu mengambil berbagai peran hanya karena  keinginan Sang pemilih bukan karena sifat dasar dari dengkuran itu sendiri. Peran sebagai suara  yang sangat menjengkelkan atau  sebagai satu nyanyian  merdu menjelang tidur mutlak menjadi tanggung jawab sang pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang kita hanya perlu disadarkan dan diingatkan mengenai hal ini, seperti sebuah kisah Zen ini misalnya.&lt;br /&gt;Diceritakan, Seorang Ibu tua memiliki 2 orang anak, anak pertamanya berjualan jas hujan dan anak keduanya berjualan es krim,  sepanjang hari Ibu tua ini selalu menangis.&lt;br /&gt;Pada saat matahari sedang terik-teriknya, ia menangis. Ketika ia ditanya “mengapa?” ia mengatakan bahwa ia khawatir akan nasib anak pertamanya yang berjualan jas hujan, jualannya pasti tidak akan laku dalam cuaca seperti itu.&lt;br /&gt;Pada saat hujan pun ia menangis. Ketika ia ditanya “mengapa?” ia mengatakan bahwa ia khawatir akan nasib anak keduanya yang berjualan es krim, jualannya pasti tidak akan laku dalam cuaca seperti itu.&lt;br /&gt;Suatu saat ibu tua ini bertemu dengan “orang bijak”, ia mendapat bisikan darinya, dan sejak itu ia tersenyum sepanjang waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Apa yang dibisikannya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Pikirkanlah, bahwa pada musim kemarau anak kedua ibu akan mendapat banyak rezeki, es krimnya akan laku pada saat seperti itu, dan pada musim hujan anak pertama ibu juga akan mendapat rezeki banyak, jas hujannya akan laris manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah proses pembelajaran, dan pencerahan dapat kita dapatkan bahkan dari hal-hal yang sederhana seperti sebuah &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;“Dengkur”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-6687915181488300608?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/6687915181488300608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=6687915181488300608&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6687915181488300608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6687915181488300608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/08/dengkur-yang-indah.html' title='Dengkur Yang Indah'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-6904913655312321659</id><published>2008-08-28T22:20:00.000-07:00</published><updated>2008-08-28T22:23:19.861-07:00</updated><title type='text'>Four Gate of LOVE</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kita akan kembali bicara tentang Cinta,  kali ini tentang bagaimana Cinta itu harus dibagikan kepada yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, ada seorang anak yang bertanya kepada ibunya tentang Cinta (LOVE), bagaimana ia dapat membagikan cintanya pada orang-orang yang di sekitarnya, kepada ayah, ibu, saudara dan orang-orang yang dikasihi, kepada orang-orang yang tidak dikenalnya bahkan kepada orang yang menjengkelkan dan menyakiti hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ibu lalu membawa anaknya ke sebuah taman dan memintanya untuk melewati &lt;strong&gt;4 GERBANG CINTA&lt;/strong&gt; yang terletak di sana, maka dengan perasaan ingin tahu  si anak mulai menapaki gerbang itu satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Gerbang pertama bernama “Gate of Loving-Kindness”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Ketika Sang Anak mulai memasuki gerbang pertama, dirinya seakan dihadapkan pada kemunculan orang-orang yang dikasihinya, ada wajah sang ibu, ada wajah ayah, ada wajah opa dan oma, ada wajah saudara-saudaranya tercinta, ada wajah-wajah yang dikasihi.&lt;br /&gt;Lalu berikutnya ia melihat sebuah gambaran dari opa dan oma yang tersenyum sambil memeluk dirinya, di sampingnya ada papa dan mama yang saling berangkulan, lalu tampak juga si “doggy”, ajing kecilnya yang periang sedang mengoyangkan ekornya dengan lincah.&lt;br /&gt;Inilah wajah Cinta pada gerbang pertama, ketika cinta bertemu dengan orang-orang yang terkasih (bahkan pada binatang peliharaan kita sekalipun) cinta akan muncul dalam pelukan, dalam kehangatan yang menyejukkan, cinta akan berseri tanpa batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si anak keluar dari gebang pertama, ia langsung menghampiri ibunya dan memeluknya dengan mesra, itulah wajah cinta pada gerbang pertama, cinta yang tak terlukiskan dengan kata-kata pada orang-orang yang terkasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;Gerbang kedua bernama “Gate of Compassion”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika gerbang kedua terbuka, muncullah wajah pengemis yang biasanya mangkal di persimpangan jalan raya dekat rumahnya, lalu muncul anak-anak dengan wajah memeras sambil memegangi perutnya yang lapar, kemudian muncul lagi wajah korban-korban perang dan pertikaian beserta erangan mereka yang memilukan, tak ketinggalan juga raut wajah seekor kucing kecil yang berjalan tertatih-tatih setelah ditabrak sebuah mobil yang melaju dengan kencang.&lt;br /&gt;Lalu berikutnya ia melihat sebuah gambaran dari “Mother Teresa” yang dengan wajah welas asih membelai anak-anak kecil yang sedang dibalut luka, di sampingnya tampak seorang ibu yang memberikan makanan bagi kaum tak punya serta seorang anak kecil yang sedang membersihkan luka pada seekor anjing yang terluka.&lt;br /&gt;Inilah wajah Cinta pada gerbang kedua, ketika cinta bertemu dengan orang-orang yang dikasihani (termasuk juga pada binatang-binatang), cinta akan muncul dalam perasaan iba, cinta akan muncul dalam belas kasih, cinta akan muncul dalam sosok Mother Teresa yang menentramkan.&lt;br /&gt;Cinta akan muncul dalam uluran tangan yang indah, saling berbagi dengan sesama, melindungi, menganyomi dan menuntun mereka-mereka yang terluka oleh kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si anak keluar dari gerbang kedua, ia menghampiri seekor kucing yang terluka, digendongnya dan dibersihkan luka-lukanya serta disuapinnya, itulah wajah cinta pada gerbang kedua, cinta dalam bentuk BELAS KASIH tanpa batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Gerbang Ketiga bernama “Gate of Sympathetic Joy”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ketika gerbang ketiga terbuka, muncullah wajah Verrill, abang pertamanya yang baru mendapatkan gelar Sarjana lengkap, lalu senyum teman sekelasnya yang berhasil menjadi juara satu umum, berikutnya ia melihat tawa dan canda dari segerombolan anak-anak serta kicau riang burung di pohon dekat rumahnya.&lt;br /&gt;Berikutnya ia melihat sebuah gambaran dari dirinya yang tawa bersama teman-temannya, di tengah barisan itu berdiri  “Miracle”, teman sekelasnya yang berhasil menjadi juara kelas, lalu di sampingnya ada “Willy” yang sedang merayakan ulang tahunnya, kemudian di paling pojok ia tampak sedang mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bergembira bersama temannya yang mendapat sepeda baru.&lt;br /&gt;Inilah wajah Cinta pada gerbang ketiga, ketika cinta bertemu dengan orang-orang yang sedang bergembira (termasuk juga pada binatang-binatang tentunya), cinta akan muncul dalam perasaan gembira, ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain (bukan malah merasa iri).&lt;br /&gt;Cinta akan muncul dalam gandengan tangan, dalam tawa dan kegembiraan bersama di atas kebahagiaan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si anak keluar dari gerbang ketiga, ia menghampiri kakaknya yang sedang ulang tahun, ia lalu mengandeng tangan kakaknya dan bernyanyi bersama-sama, itulah wajah cinta pda gerbang ketiga, cinta dalam bentuk Ikut bergembira atas kegembiraan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;Gerbang keempat bernama “Gate of Equanimity”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ketika gerbang keempat berhasil dicapainya, ia melihat wajah orang-orang yang pernah menyakitinya, preman yang duduk di warung dekat rumahnya, guru yang pemarah, anjing yang galak dan wajah-wajah yang menjengkelkan.&lt;br /&gt;Lalu muncul gambaran seorang guru spiritual yang tanpa ekspresi, tidak ada wajah marah yang tampak ketika harus berhadapan orang-orang yang beringas, ada ketenangan di sana, walau wajah-wajah menjengkelkan berdiri di sampingnnya.&lt;br /&gt;Inilah wajah Cinta pada gerbang keempat, ketika cinta bertemu dengan orang-orang yang tidak disukai, yang menyakiti hati, cinta muncul dalam keseimbangn bathin, melihat semua ini sebagai bagian dari kehidupan yang tak terhindari, melihat hal ini sebagai pembelajaran hidup. (bukan malah membalasnya dengan amarah yang membakar)&lt;br /&gt;Cinta akan muncul dalam penerimaan dan maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si anak keluar dari gerbang keempat, si anak belajar memaafkan temannya yang telah menyakiti dirinya, itulah wajah cinta pada gerbang keempat, cinta dalam bentuk keseimbangan bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ketika kita telah memasuki keempat Gerbang Cinta itu, ada pesona yang dipancarkan dari diri kita, ada keagungan, ketulusan dan kewajaran yang berdiam dalam diri kita. Ada cinta yang siap kita semaikan pada dunia ini.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Salam Sukses Selalu&lt;br /&gt;Seng Guan CPLHI&lt;br /&gt;Regional Manager PT. Arthamas Konsulindo Medan&lt;br /&gt;PSDM Siddhi Medan&lt;br /&gt;sengguanjr@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-6904913655312321659?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/6904913655312321659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=6904913655312321659&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6904913655312321659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/6904913655312321659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/08/four-gate-of-love.html' title='Four Gate of LOVE'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3126727904791270760.post-3330446805118605457</id><published>2008-08-28T03:46:00.000-07:00</published><updated>2008-08-28T03:52:40.592-07:00</updated><title type='text'>Berdiri di Luar alur Cerita</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bayangkan, kali ini Anda adalah seorang Petugas Keamanan yang sedang memperhatikan gerak-gerik pengunjung sebuah pameran keramik bernilai jutaan dollar.  Melalui kamera pengintai, Anda mengamati sebuah kejadian menarik yang seterusnya akan menjadi bahan kajian kita kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah sudut pameran, yang pada saat itu jauh dari keramaian, ada seorang pemuda yang tengah melihat sebuah keramik berbentuk guci besar.    Awalnya ia hanya  sekedar mengamati, tapi keingintahuannya membuat ia melakukan lebih jauh lagi, ia mulai menyentuh guci tersebut (padahal telah tertulis dengan jelas di depan guci itu “JANGAN DISENTUH”), Semakin lama ia semakin ayik mengamati dan menyentuh setiap inchi dari guci besar itu, sampai akhirnya......&lt;br /&gt;Tanpa disengaja ia menyenggol guci itu, terjatuh dan pecah berantakan.  Di antara pecahan keramik tersebut secarik kertas putih tampil secara menyolok, di atasnya tertera USD 1.000.000. Ya, itulah harga yang telah melayang oleh kecerobohan pemuda itu.&lt;br /&gt;Sejenak ia terkejut, tapi hanya sesaat, lalu dengan tenang, sang pemuda mengeluarkan sebuah tabung kecil bertuliskan “LEM AJAIB” (di tabung kecil itu tertulis : lem ini akan melekat dengan sempurna tanpa cacat seperti baru, benda yang telah dilem akan kembali hancur apabila tersentuh setelah melewati 1 jam)  Lalu, sim sala bim, guci besar itu kembali dengan sempurna.  (Harap tidak ditanyakan di mana dapat dibeli lem jenis tersebut, karena penulis dengan otoritasnya, memungkinkan hal tersebut terjadi)&lt;br /&gt;Satu jam telah berlalu, pemuda tersebut masih dengan santai berkeliaran di arena pameran itu, sesekali mengamati hasil maha karyanya, lalu sesuatu terjadi lagi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Seorang Nenek tua tertangkap basah memecahkan sebuah guci besar senilai satu juga dollar, dan kali ini di tengah-tengah keramaian.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Sang Nenek dengan gemetaran diselingi isak tangis berkata “Saya hanya menyentuhnya, tiba-tiba pecah begitu saja.” (Lem ajaib sang pemuda ternyata sekerja sebagaimana mestinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali ke ruang kontrol, di mana Anda duduk di depan kamera pengintai dan mengamati peristiwa itu sampai detik terakhir.  &lt;strong&gt;APA YANG ANDA LAKUKAN?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan besar jawaban Anda akan seperti  kebanyakan teman-temanku yang lain, yang dengan lantang mengatakan “Saya akan segera turun ke ruang pameran, menjelaskan kejadian yang sebenarnya, dan menangkap pemuda itu dengan menggunakan rekaman kamera pengintai sebagai buktinya.  Karena pada dasarnya nenek tersebut tidak bersalah, pemuda itu yang memecahkannya” (mungkin saja nenek itu yang akan memecahkannya kalau tidak dipecahkan terlebih dahulu oleh pemuda tersebut) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ya, itulah yang seharusnya kita lakukan, membela keadilan dan kebenaran.  Itulah yang diajari guru-guru agung kita.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak seru seandainya cerita ini hanya berhenti sampai di sini saja, sekarang mari kita ganti perannya, Kali ini sang nenek malang itu ternyata nenek Anda,  Apa Yang Anda Lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin bak orang edan, berlari sekencang-kencangnya, turun ke ruang pameran, membela nenek Anda mati-matian, dan kalau perlu menghajar sang pemuda itu sampai mengaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ya, itulah yang seharusnya kita lakukan, membela keadilan dan kebenaran. Hanya kali ini Anda jauh lebih antusias. Apalagi itu nenek Anda, jelas harus dibela&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita membuat permainan ini menjadi lebih menarik lagi dan lebih menantang.&lt;br /&gt;Kali ini Anda menyaksikan Saudara Anda sendiri  atau Anda sendiri yang berperan sebagai pemuda nakal itu, dan sang nenek itu hanyalah korban yang berada di waktu dan tempat yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda masih dapat bertindak seperti dua contoh situasi di awal?&lt;br /&gt;Apakah Anda masih dengan antusias menceritakan kebenaran itu, atau sebaliknya?  Anda segera merusak rekaman kamera pengintai itu selama kejadian untuk menutupi jejak saudara Anda atau Anda sendiri.&lt;br /&gt;(Jika tampilan Sang nenek adalah seorang nenek kaya, Anda mungkin segera menjadikannya sebagai alasan membenarkan tindakan Anda ketika Opsi kedua diambil, bagaimana jika  sang nenek adalah seorang nenek yang miskin yang hanya ingin melihat-lihat saja? Di sanalah pertarungan kembali terjadi, apakah Anda masih setega itu?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya kita mengkaji dari bawah.&lt;br /&gt;Ketika kita melibatkan orang-orang kita dalam pengambilan keputusan, cenderung kita menjadi emosional dan tidak objektif.  Sering kali kita cenderung berada di pihak “kita”, bukan dalam pihak  yang benar. Dan kita akan mencari alasan-alasan yang mengizinkan  kita lakukan pembenaran atas keputusan kita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh pertama, ketika kita benar-benar berada di LUAR  alur cerita, kita dapat melihat lebih objektif, pada saat itu kita dapat berpihak pada kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;Dan Berikutnya, inilah tantangan terbesar dalam hidup kita, ketika KITA ikut terlibat di dalam alur cerita, masih dapatkah kita bertindak  seperti keadaan pertama, SEWAJARNYA.  Karena sesungguhnya “Walaupun seseorang dapat menaklukkan ribuan musuh dalam ribuan kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat kita masih dapat bertindak SEWAJARNYA ketika keputusan tersebut melibatkan KITA, saat itulah kita menjadi PEMENANG SEJATI. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3126727904791270760-3330446805118605457?l=sengguan-wisdom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/feeds/3330446805118605457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3126727904791270760&amp;postID=3330446805118605457&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3330446805118605457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3126727904791270760/posts/default/3330446805118605457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sengguan-wisdom.blogspot.com/2008/08/berdiri-di-luar-alur-cerita.html' title='Berdiri di Luar alur Cerita'/><author><name>Seng Guan CPLHI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11971825620263455548</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_y21tl27MYWQ/SLaE4trkOMI/AAAAAAAAABg/G7LlAbJgTic/S220/myPhoto2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
